THE TWIN'S DREAM (Part 3) : Alvin, Tersenyumlah
3. Alvin,
Tersenyumlah
(Terkadang
saat sedih merupakan suatu yang mustahil untuk tersenyum, tetapi cobalah
tersenyum, sedih akan luntur dengan sendirinya)
Setelah memberi makan babi pagi itu, Alvin
segera bersiap untuk sekolah. Dengan terburu-buru ia segera ke rumah kami untuk
berangkat sekolah bersama. Rumahnya lebih jauh dari rumah kami, letaknya
setelah lapangan dan belokan desa. Ia mengajak kami cepat-cepat untuk segera
berangkat sekolah karena kami hampir terlambat. Kemarin, Alvin berjanji akan
berangkat bersama. Alvin sempat meminta maaf, karena ia tahu bahwa kami
menunggu cukup lama. Kami setengah
berlari pagi itu, tak sempat aku menikmati perjalanan pagi itu. Mentari kala
itu juga sudah cukup tinggi. Biasanya saat berangkat ke sekolah, kami selalu
ditemani kabut tipis dan mentari masih malu bersembunyi. Bagiku tak apa, yang
penting adalah pagi itu kami tak terlambat sekolah.
Sesampainya
di sekolah, segera menempati tempat duduk kami masing-masing, sesaat kemudian
lonceng masuk langsung terdengar. Jam pertama adalah matematika dan kami semua langsung
mendapat nilai matematika, hasil ujian kemarin. Hari ini Bu Sellin membagikan
nilai ujian harian. Suaranya yang jelas dan lantang, menjelaskan bahwa Bu Sellin
sedang dalam emosi yang tidak stabil. Sebelum membagi ujian, ia menjelaskan
lagi ujian yang kemarin. Aljabar dan bilangan prima kembali ia jelaskan cara
memecahkan rumusnya. Kemudian ia membagikan setumpuk kertas ujian kami. Ia
mengatakan bahwa nilai ujian kali ini tidak ada yang memuaskan.
Hanya nilai 7 yang paling baik di
kelasku. Sedangkan nilai yang paling buruk adalah nilai 2. Satu persatu pun
nilai dibagikan. Semua yang telah mendapatkan nilainya pasti langsung
menyembunyikan nilainya agar teman yang lain tidak tahu. Seperti halnya si Leon
yang mati-matian menyembunyikan nilainya saat direbut Wulan yang ingin tahu
nilainya, sampai kertas ujiannya terlihat lusuh tak berbentuk.
“Kalau nilai kalian masih seperti itu,
ibu tidak segan menulis nilai buruk di raport kalian nanti, besuk ujian ulang,
jangan sampai kalian mendapat nilai buruk lagi”.
Ucapan Bu Sellin seolah menampar kami. Aku
buka pelan-pelan nilaiku, aku bersyukur mendapat nilai 6. Tidak baik, juga tak
terlalu buruk, tetapi bagaimanapun juga aku harus mendapat nilai yang lebih
baik Seketika aku tertunduk berfikir keras
mana letak kesalahanku. Kuhitung berulang kali hasil jawabanku, tetapi masih
saja jawaban yang kutemukan masih saja salah dan salah. Sambil berlalu,
terlihat Bu Sellin sangat kecewa dengan nilai kami. Matematika memang sangat
sulit, tetapi kalau belajar tidak akan mendapat nilai jelek seperti ini. Betapa
kagetnya aku, saat mengetahui Alvin mendapatkan nilai 3. Wajahnya lesu
mengetahui nilainya, matanya pun berkaca-kaca, karena ia sangat bingung karena
takut jika Ayahnya marah saat mengetahui nilainya sangat jelek.
“Jangan menangis eh, cengeng ah”. Aku
menggodanya sambil menyenggol tubuhnya.
“Siapa yang menangis?’’. Tampak ia malu
dan memalingkan mukanya.
****
Aku masih terus menghibur Alvin, dan
memberinya semangat saat perjalanan pulang. Langkah kakinya lemah dan menyeret,
wajahnya tertunduk selama perjalanan. Bahkan tak seperti biasanya, ia tampak
lebih diam selama pelajaran hari ini. Hanya melamun penuh ketakutan. Ia hanya
tersenyum saat aku mencoba menggodanya
dan terus menggodanya.
Siang itu aku memutuskan tak langsung
pulang ke rumah, karena aku ingin bermain ke rumah Alvin. Sementara Toni
langsung pulang ke rumah, ia diajak Papa menjual beras hasil panen. Sesampainya
di rumah Alvin, kami disambut ayahnya Alvin: Om Paul. Om Paul tampak sedang
bersantai di ruang tamu dengan segelas kopi dan rokok yang sepertinya baru saja
ia hisap. Sementara tangan kirinya mengayunkan capingnya dan mengibaskan di
depan mukanya untuk menciptakan hawa sejuk. Setelah pulang dari kebun, kegiatan
seperti itulah yang selalu Om Paul lakukan untuk melepas lelah.
“Kevin, jangan lupa kasih makan babi e”.
Pinta Om Paul sambil menyeruput kopi
yang masih tampak mengepul. Menandakan kopi masih panas dan nikmat bila diminum
dalam keadaan seperti itu. Setelah meminta Alvin memberi makan babi, muncul
pertanyaan yang membuat Alvin terkejut. Pertanyaan yang sangat Alvin harap tak ingin terucap dari mulut papanya.
“Nilai ujian kamu sudah dibagikan kah?
Dapat nilai berapa?”.
Kevin tampak diam. Di hadapan papanya ia
hanya menundukkan kepala. Tubuhnya gemetar dan terpaku, tampak ia sangat gugup. Papanya yang bingung kemudian
bertanya kepadaku berapa nilaiku dan nilai Alvin. Aku tergagap, aku juga takut,
apalagi postur tubuh Om Paul yang tinggi besar dan wajah sangarnya dihiasi
kumis tebal yang seolah memenuhi atas bibirnya. Aku langsung saja menjawab
berapa nilaiku, aku juga bingung ketika aku harus mengucapkan nilai Alvin atau
tidak. Sampai ia memutuskan untuk menjawab sendiri.
“Dapat nilai tiga Pa”.
Jawab Alvin menyaut dengan nada yang
lemah. Sontak dimatikannya rokok di
tangan Om
Paul, padahal rokok yang ia hisap masih separuh. Ditariknya tangan Alvin dan hampir
saja Alvin dipukul oleh Om Paul kalau aku tak melerainya.
Aku mencoba menenangkannya. Untung saja
Om Paul tidak memukul Alvin. Seketika ia hanya memberikan petuah dan nasihat
dengan nada yang tinggi. Diambilnya kertas ulangan Alvin, diremasnya, dibuang
dan sambil berkata.
“Jangan buat malu Papa e, Papa kerja
capek kerja hanya untuk kamu Nak!!”.
Sambil berlalu Om Paul meninggalkan
rumah dengan motor bututnya dan pergi entah kemana. Terlihat sekali Om Paul
sangat kecewa dan menghilang di ujung jalan. Kulihat Alvin menangis, derai air
matanya seolah tak mau berhenti menuruni pipinya. Wajahnya sangat lusuh, seolah
kekecawan merenggut jiwanya dengan perasaan rasa bersalah atas nilainya yang
sangat jelek itu. Aku hanya bisa memintanya sabar dan berhenti menangis. Aku
ingat saat Alvin memberikan semangatnya bak motivator. Aku mencoba memberi
semangat sepertihalnya dulu ia lakukan kepadaku.
“Sudah Alvin, kamu pernah bilang kan ke
aku, bahwa pasti nilai kita akan lebih baik kan?. Asalkan kita mampu untuk
memperbaikinya”.
Aku mencoba menenangkannya. Lantas, ia
berjalan, melangkah menuju makam mamanya yang ada di depan rumahnya. Di situ ia
bersimpuh sambil mengusap air matanya. Tangannya membelai makam mamanya dari
ujung ke ujung.
Mama Alvin telah lama tiada, sudah
hampir tiga tahun Alvin ditinggalkan mamanya karena sakit parah. Kanker telah
merenggut nyawa mamanya. Saat itu ia masih kelas 5 SD. Saat itu ia sangat
terpukul, sampai-sampai ia tidak masuk sekolah sampai dua minggu. Ia pun sering
sekali bersedih, saat Alvin teringat pesan mamanya.
“Sekolah yang tinggi Nana, jaga adikmu”.
Dulu ia meronta dan menangis kencang
seolah tak mau kehilangan mamanya. tante dan papanya sampai kualahan memegang
Alvin saat sang Mama dimasukkan ke liang lahat. Sedangkan sang adik hanya
menangis di gendongan pamannya.
Saat sedih, Alvin pasti mengunjungi
makam mamanya, hanya untuk menceritakan masalah yang ia hadapi.
“Aku bodoh Ron, aku telah membuat kecewa
orang tuaku, pasti kalau Mama masih hidup, ia pasti juga sangat marah padaku”
kata Alvin.
“Terkadang semua itu butuh proses, pasti
kamu bisa mendapat nilai yang lebih baik, kamu harus buktikan pada Papamu,
bahwa kamu bisa”.
Aku hanya bisa menghiburnya. Terlihat
sunggingan senyum muncul di bibirnya. Aku harap ia tidak terlalu sedih karena
nilainya. Nampak ia sudah bisa tertawa, aku ingin dia mampu melupakan
masalahnya dan ia ingin membuktikan pada papanya. Sahabatku ini memang luar
biasa. Ia selalu mampu berjuang saat ia terpuruk.
****
Semenjak saat itu, ia belajar sangat
rajin. Satu jam belajar mungkin sudah tak cukup. Saat belajar IPS bersama, aku
cepat merasa bosan, tetapi ia masih saja berkutat dengan hafalan panjang
tentang sejarah Indonesia dan nama-nama pahlawan nasional. Ia juga tak mau
mempunyai pengalaman buruk dengan matematika, berlatih memecahkan soal
merupakan makanan renyah untuknya. Bahkan nilai tujuh adalah nilai terendah
yang ia dapatkan. Saat pelajaran pun ia tak lagi diam dan sekarang ia aktif
bertanya serta selalu menjawab pertanyaan. Hasilnya pun luar biasa, nilainya
terus meningkat. Ia juga menjadi buah bibir guru-guru. Kata guru-guru, Alvin
menunjukan prestasi yang luar biasa. Sejenak aku kagum saat melihatnya selalu
tunjuk jari untuk menjawab pertanyaan. Alvin sudah membuktikan bahwa ia tak
ingin membuat Papanya kecewa lagi. Aku ingin sekali sepertinya. Bersungguh-sungguh
memberbaiki kesalahannya.
Dia menoleh kepadaku dan tersenyum.
Comments
Post a Comment