Posts

THE TWIN'S DREAM (Part 3) : Alvin, Tersenyumlah

3. Alvin, Tersenyumlah (Terkadang saat sedih merupakan suatu yang mustahil untuk tersenyum, tetapi cobalah tersenyum, sedih akan luntur dengan sendirinya) Setelah memberi makan babi pagi itu, Alvin segera bersiap untuk sekolah. Dengan terburu-buru ia segera ke rumah kami untuk berangkat sekolah bersama. Rumahnya lebih jauh dari rumah kami, letaknya setelah lapangan dan belokan desa. Ia mengajak kami cepat-cepat untuk segera berangkat sekolah karena kami hampir terlambat. Kemarin, Alvin berjanji akan berangkat bersama. Alvin sempat meminta maaf, karena ia tahu bahwa kami menunggu cukup lama.   Kami setengah berlari pagi itu, tak sempat aku menikmati perjalanan pagi itu. Mentari kala itu juga sudah cukup tinggi. Biasanya saat berangkat ke sekolah, kami selalu ditemani kabut tipis dan mentari masih malu bersembunyi. Bagiku tak apa, yang penting adalah pagi itu kami tak terlambat sekolah.

THE TWIN'S DREAM (Part 2) : Sebuah Pilihan

2. Sebuah Pilihan (Pilihanmu saat ini suatu harpanmu saat nanti. Jangan sampai salah pilih) Langit luas tampak mendung, warna abu-abu terlihat jelas menggantung di langit. Itu tandanya pagi itu akan segera turun hujan. Rintik air hujan pun terasa mulai turun terasa membasahi rambutku. Bergegas aku dan Toni serta teman lainnya berlarian, mencoba berteduh di ujung atap SDK Paka, yang berada tepat di depan sekolahku. Untung saja sekolahku sudah dekat, sehingga aku tak harus kehujanan dan basah-basahan sampai sekolah. Pagi-pagi begini sudah hujan deras, tapi bagaimanapun juga hujan merupakan rejeki yang harus disyukuri. Jika tanpa hujan pasti tanaman akan kering, apalagi sawah keluarga kami baru saja tanam bibit. Tak lama hujan sudah mulai reda, dan kami semua berlari masuk sekolah karena gerbang sekolah terlihat akan ditutup. Sepatu kami yang tebal karena tanah basah, mengharuskan kami untuk melepas sepatu dan membersihkannya sambil menunggu guru. Kami juga membersihkan kelas,...

THE TWIN'S DREAM (Part 1) : Inilah Aku

1.       Inilah Aku (Yang mampu merubahmu adalah dirimu sendiri) Udara pagi ini begitu menggigit tulangku. Kurapikan kerah seragamku, dan kupakai sepatuku untuk bersiap bersekolah. Setelah beres, kusempatkan untuk sarapan. Jika Mama tak sempat memasak lauk seperti pagi itu, kami hanya makan nasi kosong, di dalam piring hanya ada nasi putih saja. Untuk kebanyakan orang tua, adalah sesuatu yang dilarang, tetapi bagi kami ini merupakan hal yang biasa, namun apapun itu harus ku syukuri. Bahkan jika musim paceklik, sarapan sering kami lewatkan hingga makan siang tiba.

THE TWIN'S DREAM

 Sebuah novel yang berhasil saya tulis. Sebuah novel yang berisi impian sederhana dan keinginan meraih cita-cita. Selamat membaca.... :) THE TWIN’S DREAM Impian si Kembar Sebuah Novel Bagas Satriawan

a short story in Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Kamu Hebat Nana* Aku mengenalnya sebagai Servas, begitu nama panggilannya. Anak yang bernama lengkap Servarius Sadam merupakan muridku di sini, di Tanah Flores. Anak berumur 14 tahun itu, sebelumnya aku tidak terlalu mengenalnya, karena sifatnya yang pendiam. Di dalam kelas saat pelajaran B ahasa Indonesia, dia cukup pintar. Dalam ujian tidak pernah ia mengikuti ujian remedial. Hingga suatu saat aku mengenalnya lebih jauh. Sore ini aku ke sekolah seperti biasa. Sekolah ini selalu mengadakan ekstrakuler olahraga pada setiap senin sore. Sebelumnya kegiatan ini hanya diikuti kelas delapan. Karena kelas tujuh sudah bisa masuk pagi, maka kegiatan ini bisa diikuti kelas tujuh. Bersemangat itulah yang terlihat di wajah mereka. Hampir semua berangkat ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ini. Semua diwajibkan memilih satu dari cabang olahraga, ada voly, takraw, sepak bola dan badminton. Aku sendiri yang telah ditunjuk sekolah untuk menjadi pembimbing badminton sangat bahagia, ketika ada...