THE TWIN'S DREAM (Part 2) : Sebuah Pilihan
2. Sebuah Pilihan
(Pilihanmu
saat ini suatu harpanmu saat nanti. Jangan sampai salah pilih)
Langit luas tampak mendung, warna
abu-abu terlihat jelas menggantung di langit. Itu tandanya pagi itu akan segera
turun hujan. Rintik air hujan pun terasa mulai turun terasa membasahi rambutku.
Bergegas aku dan Toni serta teman lainnya berlarian, mencoba berteduh di ujung
atap SDK Paka, yang berada tepat di depan sekolahku. Untung saja sekolahku sudah
dekat, sehingga aku tak harus kehujanan dan basah-basahan sampai sekolah.
Pagi-pagi begini sudah hujan deras, tapi bagaimanapun juga hujan merupakan
rejeki yang harus disyukuri. Jika tanpa hujan pasti tanaman akan kering,
apalagi sawah keluarga kami baru saja tanam bibit.
Tak lama hujan sudah mulai reda, dan
kami semua berlari masuk sekolah karena gerbang sekolah terlihat akan ditutup. Sepatu
kami yang tebal karena tanah basah, mengharuskan kami untuk melepas sepatu dan
membersihkannya sambil menunggu guru. Kami juga membersihkan kelas, agar kelas terlihat bersih. Sampai terdengar
lonceng yang berdenting keras, yang mengharuskan kami untuk segera duduk dan
menunggu pelajaran.
Pelajaran bahasa Indonesia pagi ini
membuatku bertanya-tanya. Setelah salam, Pak Satria tak langsung memberikan
pelajaran dan tak membawa tumpukan buku lagi seperti biasanya, tetapi ia membawa
kertas berwarna beserta potongan kertas kecil. Sampai ia mengatakan bahwa pagi
itu ia tak memberikan pelajaran. Aku memperhatikannya lekat-lekat, seperti apa
yang diinginkan Pak Satria dengan kertas ini. Tidak tahu apa yang beliau
inginkan. Wajah-wajah bingung lantas terukir tajam di wajah teman- temanku.
Kerutan- kerutan di dahi mereka seolah menjelaskannya. Kami juga saling
bertanya dan menebak, barangkali ada yang tahu apa yang dilakukan Pak Satria. Setelah
itu ia memberikan sebuah kertas kecil itu kepada teman satu kelas termasuk aku.
Jawaban atas rasa penasaran kami telah terjawab,
ternyata ia menyuruh untuk merenungkan sesuatu, yaitu tentang sebuah cita-cita
dan menyuruh kami untuk menuliskannya ke dalam kertas yang telah ada di tangan
kami.
Sebelum mempersilahkan kami menulis
cita-cita, kami diminta untuk merenung, dengan kepala yang menunduk dan
mendengarkan sebuah cerita. Ia bercerita tentang kisah seseorang yang cacat.
Orang itu sejak kecil terlahir tak mempunyai tangan. Sempat ia merasa tak
percaya diri dengan keadaannya, apalagi teman-temannya selalu mengejeknya
dengan sebutan “si buntung” dan menghina bahwa ia tak bisa melakukan apa-apa.
Sempat orang itu merasa sedih dan
tertekan, tetapi cita-cita dan segala hinaan yang ia terima
membuatnya bangkit dan membuatnya tak pernah putus asa. Pernah ia menghujat Tuhan dan bertanya
mengapa ia diciptakan dengan segala kekurangan. Seiring ia sadar bahwa Tuhan
tak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan. Ia paham bahwa setiap
kekurangan pasti ada kelebihan. Baginya kelebihan bukan hanya kelengkapan
anggota tubuh, tetapi semangat yang ia miliki adalah sebuah kelebihan. Ia yakin
bahwa mungkin orang yang memiliki tubuh lengkap tak memiliki semangat yang
sama, yang mungkin akan menghalangi sebuah kesuksesan. Semenjak ia mampu
bangkit, semangatnya membara dan
membuatnya tak gentar untuk menjadi pelukis. Walau ia melukis dengan
menggunakan kakinya, ia tak menyerah berlatih untuk melukis.
Sampai suatu saat impiannya terwujud. Ia
mampu melukis lukisan yang sangat bagus. Bahkan lukisannya mampu dihargai
dengan uang miliaran. Lukisannya tersusun dari paduan warna yang bercampur
rapi, yang membuat lukisannya tampak hidup yang membuat siapapun yang
melihatnya tercengang kagum. Para penikmat lukisan pasti tidak percaya bahwa
yang menciptakan lukisan itu adalah manusia tak bertangan. Orang itu pun akhirnya
telah menjadi pelukis terkenal dan
mampu menunjukan bahwa yang dikatakan teman-temannya waktu dulu salah.
“Polisi”.
Cita-cita itu yang aku tulis, entah
kenapa aku ingin menjadi seorang polisi. Mungkin dalam benakku polisi itu
sebuah profesi yang membuatku bangga, memberi kenyamanan untuk masyarakat dari
orang-orang yang jahat. Itulah yang terlintas dalam pikiranku. Kata Pak Satria
hidup itu pilihan, pilihan untuk menjadi apa kita nanti jika kami sudah besar
nanti. Saat itu Toni menuliskan cita-citanya yaitu ingin menjadi TNI, Alvin
ingin menjadi guru begitu juga Leon. Berbeda dengan Wulan dan Lian mereka ingin
menjadi bidan. Begitu pula teman yang lainnya, ada yang ingin menjadi dokter,
pramugari, penyanyi. Bahkan dengan bangganya si Dosen ingin menjadi dosen
seperti namanya.
Sebelum beliau menyuruh kami menempelkan
potongan kertas warna
tadi dalam sebuah
kertas besar, ia juga menceritakan bagaimana bisa ia
menjadi guru. Aku sontak memajukan kursiku, agar aku bisa
mendengarkannya lebih jelas. Katanya, dulu ia adalah seorang yang pemalu, untuk
berbicara dengan orang lain saja membuatnya gugup. Dengan menjadi guru selain
menambah kepercayaan dirinya. Beliau juga sangat bahagia ketika dapat
menyampaikan ilmu dan menjadi orang tua serta kakak untuk kami. Beliau juga
memberikan semangat kepada kami, bahwa cita-cita yang telah kami tulis ini,
harus terwujud suatu saat nanti. Dengan yakin dan percaya aku paling kencang
menyerukan, bahwa aku bisa.
“Bisa pak!”.
Pelajaran pun selesai. Setelah Pak Satria
berlalu keluar kelas, Ari temanku yang paling nakal, entah mengapa
menggangguku. Tubuhnya yang tinggi besar sempat membuatku gentar. Sambil
memukul kecil kepalaku, dia menghinaku.
“Anak desa seperti kita, jangan terlalu
banyak bermimpi. Anak seperti kamu paling cuma bisa jadi kuli, seperti papamu!hahahah”.
Sontak Toni menarik baju Ari. Alvin dan
aku saat itu langsung melerai mereka berdua.
“Awas ya kamu’’. Ancam Toni sambil
berlalu.
Pantas saja Toni marah, karena sudah
menghina Papa kami. Ari memang anak yang nakal. Pernah ia dihukum Pak Satria
berdiri di depan kelas karena keributannya yang luar biasa. Pernah saat
pelajaran bahasa Indonesia ia berulah. Bukannya memperhatikan pelajaran ia
malah kesana kemari bercanda dengan Riko teman karibnya. Bagaimanapun juga Toni
tetap kakakku, walaupun kami sering bertengkar, ia selalu membelaku dan
membantu.
Duak duak duak!.
Suara rotan yang terantuk meja,
mengheningkan keadaan. Seketika aku merapikan tempat dudukku. Teman-temanku
juga merasa ketakutan, terbukti mereka menundukkan wajah mereka. Pak Klaus, adalah
guru yang paling galak menurutku, karena ia sering sekali memarahi kami. Saat
itu ia masuk ke kelas dengan raut muka yang masam. Matanya sangat tajam seolah
menatap tajam satu persatu kami. Untung saja Pak Klaus tidak melihat
pertengkaran antara Toni dan Ari tadi.
Semua hanya diam, mendengar Pak Klaus yang
sangat marah karena seluruh kelas terdengar sangat ramai. Itulah kelas kami
“kelas yang ramai” sebutan untuk kelas kami dari guru-guru kami. Biasanya, Pak
Klaus bisa sampai memukul kami semua, tetapi untung saja beliau tak begitu
marah. Seperti biasa, pelajaran PPKn yang ia ajar begitu membosankan, karena
Pak Klaus selalu marah, tapi bagaimanapun juga aku harus memperhatikan agar
nilaiku bagus.
****
Sela-sela istirahat kugunakan waktuku
untuk menulis puisi ini. Ini tugas dari Pak Satria. Kami disuruh untuk membuat
puisi tentang cita-cita kami masing-masing dan akan kami bacakan minggu depan.
Polisi
Aku ingin sepertimu
gagah tegap dan berani
Berjalan tanpa henti
memerangi kejahatan
Tak pernah gentar
memberi kenyamanaan
Aku ingin seperti pak
polisi
Belajar rajin untuk
menjadi sepertimu
Tanpa henti ku belajar,
belajar dan belajar
Untuk meraih mimpi
meraih cita-citaku
Menjadi polisi
Comments
Post a Comment