a short story in Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Indonesia


Kamu Hebat Nana*
Aku mengenalnya sebagai Servas, begitu nama panggilannya. Anak yang bernama lengkap Servarius Sadam merupakan muridku di sini, di Tanah Flores. Anak berumur 14 tahun itu, sebelumnya aku tidak terlalu mengenalnya, karena sifatnya yang pendiam. Di dalam kelas saat pelajaran Bahasa Indonesia, dia cukup pintar. Dalam ujian tidak pernah ia mengikuti ujian remedial. Hingga suatu saat aku mengenalnya lebih jauh.
Sore ini aku ke sekolah seperti biasa. Sekolah ini selalu mengadakan ekstrakuler olahraga pada setiap senin sore. Sebelumnya kegiatan ini hanya diikuti kelas delapan. Karena kelas tujuh sudah bisa masuk pagi, maka kegiatan ini bisa diikuti kelas tujuh. Bersemangat itulah yang terlihat di wajah mereka. Hampir semua berangkat ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ini. Semua diwajibkan memilih satu dari cabang olahraga, ada voly, takraw, sepak bola dan badminton. Aku sendiri yang telah ditunjuk sekolah untuk menjadi pembimbing badminton sangat bahagia, ketika ada lebih sepuluh anak yang minat di cabang olahraga ini. Badminton merupakan olahraga favoritku. Sejak sekolah menengah olahraga ini selalu kumainkan, entah itu dengan teman sejawat ataupun dengan keluarga. Pernah dulu aku mengikuti pelatihan setiap sore di gedung olahraga kecamatan. Walaupun tak pernah ikut lomba, kurang lebih aku paham untuk mendidik murid-muridku.
Matahari tampak sudah lelah di ujung barat. Mereka masih semangat memainkan olahraganya masing-masing. Ada yangbisa, ada pula yang masih belum tahu benar. Akupun melihat anak ini, anak yang selama empat bulan tak mengenalnya sekarang mulai tahu siapa dia. Anak yang tenyata pernah menjuarai lomba badminton saat masih SD ini membuatku bangga. Bagaimana tidak,dia bermain dengan menggunakan tangan kiri saat bermain.  Teringat pemain badminton kidal dari China, Lin Dan. Keringat bercucuran, matahari tampak semakin redup. Setelah mendengar pengumuman dari guru olahraga, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Seperti pesta olahraga tahunan,tahun ini juga ada turnamen bergengsi yang akan diadakan di akhir Maret ini. O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), kejuaraan ini merupakan seleksi beberapa cabang olahraga sampai skala nasional. Tentu saja sekolahku langsung mempersiapkannya untuk seleksi kecamatan. Langsung saja aku memilih Servas dan Yavin dari kelas delapan untuk tunggal putra dan putri. Berharap mereka menjadi juara.
Dua bulan lagi pertandingan itu akan digelar, persiapan demi persiapan dilakukan. Latihan intensif terus tiga kali seminggu. Bersama keempat guru lainnya aku melatih mereka dari berbagai macam cabang bakat mereka. Tampak wajah serius ketika para pelatih menuntut lebih fokus untuk berlatih. Dengan bahasa Manggarai, mereka tampak memarahi, yang aku sendiri hanya sekilas mengerti. Terkadang ada beberapa anak yang mulai malas datang berlatih karena capek. Memang tidak salah mereka capek,karena rumah mereka jauh dari sekolah dan harus jalan kaki. Seperti halnya Servas yang harus berjalan kurang lebih satu jam untuk bisa ke sekolah.
Sangat kasihan saat ia harus latihan seperti ini. Perasaan merasa bersalah terkadang muncul saat merasakan teriknya matahari siang ini. Rasa bingung, terlintas setelah mendengar bahwa Lin Dan-ku ingin mengundurkan diri dari kegiatan ini, padahal kurang seminggu lagi kejuaraan ini berlangsung.
“Aku harus mencari penggantinya”,
Ah, mengapa ia ingin mengundurkan diri?”
Temannya, tak ada yang sebagus dia”.
Beribu-ribu petanyaan timbul saataku mengetahui berita itu tadi pagi dari koordinator ekstra olahraga sekolahku. Mungkin rasa capek yang mendera atau ada alasan lain. Namun, setelah dibujuk ia mau tetap lanjut,namun ia tetap saja tidak rajin latihan.
Hari ini telah tiba saatnya ketigapuluh anak dari sekolahku berangkat. Dengan menggunakan otto bemo atau mobil kecil bak terbuka. Tepat pukul 8 pagi mereka harus ke pusat kecamatan dan harus mengikuti upacara pembukaan terlebih dahulu.  Dengan segala kekuatan mereka tampak yakin mereka mampu membawa piala kemenangan hari ini. Terikan ala yel-yel mengiringi perjalanan mereka. Mentari masih tampak malu menampakan sinarnya,namun senyum mereka tampak lebih bersinar pagi ini. Pertandinganpun dimulai. Aku yang menjadi pembimbing membimbing mereka. Dalam pertandingan kali ini jagoan putra dan putriku menang melawan SMP lain yang kuat. Begitu pula Servas dan Yavin dan mereka masuk semifinal mengalahkan ke 5 SMP lain.
Pertandingan yang diadakan selama 2 hari ini memang sangat menegangkan. Bagaimana tidak, setiap sekolah mengeluarkan jagoan-jagoan mereka agar bisa memboyong juara tahun ini. Hari kedua, dari sekolahku masih ada beberapa cabang yang lanjut ke babak selanjutnya, walaupun banyak yang gugur dari babak penyisihan mereka tetap semangat,menjadi supporter untuk teman-temannya. Aku teringat saat ada seorang Bapak setengah baya bercerita tentang servas. Ia bekerja sebagai satpam di kantor kecamatan. Awalnya aku tak tahu siapa dia. Saat menunggu upacara pembukaan, beliau bercerita kepadaku. Ia juga memintaku untuk jangan memarahi dia karena ia gampang terpuruk. Aku hanya sanggup mengiyakan dan saat itupun aku tahu tentang apa yang menyebabkan ia mengundurkan diri saat itu.
 Finalpun tiba. Sorak-sorai keberhasilan nampak merekah di wajah kami. Teman- teman yang menyalami dia seolah sebagai pembakar api semangat baginya. Walapun Yavin gagal, ia tetap kubanggakan. Final putra dimulai, agak terseok karena lawan yang besar gentar. Smash, lop permainan net, dropshot telah ia lakukan. Namun apa daya ia tetap kalah. Kecewa sempat terlintas, namun aku tetap bangga, karena aku dengar bahwa sang lawan tak menaati peraturan. Peserta lomba diharuskan tidak boleh berumur lebih dari 14 tahun dan secara otomatis juara dua lah yang mewakili kecamatan. Sempat merasa senang, perasaan kecewa muncul kembali saat terdengar sebuah tantangan dari SMP lain yang meminta kebijakan untuk tanding ulang. Kecewa, marah dengan panitia yang seolah tidak menaati skema pertandingan. Servas bertanding kembali, ini pertandingan terakhir untuk menentukan yang berhak ke Kabupaten.
Marah, saat itu aku merasa tidak ada keadilan. Skema yang dengan gampang dilanggar hanya ada sebuah permintaan dari SMP itu. Kulihatnya seperti orang yang tanpa daya.
Aku bangga denganmu Servas, kamu tetap juara,”. Saat itu aku menemuinya saat kami menunggu pertandingan cabang atletik dimulai.
Asi retang[1], Nana[2], kamu tetap juara,kamu hebat,
 Dengan memeras handuk keringat pemberianku ia tetap tersenyum,Nekarabo[3] Pa,”. “Tidak apa-apa,Nana, seyumlah.”. Sambil mengusap kepalanya aku pun berlalu.
Ada perasaan sedih ketika mengingatnya. Menyesal atau entah. Ia telah dikecewakan dua kali oleh pertandingan yang sama. Saat SD ia juga juara tetapi,ia tidak diutus ke Kabupaten yang entah apa sebabnya.
Hari-hari berlalu. Saat mengajar di kelasnya selalu terbesit pertandingan itu. Hari itu aku meminta murid-muridku untuk menuliskan cita-cita mereka ke dalam sebuah kertas. Hatiku tersentak saat ia menulis cita citanya. “Jadi Guru Penjas”. Aku melihat seolah tidak percaya. Sungguh bangga dengan anak sekecil itu, tak hanya satu kali ia dikecewakan oleh sebuah pertandingan, ia tetap berharap dan tidak kecewa dengan olahraga. Servas, Bapak bangga denganmu, Nana. Kamu menunjukkan pada bapak, bahwa harapan itu boleh terhalang oleh apapun.





[1] Jangan menangis
[2] Panggilan untuk anak laki-laki
[3] Jangan marah

Comments

Popular posts from this blog

Wirosari Gumregah (Wirosari Bangkit)

Bledug Kuwu Si Mud Volcano dan Cerita Si Dragon Baru Klinting

THE TWIN'S DREAM (Part 16): Keberhasilan