Posts

THE TWIN'S DREAM (Part 7): Jangan Bersedih

7. Jangan Bersedih (Ketika kau menitihkan air mata, percayalah pasti ada tangan yang menghapusnya) Setelah kelulusan, Kak Astri bingung saat harus memilih harus bersekolah di mana. Teman sejawatnya ada yang melanjutkan sekolah di sini, ada pula yang yang rela terbang ke Jawa hanya dengan masuk ke sekolah SMK favorit. Seperti kebingunganku kala itu. Siang itu kami berdua diberi satu HP oleh Papa. Kata Papa HP ini untuk kami komunikasi. Aku juga bertanya-tanya untuk komunikasi dengan siapa?, sedangkan teman-temanku hanya sedikit sekali yang mempunyai HP, sekali pun punya pasti milik orang tuanya.

THE TWIN'S DREAM (Part 6): Untuk Kakak Astri

6. Untuk Kakak Astri (Doa adalah wujud kasih sayang yang tak terlihat oleh mata) Malam ini adalah pesta sekolah untuk Remi. Dia tetanggaku, dan merupakan kakak dari Eldis. Remi sudah akan lulus SMA, setelah lulus katanya ia akan melanjutkan kuliah di Jawa. Orang tua Remi juga berkeinginan agar anaknya kuliah di Jawa, karena di Jawa pendidikannya sangat bagus. Pesta sekolah merupakan suatu adat khas Manggarai, jika anak mereka yang akan menyelesaikan tugas sekolah menengah maupun kuliah pasti diadakan pesta. Dalam acara ini kami meminta rejeki dari masyarakat desa dan keluarga agar anak tersebut dapat melanjutkan tugasnya dalam mencari ilmu dapat berjalan lancar.

THE TWIN'S DREAM (Part 5) : Kekecewaan

5.  Kekecewaan (Kecewa itu harus seperti ranting yang menjatuhkan daun yang kering,   ia selalu memunculkan tunas daun baru di ranting yang sama) Sore ini aku ke sekolah seperti biasa. Sekolahku selalu mengadakan ekstrakurikuler olahraga pada setiap senin sore. Bersemangat, itulah yang terlihat di wajah kami. Hampir semua siswa berangkat ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ini. Semua diwajibkan memilih satu dari cabang olahraga yang ada yaitu voli, takraw, atletik dan badminton. Setiap siswa memiliki keahlian masing-masing, walaupun banyak yang tidak ahli, tetapi dengan modal semangat saja cukup membuat sore itu sungguh menyenangkan. Aku sendiri memilih olahraga takraw, Toni badminton dan Alvin memilih voli, sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.

THE TWIN'S DREAM (Part 4) : Semangat

4. Semangat (Semangat   sepertihalnya lentera dalam gelap. Ketika lentera itu menyala kau akan dapat memandang lebih jelas) Setelah ujian semester pertama, kami semua menerima rapot. Aku sangat beryukur saat kulihat rapotku lumayan bagus, walaupun semua nilai pelajaran rata-rata hanya mendapat nilai 7, hanya bahasa Indonesia dan agama Katolik yang mendapat nilai 85. Berbeda dengan Toni, hanya matematika yang tertulis angka 76 sedangkan yang lain di atas 80. Berapa pun nilai yang aku dapat, kata wali kelasku: Bu Imelda, kami harus bisa menambah nilai kami di semester berikutnya, karena menentukan naik atau tidaknya kami. Tidak puas dengan nilai yang aku dapatkan, aku harus mempertahankan dan   harus meningkatkannya    **** Liburan selama dua minggu di semester ini akan kami habiskan untuk membantu Papa dan Mama. Bulan ini sawah kami sudah saatnya panen. Saat panen, selalu mengharuskan kami berkutat dengan padi, menggilingnya dan menjualnya. Sabit, karung...

THE TWIN'S DREAM (Part 3) : Alvin, Tersenyumlah

3. Alvin, Tersenyumlah (Terkadang saat sedih merupakan suatu yang mustahil untuk tersenyum, tetapi cobalah tersenyum, sedih akan luntur dengan sendirinya) Setelah memberi makan babi pagi itu, Alvin segera bersiap untuk sekolah. Dengan terburu-buru ia segera ke rumah kami untuk berangkat sekolah bersama. Rumahnya lebih jauh dari rumah kami, letaknya setelah lapangan dan belokan desa. Ia mengajak kami cepat-cepat untuk segera berangkat sekolah karena kami hampir terlambat. Kemarin, Alvin berjanji akan berangkat bersama. Alvin sempat meminta maaf, karena ia tahu bahwa kami menunggu cukup lama.   Kami setengah berlari pagi itu, tak sempat aku menikmati perjalanan pagi itu. Mentari kala itu juga sudah cukup tinggi. Biasanya saat berangkat ke sekolah, kami selalu ditemani kabut tipis dan mentari masih malu bersembunyi. Bagiku tak apa, yang penting adalah pagi itu kami tak terlambat sekolah.

THE TWIN'S DREAM (Part 2) : Sebuah Pilihan

2. Sebuah Pilihan (Pilihanmu saat ini suatu harpanmu saat nanti. Jangan sampai salah pilih) Langit luas tampak mendung, warna abu-abu terlihat jelas menggantung di langit. Itu tandanya pagi itu akan segera turun hujan. Rintik air hujan pun terasa mulai turun terasa membasahi rambutku. Bergegas aku dan Toni serta teman lainnya berlarian, mencoba berteduh di ujung atap SDK Paka, yang berada tepat di depan sekolahku. Untung saja sekolahku sudah dekat, sehingga aku tak harus kehujanan dan basah-basahan sampai sekolah. Pagi-pagi begini sudah hujan deras, tapi bagaimanapun juga hujan merupakan rejeki yang harus disyukuri. Jika tanpa hujan pasti tanaman akan kering, apalagi sawah keluarga kami baru saja tanam bibit. Tak lama hujan sudah mulai reda, dan kami semua berlari masuk sekolah karena gerbang sekolah terlihat akan ditutup. Sepatu kami yang tebal karena tanah basah, mengharuskan kami untuk melepas sepatu dan membersihkannya sambil menunggu guru. Kami juga membersihkan kelas,...

THE TWIN'S DREAM (Part 1) : Inilah Aku

1.       Inilah Aku (Yang mampu merubahmu adalah dirimu sendiri) Udara pagi ini begitu menggigit tulangku. Kurapikan kerah seragamku, dan kupakai sepatuku untuk bersiap bersekolah. Setelah beres, kusempatkan untuk sarapan. Jika Mama tak sempat memasak lauk seperti pagi itu, kami hanya makan nasi kosong, di dalam piring hanya ada nasi putih saja. Untuk kebanyakan orang tua, adalah sesuatu yang dilarang, tetapi bagi kami ini merupakan hal yang biasa, namun apapun itu harus ku syukuri. Bahkan jika musim paceklik, sarapan sering kami lewatkan hingga makan siang tiba.

THE TWIN'S DREAM

 Sebuah novel yang berhasil saya tulis. Sebuah novel yang berisi impian sederhana dan keinginan meraih cita-cita. Selamat membaca.... :) THE TWIN’S DREAM Impian si Kembar Sebuah Novel Bagas Satriawan