Posts

Showing posts from May, 2016

Cepat Pulang, Cepat Kembali, Jangan Pergi Lagi

Image
Firasat__ Kemarin, kulihat awan membentuk wajahmu, desah angin meniupkan namamu, Tubuhku terpaku, Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu, Tabur bintang serupa kilau auramu Akupun sadari ku segera berlari ‘Cepat pulang” “cepat kembali” jangan pergi lagi, Firasat ku ingin kau tuk cepat “pulang”, “pulaang” Dan lihatlah sayang, hujan turun membasahi seolah ku berair mata. Dia menunggumu kembali, kembali seperti dahulu. Saat awan, bulan sabit dan tabur bintang begitu nyata terlukis di dirimu. Cepatlah kembali, agar hujan tak lagi menyembunyikan kesedihannya. Cepatlah pulang, cepatlah kembali, menjadi hujan yang menenangkan . Bukan air mata kesedihan tapi kebahagiaan.  

Seberapa Pantaskah Kau?

Image
Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu. Cukup indahkah dirimu untuk selalu ku nantikan. Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku. Mampukah kita bertahan di saat kita jauh... Seberapa hebat kau untuk ku banggakan. Cukup tangguhkah dirimu untuk selalu ku andalkan. Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang. Sanggupkah kau menyakinkan di saat aku bimbang. Celakanya. Hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu. Hanya kaulah yang benar-benar memahamiku. Kau pergi dan hilang ke mana pun kau suka. Celakanya. Hanya kaulah yang pantas untuk kubanggakan. Hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan. Di antara pedih aku slalu menantimu.

Apa Itu Cinta ??

Image
Apa yang disebut cinta?. Aku pernah mengucapkan satu kalimat “cinta itu tak harus cemburu, tetapi juga harus mengerti”. Secara logika itu memang benar, tetapi apakah logika itu berjalan, pada insan yang sedang dimabuk cinta?. Selalu ada tanda tanya dalam sebuah anugerah yang disebut cinta. Ada yang bilang cinta itu pembodohan, ada pula yang berkata cinta itu penyiksaan. Tetapi, apakah cinta itu bisa terus dirasa bila tak ada saling pengertian. Mungkin harus ada soal yang harus diselesaikan. Contohnya saja, ketika orang yang kau sebut kekasih pergi dengan teman, atau sahabatnya. Ketika logika tak mampu berfikir maka yang muncul ada rasa cemburu yang membabi buta, menyalahkan, menghakimi atau muncul rasa benci. Namun, adakalanya kedewasaan cinta merupakan penegah, obat atau sejenis penawar. Hatiku tergelitik, ketika mendengar rasa itu, mungkin ada yang bilang, “kalau tak cemburu tanda tak cinta”. Namun, sekali lagi aku bertanya, apakah hati itu siap menerima dan memahami apa itu kedew...

THE TWIN'S DREAM (Part 16): Keberhasilan

16.  Keberhasilan (Keberhasilan hanya untuk mereka yang berani memimpikan dan mewujudkannya, bukan hanya memimpikannya dan menjadikannya sebagai bunga tidur belaka.)             Halaman kos kami jadikan untuk melatih fisik kami. Satu minggu lagi kami akan siap. Bu Sumi hanya memandang kami, ia sempat tersenyum dan memberi semangat pada kami. Aku ingat papa dulu, yang memandang kami dari kejauhan dan tersenyum seolah memendam harapan besar pada kami.

THE TWIN'S DREAM (Part 15); Kami Bisa

15.  Kami Bisa (Pantang menyerah sepertihalnya membuka pintu dan tinggal memasukinya.) Waktu menunjukkan pukul 11. 15 malam. Lelah sekali hari ini, tetapi kami senang, karena kami mendapatkan gaji pertama kami. Uang yang cukup untuk makan kami selama satu bulan ke depan, yang penting kami tak merasa bosan dan selalu bergantung pada orang tua kami. kubuka pintu kamar, Toni mengikuti dari belakang dan langsung nyenyak dalam tidurnya. Sejenak kulihat HP, ku baca pesan singkat dari Mama.

THE TWIN'S DREAM (Part 14): Selamat Datang di Kota Semarang

14.  Selamat Datang di Kota Semarang (Ketika kau bersungguh-sungguh maka kau akan mendapat hasilnya.) Zainul memeluk kami. Ia berkata, dia akan bangga ketika suatu saat menjadi seseorang yang kami inginkan. Kota pahlawan memisahkan kami. Ia adalah seseorang yang sangat inspiratif, ia rela jauh dari keluarganya, hanya untuk kebutuhan keluarganya. Bahkan ia rela meninggalkan anaknya yang masih kecil, semuanya ia lakukan untuk anaknya dan untuk masa depan anaknya. Perjalanan masih satu hari, besuk pagi kami sampai. Tidak sabar kami segera menginjak tanah, karena selama tiga hari tiga malam kami terapung di lautan. Untung saja aku hanya mabuk darat, kalau mabuk laut bisa-bisa aku pingsan di kapal.

THE TWIN'S DREAM (Part 13): Perjalanan Panjang

13.   Perjalanan Panjang (Ketika kau menyerah untuk melangkah, maka tujuan di depan mata akan terasa tak sampai jua.) Kami siap dengan menenteng dua tas besar dan tas ransel yang kami gendong. Kami siap, di depan rumah, mereka siap melepas kami berdua. Kulihat wajah Mama yang sangat lesu. Ia bersandar pada bahu Kak Indra, lemas dan tak berdaya. Sebenarnya aku tak rela berpisah dengan mereka lagi dan lagi. Air mata mengucur deras di wajah Mama, aku menyekanya dan memeluknya erat. Papa memeluk Toni dan ia meminta Toni agar benar-benar menjaga aku. Walaupun ia khawatir, ia memberi kepercayaan penuh pada kami.

THE TWIN'S DREAM (Part 12): Pulang dan Pergi

12.  Pulang dan Pergi (Sesuatu yang terbaik pasti datang untuk mereka yang pantang menyerah.) Kedatangan Mama dan Papa dari Manado merupakan waktu yang sangat tepat. Lusa besuk kami menerima kelulusan SMA, kami optimis karena kami berdua berjuang mati-matian agar kami mendapat nilai yang memuaskan. Saat itu   kami mendengar kabar dari Om Agus bahwa semua keluargaku akan pulang. Bukan hanya Mama dan Papa, kak Astri dan Kak Indra rela mengambil cuti beberapa minggu untuk pulang kampung bertemu kami.

THE TWIN'S DREAM (Part 11) : Di antara Hujan

11. Di antara Hujan (Kerinduan itu seperti hujan yang menghujam bumi. Walaupun sakit tetapi selalu meninggalkan ketenangan dan kesejukan) Aku senang sekali melihat kebun tomat kami tumbuh dengan suburnya. Buahnya mulai memerah, ada beberapa petak. Biasanya setiap pohonnya ada 3-5 buah. Setiap panen tiba, pasti akan aku bawa ke pasar untuk kami jual. Kebetulan tomat-tomat itu sudah dipesan oleh Koh Along. Ia adalah seorang etnis China yang sukses sebagai penjual kios yang dekat dengan sekolahku di pusat kecamatan. Kata Koh Along ia memesan banyak karena akan berpesta. Aku mencoba untuk memanennya dan segera mengantarnya. Aku lantas mengambil karung, ku rasa satu karung cukup.

THE TWIN'S DREAM (Part 10): Amarah

10. Amarah (Ketika kau dikuasai amarah bersabarlah, maka saat itu kau seperti api yang diguyur hujan.) Tak terasa waktu begitu cepat. Kami sudah hampir lulus SMA. Tinggal beberapa bulan lagi Ujian Nasional tiba. Siang itu aku sangat bersyukur karena aku mendapat kabar kesuksesan kakak-kakaku. Kak Astri akan lulus kuliah kebidanan di kota Manado dan kak Indra juga telah bekerja di perkantoran elit di Jawa. Aku senang sekali mendengar kabar itu. Pelajaran saat SMA memang semakin sulit, Toni saja yang terkenal pintar saat SMP nilainya menurun drastis, apalagi aku, aku harus mati-matian membaca demi kelulusan ini.

THE TWIN'S DREAM (Part 9) : Sebuah Perpisahan

9. Sebuah Perpisahan (Perpisahan memang merupakan ujung dari pertemuan, tetapi di antaranya terdapat kisah yang akan dipersiapkan untuk pertemuan selanjutnya.) 22 Agustus 2012. Hari ini ruang kelas 9 A disulap dan ditata sedemikian rupa. Sebuah microphone telah dipasang untuk pembawa acara. Meja bertaplak, serta kursi yang ditata rapi. Pot-pot bunga juga diletakkan di pojok kanan dan kiri meja. Aku tahu benar mengapa para guru menata ruang kelas seperti itu. Hari itu mungkin adalah hari yang tidak kami inginkan.

THE TWIN'S DREAM (Part 8): Tentang Pak Satria

8. Tentang Pak Satria ( Ketika kau bersedih, cobalah tenang, lihat sekelilingmu. Kau akan menemukan obat dari sedihmu itu) Tidak terasa ini sudah bulan Mei. Langit Tadonunang, desaku masih saja menangis. Gemercik hujan bercampur nyanyian katak memecah kesenduan sore itu. Sudah satu minggu ini setiap sore pasti hujan. Kulihat Pak Satria baru saja pulang dari kota Ruteng, katanya di sana ada kegiatan. Setelah meneduhkan sepeda motornya dan melipat jas hujan, ia memanggil kami yang sedang sibuk membuat tikar.

THE TWIN'S DREAM (Part 7): Jangan Bersedih

7. Jangan Bersedih (Ketika kau menitihkan air mata, percayalah pasti ada tangan yang menghapusnya) Setelah kelulusan, Kak Astri bingung saat harus memilih harus bersekolah di mana. Teman sejawatnya ada yang melanjutkan sekolah di sini, ada pula yang yang rela terbang ke Jawa hanya dengan masuk ke sekolah SMK favorit. Seperti kebingunganku kala itu. Siang itu kami berdua diberi satu HP oleh Papa. Kata Papa HP ini untuk kami komunikasi. Aku juga bertanya-tanya untuk komunikasi dengan siapa?, sedangkan teman-temanku hanya sedikit sekali yang mempunyai HP, sekali pun punya pasti milik orang tuanya.

THE TWIN'S DREAM (Part 6): Untuk Kakak Astri

6. Untuk Kakak Astri (Doa adalah wujud kasih sayang yang tak terlihat oleh mata) Malam ini adalah pesta sekolah untuk Remi. Dia tetanggaku, dan merupakan kakak dari Eldis. Remi sudah akan lulus SMA, setelah lulus katanya ia akan melanjutkan kuliah di Jawa. Orang tua Remi juga berkeinginan agar anaknya kuliah di Jawa, karena di Jawa pendidikannya sangat bagus. Pesta sekolah merupakan suatu adat khas Manggarai, jika anak mereka yang akan menyelesaikan tugas sekolah menengah maupun kuliah pasti diadakan pesta. Dalam acara ini kami meminta rejeki dari masyarakat desa dan keluarga agar anak tersebut dapat melanjutkan tugasnya dalam mencari ilmu dapat berjalan lancar.

THE TWIN'S DREAM (Part 5) : Kekecewaan

5.  Kekecewaan (Kecewa itu harus seperti ranting yang menjatuhkan daun yang kering,   ia selalu memunculkan tunas daun baru di ranting yang sama) Sore ini aku ke sekolah seperti biasa. Sekolahku selalu mengadakan ekstrakurikuler olahraga pada setiap senin sore. Bersemangat, itulah yang terlihat di wajah kami. Hampir semua siswa berangkat ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ini. Semua diwajibkan memilih satu dari cabang olahraga yang ada yaitu voli, takraw, atletik dan badminton. Setiap siswa memiliki keahlian masing-masing, walaupun banyak yang tidak ahli, tetapi dengan modal semangat saja cukup membuat sore itu sungguh menyenangkan. Aku sendiri memilih olahraga takraw, Toni badminton dan Alvin memilih voli, sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.

THE TWIN'S DREAM (Part 4) : Semangat

4. Semangat (Semangat   sepertihalnya lentera dalam gelap. Ketika lentera itu menyala kau akan dapat memandang lebih jelas) Setelah ujian semester pertama, kami semua menerima rapot. Aku sangat beryukur saat kulihat rapotku lumayan bagus, walaupun semua nilai pelajaran rata-rata hanya mendapat nilai 7, hanya bahasa Indonesia dan agama Katolik yang mendapat nilai 85. Berbeda dengan Toni, hanya matematika yang tertulis angka 76 sedangkan yang lain di atas 80. Berapa pun nilai yang aku dapat, kata wali kelasku: Bu Imelda, kami harus bisa menambah nilai kami di semester berikutnya, karena menentukan naik atau tidaknya kami. Tidak puas dengan nilai yang aku dapatkan, aku harus mempertahankan dan   harus meningkatkannya    **** Liburan selama dua minggu di semester ini akan kami habiskan untuk membantu Papa dan Mama. Bulan ini sawah kami sudah saatnya panen. Saat panen, selalu mengharuskan kami berkutat dengan padi, menggilingnya dan menjualnya. Sabit, karung...