THE TWIN'S DREAM (Part 16): Keberhasilan


16.  Keberhasilan
(Keberhasilan hanya untuk mereka yang berani memimpikan dan mewujudkannya, bukan hanya memimpikannya dan menjadikannya sebagai bunga tidur belaka.)

            Halaman kos kami jadikan untuk melatih fisik kami. Satu minggu lagi kami akan siap. Bu Sumi hanya memandang kami, ia sempat tersenyum dan memberi semangat pada kami. Aku ingat papa dulu, yang memandang kami dari kejauhan dan tersenyum seolah memendam harapan besar pada kami.
            “Ayo istirahat dulu, jangan terlalu capek”. Ajak Bu Sumi.
            Ia sangat mengerti kami dan khawatir bila kami terlalu lelah akan membuat kami sakit. Kami segera istirahat dan melepas lelah kami. Kami memang sudah tak bekerja lagi, aku memutuskan berhenti bekerja karena akan mempersiapkan semua.
“Kurang sedikit lagi, aku harus bisa”. Batinku.
****
            Tak sempat kami sarapan, Bu Sumi memberi kami roti. Kami segera berlari pagi itu. Tujuan kami adalah segera memberhentikan angkot agar kami tak terlambat. Sambil memakan roti, kami segera menuju ujung gang. Kami menunggu sambil kami mengabiskan roti yang masih kami kunyah.
            Angkot telah datang, dan siap membawa kami. Sudah sesak saja angkot ini, padahal jalanan masih terlihat sepi. Sepanjang perjalanan aku hanya terduduk, aku tinggal patuh pada Toni yang telah mengetahui alamat yang kami tuju. Toni telah tahu berkat bantuan Agung TNI yang ia kenal, bahkan Agung telah menjadi temannya yang melebarkan jalan kami. Selama menjadi tim SAR, Agung telah sekali mengajak Toni ke pangkalan TNI tempat kami tuju.
            Setengah jam berlalu, untung saja alamat yang kami tuju berada di jalan besar, sehingga kami tak harus repot-repot menjangkaunya. Kulihat ribuan pemuda yang bertebaran di sekelilingku. Aku yakin, mereka juga memiliki keinginan yang sama. Sejenak kami berpandangan dan melangkahkan kaki masuk. Kulihat pak polisi dan TNI yang duduk menunggu para pendaftar. Kami antri dan menyerahkan berkas-berkas syarat pendaftaran. Setelah mendaftar langsung saja kami menjalani berbagai rangkaian tes. Aku menunggu sendiri, karena Toni terpisah pendaftaran. Jantung berdetak kala itu, tes pertama yang akan dijalani adalah tes kesehatan: apakah aku sehat?. Sampai akhirnya namaku dipanggil, ada perasaan gugup kala itu dan aku mencoba santai dan optimis.  
****
            Senang sekali saat itu. Bagaimana dengan Toni?, belum sempat aku mencarinya, kami semua yang lolos langsung saja digiring menuju lapangan. Kami dipimpin oleh perwira polisi yang akan mengetes kami dalam tes fisik. Kami berbaris rapi, dan segera menuju lapangan. Kulihat satu peleton pendaftar TNI yang sudah berada di lapangan. Kusebarkan pandanganku, kucari sosok Toni yang barangkali terselip di antara mereka. Banyak sekali, sampai kulihat Toni yang berbaju merah terang kala itu, sehingga dapat dengan mudah kutemukan. Aku tersenyum, dan kembali fokus pada barisan.
            Setelah merapikan barisan, satu persatu kami di tes fisik kami. Lari, push up dan lain-lain telah kujalani. Aku sempat pesimis karena saat berlari tadi, aku sangat lambat. Aku lega karena giliranku telah selesai. Sambil menunggu dan beristirahat aku memperhatikan para pendaftar lain, mereka hebat-hebat dan kuat-kuat. Seketika aku berfikir, apakah aku di terima? Apakah Toni juga di terima?. Aku tetap bedoa dan selalu optimis, sambil kulayangkan jauh pleton barisan Toni yang dipimpin sepuluh TNI senior nan jauh di sana.
****
            Menunggu merupakan sesuatu yang membosankan. Apalagi kami dijemur habis-habisan di terik matahari yang menyengat. Kami sedang menunggu sebuah keputusan yang sangat ingin kami segera dengar. Setelah dua jam menunggu, mereka datang membawa kertas hasil uji tes fisik. TNI dan polisi-polisi senior itu langsung saja menuju ke pleton masing-masing. Mereka akan mengumumkan kami yang lolos dan akan melaksanakan pendidikan selama empat tahun.
Nama-nama telah mereka sebutkan satu persatu. Aku mulai bosan dan pesimis kala itu, karena namaku tak kunjung disebut. Aku mulai menunduk, apalagi ditambah teriakan kegembiraan dari pletonku maupun sayup kudengar pleton TNI dari kejauhan.
“Yulianus Ronialdo Gabu”.
Aku kelabakan, lamunanku pecah. Wajahku berubah bahagia, seolah tak percaya mendengar nama lengkapku disebut. Apakah aku mimpi?, aku sontak teriak dengan senangnya diiringi teman satu pleton yang bertepuk tangan.

**** 
Untuk hari ini ada 35 polisi yang akan menerima pendidikan selama empat tahun ke depan. Sedangkan teman seperjuangan yang gagal harus menelan pil pahit dan pulang dengan tangan kosong. Barisanku dibubarkan, kami yang lolos di minta untuk mendata ulang lagi kemudan memulai pendidikan minggu depan. Setelah beres, segera kucari sosok Toni, bagaimana dengan dia? Lolos atau tidak?. Kukelilingi pangkalan TNI itu, kuyakin ia menungguku di suatu tempat. Kucari setiap jengkal tempat itu, sampai kutemukan sosoknya berdiri membelakangiku. Toni berada di luar pangkalan TNI dan kemudian tertunduk lesu. Kuhampiri dia mencoba memastikan, dan menanyakan.
“Ton, bagaimana?”. Tanyaku.
Ia tak kunjung menjawab, saat itu ia memegang kertas yang ia lipat rapi. Aku tambah gusar dan mengira ia tak lolos. Apalagi wajahnya yang tak nampak ada kegembiraan yang terlintas sedikitpun. Hampir satu menit ia terdiam, sampai ia memberikan kertas yang ia pegang. Kucoba membaca ketas itu baik-baik. Dalam kertas itu terdapat sebuah pernyataan yang sama seperti yang kudapatkan. Seketika aku mendengar cekikikan Toni yang disambung oleh tawa lepasnya. Sontak aku menjitak kepalanya dan merengkuh pundaknya.
            Seolah merayakan keberhasilan, kami berlari menyusuri trotoar kota dan tak sadar kami  berkejaran sampai simpang lima kota. Kami sungguh bahagia, tak peduli dengan sesaknya kota, yang penuh dengan mobil yang berdesakan. Toni mengejarku sambil terengah bahagia.
“Ayo Pak TNI kejar aku!!!”.
“Siap pak polisi”
****
            Aku telah bekerja di POLRES Jawa Tengah, setelah selesai dengan kantor. Aku akan segera pulang ke kos. Sejenak ku pandangkan mataku pada kantorku. Aku tertawa pelan, inikah cita-citaku masa kecil?. Aku bisa menggunakan seragam coklat ini. Aku bangga, apalagi dengan Mama dan Papa ia sangat bahagia memiliki anak seperti kami. Aku tersenyum dan pulang. Toni pun juga sudah bekerja dan sudah berkeliling jawa Tengah, sekarang ia berada di kota Magelang karena ia ditugaskan ke sana selama satu minggu. Memang, kami masih tinggal dengan bu Sumi, walaupun selama empat tahun kami di asramakan, sesekali saat libur kami mengunjungi Bu Sumi.
            Aku pulang menunggu teman satu kantor yang kebetulan satu arah dengan rumah kos Bu Sumi. Aku masih tak percaya, aku sudah menjadi polisi. Selama perjalan aku melamun, sampai sesuatu merusak lamunanku. Aku melihat seseorang lelaki  dengan kumis tipis bertengger di atas bibirnya. Ia mengenakan kacamata dan berada di SMP Negeri di dekat kosku. Aku meminta temanku untuk berhenti sebentar, ia sempat kebingungan mengapa aku memberhentikannya. Kulekatkan pandanganku pada sosok itu, aku tersenyum.
Sesampainya di kos aku mengubungi Toni dan memintanya untuk segera ke Semarang. Aku memintanya untuk segera ke Semarang karena ada seseorang yang harus kami temui. Suaranya terdengar kaget dari ujung telepon, ia penasaran dan ingin segera datang.
****
            “SMP Merdeka Semarang”. SMP ini sangat mewah, kami lihat sejenak sekeliling sekolah ini, kami lihat para siswa sedang berlarian menuju kelas karena bel masuk telah berbunyi, hingga aku memanggil seorang siswa untuk memanggil seseorang. Siswa itu berlari dan memanggil seorang yang kami minta. Kami tunggu di koridor sekolah ini, aku duduk di kursi sedangkan Toni berdiri bersandar di tembok yang berada di sampingku. Sejenak aku lihat orang itu berjalan mendekati kami. Dari jauh ia melihat kami gugup, mungkin dalam fikirannya ia menyangka, dihampiri oleh polisi dan TNI di tempat ia mengajar. Aku berdiri dan Toni pun beranjak dari sandarannya, kami berhasil menemuinya, benar saja guru itu adalah dia: Pak Satria. Ia menanyakan siapa kami dan maksud mencarinya. Ia gugup, terdengar suaranya yang sedikit terbata.
            Ia tak mengenali kami, kami memahami karena kami sudah berubah tak seperti sembilan tahun yang lalu. Ia mencoba mencari identitas kami yang biasa tertulis di dada kami, tetapi ia tak berhasil karena kami sengaja menutupnya. Sampai kami mengungkap siapa kami.
            “Kami TNI dan Polisi dongki Pak”.
            Dengan konyol kami mengingatkan hal yang sama seperti dulu. Pak Satria tersenyum, ia memeluk kami dengan bangga.
            “Kami berhasil pak”. Ungkap kami seraya menangis.
****   
 Pagi itu aku sempat tak percaya, seraya memandang foto kami dengan seragam kami masing-masing yang terpajang di dinding kamar. Aku tersenyum renyah, masih ingat aku menulis cita-citaku bersama teman satu kelasku dulu. Sekarang aku menjadi pelindung masyarakat yang aku cita-citakan: Polisi.

Comments

Popular posts from this blog

Wirosari Gumregah (Wirosari Bangkit)

Bledug Kuwu Si Mud Volcano dan Cerita Si Dragon Baru Klinting