THE TWIN'S DREAM (Part 6): Untuk Kakak Astri
6. Untuk
Kakak Astri
(Doa adalah
wujud kasih sayang yang tak terlihat oleh mata)
Malam ini adalah pesta sekolah untuk
Remi. Dia tetanggaku, dan merupakan kakak dari Eldis. Remi sudah akan lulus
SMA, setelah lulus katanya ia akan melanjutkan kuliah di Jawa. Orang tua Remi
juga berkeinginan agar anaknya kuliah di Jawa, karena di Jawa pendidikannya
sangat bagus. Pesta sekolah merupakan suatu adat khas Manggarai, jika anak
mereka yang akan menyelesaikan tugas sekolah menengah maupun kuliah pasti
diadakan pesta. Dalam acara ini kami meminta rejeki dari masyarakat desa dan
keluarga agar anak tersebut dapat melanjutkan tugasnya dalam mencari ilmu dapat
berjalan lancar.
. Dengan pakaian rapi, berkemeja
kotak-kotak serta bercelana jeans, aku dan Toni menuju tempat pesta itu. Rumah
Remi yang berada dekat lapangan, di sana telah dipasang tenda dan kursi-kursi
plastik yang terpasang rapi. Hampir satu lapangan penuh, tenda itu bertengger
untuk menunggu para undangan yang mulai berdatangan. Acara malam ini dimulai
diawali dengan doa malam yang dipimpin oleh Romo Fredy
Aku dan Toni dimintai tolong oleh
keluarga Remi untuk menjadi pramusaji untuk para undangan. Dengan berlagak
pelayan restoran, kami melayani para undangan saat santap malam tiba. Undangan
pesta kali ini sangat banyak, dari masyarakat, keluaraga, guru sampai
pejabat-pejabat elit. Terlihat Remi dan kedua orang tuannya menyalami undangan
yang berbaris rapi yang seolah tak ada putusnya. Sebenarnya aku sangat kasihan
melihatnya, setiap akan duduk untuk istirahat, mereka harus berdiri lagi
menyambut tamu.
Ramai sekali malam ini. Walau sempat
diguyur gerimis tak menyurutkan tamu undangan untuk mengikuti pesta. Setelah
makan malam, acara inti dimulai, musik dangdut pun diputar. Sontak anak-anak
muda desa tampak menyiapkan diri untuk bergoyang. Manggarai memang seperti itu,
saat ada pesta apapun, acara goyang tidak akan terlewatkan.
Suasana malam itu sangat menyenangkan,
seolah para undangan menikmati benar pesta malam itu. Dari musik dangdut, hip
hop sampai reggae pun dimainkan dengan goyangan-goyangan sesuai hentakan music,
seolah-olah mereka menyajikan pentas tari spektakuler di panggung megah.
Gerakan mereka seirama dan selaras, diiringi tawa yang membahana.
Selain itu para undangan juga bergantian
menunjukkan suara emas mereka. Aku paling suka saat seorang biduan menyanyikan
lagu khas Manggarai saat menyanyikan lagu romantis yang mengalun damai malam
itu yang berjudul Mata Leso ge[1].
Bukan hanya lagunya, suara sang biduan juga terdengar enak di telinga. Terbukti
saat ia melengkingkan suaranyasaat nada tinggi, membuat para tamu takjub dan
mengobati rasa kantuk yang mulai menghinggapi.
Tak terasa waktu menunjukkan hampir
tengah malam, aku dan Toni memutuskan untuk pulang saja. Pesta yang kami
tinggalkan masih tetap berlanjut, mungkin sampai jam dua malam baru selesai.
Mata kami sudah sangat berat dan rasa kantuk merayu kami untuk cepat-cepat
pulang dan ingin segera merebahkan badan, kemudian istirahat.
Sesampainya di rumah aku melihat lampu
ruang tamu masih tampak menyala dari luar rumah. Kubuka pintu, betapa kagetnya
aku saat melihat kak Astri tertidur di meja ruang tamu dengan buku yang
berserakan di sekelilingnya. Terlihat buku catatan IPA, dan matematika berada
di pangkuannya. Aku menduga bahwa sejak tadi sore saat kami berangkat ke pesta,
ia masih saja belajar hingga tengah malam ini. Toni sudah tak tahan dan
langsung saja menuju kamar untuk tidur.
“Rajin sekali kakak e. Aku toko[2]e Nana”.
Toni pamit masuk kamar. Melihat Kak Astri
seperti itu, kucoba merapikan buku-bukunya yang terserak. Pensil, rautan dan
bolpoin terlihat juga berantakan kesana kemari, serius sekali ia belajar.
Kulihat Kak Astri selama beberapa bulan ini sungguh-sungguh dan rajin belajar.
Ujian Nasional memaksanya untuk belajar giat demi kelulusannya. Tidak seperti
biasanya, jangankan belajar tekun sampai larut, untuk menyentuh buku saja ia
jarang.
Kuambil selimut tebal yang kuambil dari
tempat tidurku. Tak tega aku, jika aku membangunkannya. Biarkan ia tertidur,
karena kak Astri nampak sudah sangat nyenyak.
“Kak sukses ya UN nya, aku berdoa
untukmu, semoga kakak lulus dengan nilai yang baik”. Bisikku pada kak Astri.
Malam pun memaksaku untuk segera tidur
karena lelah sekali menjadi pelayan para tamu. Terdengar suara gerimis mengalun
dan turun semakin deras seolah memberikan alunan simponi kedamaian dan
ketenangan mengantar tidurku. Suara musik pesta pun masih sayup-sayup terdengar
dari kejauhan. Aku sudah sangat lelah aku ingin segera tidur dan masuk ke alam
mimpi.
****
Esok ini kak Astri sudah nampak sibuk,
hari ini ujian terakhir penentuan ia akan lulus SMP atau tidak. Wajahnya lusuh,
tiga hari belajar serius. Terlihat jelas kantung mata yang tergantung di bawah
matanya. Paras cantiknya seolah memudar dan pucat dengan rambut yang tak
tersisir rapi. Kasihan sekali Kak Astri, mungkin ia terlalu memaksakan
diri,tetapi selalu membuahkan harapan agar dapat membuahkan hasil yang
memuaskan, sesuai kerja kerasnya Setelah merapikan buku, ia pun berangkat.
Selama tiga hari ini yang berangkat
hanya kelas 9, sedangkan kami hanya belajar di rumah. Kulihat kak Astri dari
kejauhan sambil membawa buku tebal, aku berharap ia bisa mengerjakan dengan
lancar.
Kak Astri memang pintar, pada uji coba
ujian yang telah dilakukan beberapa kali menunjukkan bahwa nilainya cukup baik
dengan nilai yang di atas standart kelulusan tetapi, berapa pun nilainya ia
masih ketakukan jika ujian yang sesungguhnya ia malah mendapat nilai jelek.
Pelajaran matematika lah yang paling membuatnya takut, karena ia mendapat nilai
yang paling sedikit di antara pelajaran lainnya. Sama seperti aku, aku juga
sangat takut dengan hitung-hitungan dan rumus.
****
Satu bulan setelah ujian, hari ini
pengumuman kelulusan. Pagi itu Kak Astri tampak terburu-buru berangkat ke
sekolah. Bahkan sarapan pagi itu terkesan tak ia nikmati. Ia ingin segera tahu
berapa nilainya dan ingin segera tahu apakah ia lulus atau tidak. Ia berharap
berapa pun nilainya yang penting ia lulus, agar tidak mengecewakan Papa Mama.
Papa, Mama, aku dan Toni duduk menunggu
di ruang tamu. Wajah mereka tampak gugup menunggu berita dari Kak Astri. Papa
berjalan kesana-kemari menunjukan kebingungannya. Sedangan Mama tampak komat-kamit
membaca doa agar Kak Astri lulus. Ia juga tak henti-hentinya memandang jam
dinding yang terus berputar. Kak Astri yang ditunggu belum juga pulang sampai
hari beranjak siang. Sampai akhirnya dari kejauhan kak Astri datang dengan
menggenggam sebuah kertas yang ia gulung. Wajahnya tampak lusuh, sedih dan
terlihat sangat lelah. Muncul pertanyaan dalam benakku,
“Kak
Astri lulus atau tidak?”.
“Bagaimana Nak?”
Pertanyaanku dan Mama tak segera dijawab
oleh Kak Astri. Sampai-sampai Mama tampak lemas dan takut jika Kak Astri tak
lulus. “Mungkin kak Astri hanya lelah atau mungkin…?”. Batinku.
Aku mencoba berspekulasi dan berfikir
buruk,karena wajahnya menjelaskan yang tidak-tidak. Kak Astri meletakkan tasnya
di kursi ruang tamu. Sampai sepatah kata muncul dari mulutnya. Kata yang kami
tunggu pun terdengar.
“Aku lulus, Ma, Pa”.
Sontak Mama dan Papa memeluknya kemudian
kami pun juga. Ternyata, ia bercanda dan membuat kami tegang. Sungguh kami sangat
bahagia. Kami sekeluarga sangat bangga dengannya, karena berkat kerja kerasnya dalam
belajar selama ini, hasilnya pun sangat memuaskan. Kulihat kertas itu tertulis
kata “LULUS” yang tercetak tebal dengan nilai-nilai yang ada di bawahnya.
Semuanya mendapat nilai 8. Terimakasih Tuhan, doaku engkau kabulkan.
Comments
Post a Comment