Cerita Ku (Menuju SMA Negeri 1 Cepu)

                  Berawal mempunyai teman dekat yang tinggal di Kecamatan ini. Takdirku seolah digiring untuk mengajar di SMA Negeri 1 Cepu. Bagaimana tidak kusebut takdir. Selama lebih dari empat bulan aku berjuang memperjelas keprofesionalanku menjadi pendidik yang sedikit pudar kala itu. Setelah terlepas kontrak dari pemerintah, aku mulai berpikir, mau jadi apa aku selepas PPG?. Memperjelas sertifikatku atau berputar arah menjadi apapun nanti. Aku bukan guru saat itu, semenjak lulus aku adalah seorang call center di perusahaan maskapai penerbangan yang besar di negeri ini. Kerenkah aku?. Mungkin secara sampul, akan terlihat hebat, namun lagi-lagi sejak kepulangan ke Pulau Jawa, jiwa pendidik seolah merantai jiwaku yang terus belajar menjadi "seorang pendidik".
                 Sempat putus asa, lebih dari 12 sekolah instasi yang telah kulamar, melangkahkan kakiku untuk sementara tak menjadi guru. Berawal keisenganku mencari di laman google, mencari apapun pekerjaan yang sekiranya membunuh waktu menjadi seorang pengangguran. Akhirnya, dua bulan berjuang dan tak berbuat apa-apa menjadikanku untuk rela menjadi "bukan guru" untuk sementara. berprofesi yang berbeda dan tidak biasa seperti ini sedikit banyak merampas jiwaku yang telah nyaman menjadi pendidik, apalagi menjadi call center semacam ini membutuh kemampuan menghitung yang cepat dan cara komunikasi yang lancar, sedangkan saya mengakui jika saya masih kurang dalam hal tersebut.
                 Harus profesionalkah aku?. Jawabku "mau tak mau harus mau". cenderung dipaksakan memang, namun bagaimana lagi, menjadi call center yang mumpuni harus saya pelajari. masa training kala itu sedikit banyak mengajari ku untuk menjadi manusia yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang andal. Melayani penumpang yang "semena-mena" atau harus belajar berkomunikasi yang harus terlihat bahagia walau hanya lewat pesawat telepon. Aku sangat berkesan, saat aku harus melayani penumpang dengan berbagai macam etnis, seperti etnis Batak, Ambon, Jawa,bahkan aku sempat menghadapi calon penumpang yang berasal dari Jepang. Sungguh mengesankan jika aku mampu mengerem kesabaran dengan berbagai permintaan yang di luar dugaan. Beruntungkah saya? Saya berkata saya beruntung, karena saya banyak belajar. berhitung jadi terbiasa, dan tentunya berkomunikasi yang menjadi modal penting nanti jika nanti saya menjadi guru yang sesungguhnya, entah kapan itu terjadi.
            Selama dua bulan belajar, saya seolah digiring menjadi guru lagi, setelah saya mencoba melenceng dari "jalan yang sesungguhnya". Panggilan mendadak lewat Whatsapp itu mengharuskanku untuk harus membeli tiket ke Kota Minyak di ujung Jawa Tengah. Stasiun Poncol menjadi kesaksianku sore itu, harus memesan tiket dengan harga termurah dan harus menyesuakan waktu agar sampai tempat waktu dan jadwal yang diberikan pak Kepala Sekoah. Tentu saja, aku harus memenuhi panggilan itu, barangkali nasibku beruntung. Tiket sudah didapat dan meluncurlah aku ke Cepu.

             Pagi yang belum teramat pagi, sinar mentari saja masih malu kala itu, aku sudah sibuk dengan layar hape dan menunggu ojek online membelah kota Semarang. Pekerjaanku aku tinggalkan sementara, biarlah gajiku terpotong sehari, "saya ingin jadi guru". gumamku kala itu. Dua jam sudah aku berteman dengan si besi panjang. Tibalah di sebuah kota kecil yang terkenal dengan minyaknya. kota yang lebih ramai dan maju daripada ibukota kabupatennya. Agak miris memang, karena di kota Cepu rata-rata berisi pendatang-pendatang yang bekerja di perusahan minyak yang terkenal. Aku datang memenuhi undangan dan berdoa agar keinginanku terkabul.
             "Aku menjadi guru?". Apakah aku diterima?. Masih tidak percaya, kala aku diwawancara oleh bapak ibu guru dan kepala sekolah, dengan lantang aku menjawab tentang semuanya. Bagaimana nanti jika diterima, sampai bagaimana yang akan saya rencanakan nanti jika menjadi bagian SMA. Sekolah ini sekolah mengajariku, dan mengajakku untuk berkarya. Ia seolah membujukku untuk semangat. Selamat datang Cepu dan selamat tinggal Semarang.




Comments

Popular posts from this blog

Wirosari Gumregah (Wirosari Bangkit)

Bledug Kuwu Si Mud Volcano dan Cerita Si Dragon Baru Klinting

THE TWIN'S DREAM (Part 16): Keberhasilan