THE TWIN'S DREAM (Part 7): Jangan Bersedih


7. Jangan Bersedih
(Ketika kau menitihkan air mata, percayalah pasti ada tangan yang menghapusnya)

Setelah kelulusan, Kak Astri bingung saat harus memilih harus bersekolah di mana. Teman sejawatnya ada yang melanjutkan sekolah di sini, ada pula yang yang rela terbang ke Jawa hanya dengan masuk ke sekolah SMK favorit. Seperti kebingunganku kala itu. Siang itu kami berdua diberi satu HP oleh Papa. Kata Papa HP ini untuk kami komunikasi. Aku juga bertanya-tanya untuk komunikasi dengan siapa?, sedangkan teman-temanku hanya sedikit sekali yang mempunyai HP, sekali pun punya pasti milik orang tuanya.

Kami yang menerima HP kecil ini pun bingung untuk mengoperasikannya. Antara senang dan bingung kami mencoba untuk menanyakannya pada Pak Satria. Kulihat ia sedang sibuk mengoperasikan laptopnya, kemungkinan besar ia sedang mengerjakan pekerjaan sekolah. Kami bingung masuk atau tidak, karena kami takut mengganggu.
“Hei kembar, kesini kalian”. Ajak Pak Satria.
Mungkin ia bingung melihat kami, karena kami hanya berdiri di depan pintu dan tak berani masuk. Kami memintanya membatu mengoperasikan HP baru milik kami. Dengan sabar ia memberitahu cara mengirim pesan, cara bertelepon dan lain-lain. Kami juga bertukar nomor HP barangkali kami bisa saling menghubungi suatu saat nanti, jika Pak Satria sudah pulang ke Jawa.
Saat kami sibuk dengan HP, Papaku memanggil Pak Satria. Pembicaraan mereka sangat serius, mereka membicarakan sesuatu yang terkesan rahasia. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku mencoba mendengarkan sebaik mungkin, tapi gagal, aku tak bisa mendengarnya. Sepertinya masalah yang serius, apalagi pembicaraan mereka sangat lama. Sampai pemberbicaraan itu selesai dan Pak Satria kembali pada kami.
“Papa, bilang apa Pak?”. Tanyaku.
“Tidak apa-apa, nanti malam kalian juga tahu”. Jawabnya.
“Bagaimana, sudah bisa menulis pesan kah?”. 
Pertanyaannya seolah mengalihkan perhatian tentang rasa penasaranku. Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aku sangat bingung apa yang Papa dan mencoba menebak-nebak dan menenangkan diri, pasti Papa mengajak Pak Satria untuk mengantarkan ke pantai untuk membeli ikan tongkol yang sedang musimnya, karena aku tahu motor Papa sedang rusak dan sedang menginap di bengkel. Aku hanya mengiyakan sambil kembali belajar mengoperasikan HP yang kurebut dari tangan Toni yang duduk di sampingku.
****
Senja pun tiba, setelah melaksanakan sholat Pak Satria diajak Papa minum kopi di rumah kami. Dengan kain sarung yang masih terlilit dipinggangnya ia pun datang ke rumah kami. Seperti biasa, kopi sore menjadi hidangan favorit ditemani dengan pisang goreng hangat buatan Mama. Obrolan sore itu berlangsung hangat, sampai Papa membuka pembicaraan yang cukup serius. Kami semua dikumpulkan di ruang tamu. Aku duduk di sebelah Toni, sedangkan Kak Astri, Mama, Papa dan Pak Satria berada di depan kami. Sebenarnya Papa juga mengajak keluarga Om Agus, tetapi mereka pergi ke Ruteng untuk menghadiri acara pernikahan anak dari kakak Tante Erina. Selama satu minggu mereka berada di sana.
Kami seolah tersidang sore itu, aku bertanya-tanya apakah kami membuat kesalahan?. Sampai muncul-lah sebuah pembicaraan yang membuat kami bersedih. Sungguh, kami tidak tahu harus senang, sedih atau bagaimana. Aku seketika terdiam, begitu pula Toni.
Papa, Mama dan Kak Astri memutuskan bahwa besuk mereka harus pergi ke Manado Sulawesi Utara. Mama dan Papa harus bekerja dan Kak Astri memutuskan untuk sekolah di sana. Entah mengapa mereka mengambil keputusan itu, kami harus menerima keputusan mereka. Aku seolah tertampar, sedetik setelah mendengar pertayataan Papa jantungku berdebar dan seolah berhenti berdetak. Pikiranku pun macam-macam. “Apakah kami bisa hidup tanpa keluarga?”
Aku baru menyadari mengapa Papa membelikan kami HP dan mengapa tadi siang Papa mengajak bicara Pak Satria, karena Papa menitipkan kami kepada Pak Satria sampai ia pulang ke Jawa. Aku dan Toni hanya tertunduk lemas, tubuhku gemetar dan mengiyakan semua nasihat Papa dan Mama. Walaupun dalam hati kami merasa sedih, kami harus bisa mandiri dan mampu mengerjakan semuanya sendiri. Aku merasa Toni juga merasakan hal yang sama “galau”. Terlihat wajahnya yang redup seperti pelita yang terkena angin dan hampir mati.

****
Hari ini tiba merupakan hari di mana dalam rumah ini hanya tinggal kami berdua. Aku semalaman masih merasa sedih dengan keputusan mereka. Aku sampai-sampai tak bisa tidur memikirkannya. Toni terlihat dengan mudah tidur, sedangkan aku hanya bisa membolak-balikan badanku ke kanan dan ke kiri sampai beberapa jam, sampai akhirnya tertidur. Aku berharapaku sedang bermimpi buruk dan nanti ketika aku bangun seperti tidak terjadi apa-apa.
 Kami tidak pernah menyalahkan mereka, karena ini semua demi kebaikan kami dan untuk sekolah kami. Dua kardus besar dan dua tas besar telah mereka bawa, di dalamnya berisi pakaian mereka dan segala kebutuhan mereka. Mereka benar-benar pergi.
“Sehat-sehat ya nak, jangan lupa menghubungi Mama Papa e”.
Nasihat Mama yang terlihat menitihkan air mata. Terlihat Papa hanya menaikkan barang-barang ke atas otto kayu[1] yang dibantu oleh Pak Satria. Setelah menaikkan barang, Papa memberikan nasihat yang panjang kepada kami. Setelah itu, kak Astri berkata pada kami.
 Asi[2] kador[3]e Nana”.
Ia mengusap rambut kami sambil menasihati kami agar kami tidak nakal. Mereka benar benar pergi meninggalkan kami. Berapa pun banyak air mata yang keluar dari mata kami tidak akan mengembalikan mereka kesini. Hanya terlihat asap putih dari otto yang mulai hilang saat berbelok di ujung jalan.
“Papa, Mama, Kak Astri baik-baik di jalan e”. Gumamku dalam hati.
Aku tak mampu berkata. Masih ku tak percaya saat melihat rumahku yang kosong. Tidak ada kakak yang selalu aku ganggu, tak ada Mama yang selalu memasakkan kami masakan yang sangat enak, dan tidak ada lagi Papa yang selalu membimbing kami. Mulai nanti kami yang akan memasak sendiri, tidur sendiri, dan tak lagi gurauan-gurauan mereka lagi. Lamunanku hilang saat tangan Pak Satria menepuk pundakku untuk ke sekolah.
“Jangan bersedih e, Mama Papa pasti baik-baik saja, ayo ke sekolah”.
“Iya Pak”. Sahut kami.
****
Siang itu kulihat Pak Satria baru pulang dari masjid setelah melaksanakan sholat jumat. Terlihat ia membeli ikan tongkol seperti biasa untuk makan. Tapi tak seperti biasa, ia membawa dua kantung plastik besar ikan tongkol yang sangat banyak sekali. Kami sangat kaget untuk apa ikan sebanyak itu, sampai ia memanggil kami.
Kembar, ini ikan bersihkan, kita bakar ikan nanti malam yuk, ajak teman-teman yang lain e”. Perintah Pak Satria.
“Asiiik…., Baik Pak”. Sahut kami.
Kami langsung membersihkan ikan dan memanggil teman-teman. Aku lantas mengajak Alvin, Rovan, Eldis, Riano, Angel dan Aldo. Selepas magrib, langsung kami siapkan kayu bakar, dan tempat untuk membakar ikan. Pak Satria juga telah mempersiapkan bumbu. Pak Satria memang dapat memasak walaupun terkadang sering terlalu asin.
Malam itu hanya kami berenam yang bisa datang, karena si Aldo dan Riano sedang sakit. Langsung saja kami membantu Pak Satria mengoles ikan dengan bumbu dan langsung membakarnya. Untung saja malam ini tidak hujan, karena di langit berjajar bintang-bintang yang menyebar ke seluruh penjuru langit, ada juga bulan yang bersinar terang di ujung barat. Nyanyian jangkrik juga menemani kami malam itu.
Kami bergantian untuk mengipas bara agar tetap menyala. Saat tangan kami mulai pegal, kami segera bergantian. Saat- saat membakar ikan, Pak Satria, lagi-lagi bertanya dengan kami tentang cita-cita kami. 
“Kalian mempunyai cita-cita apa?, Bapak lupa”.
Eldis, Angel, Alvin, Rovan, Toni dan Aku langsung bergantian menjawab.
“Jadi Bidan Pak, Dokter Pak, Alvin ingin jadi guru bahasa Inggris,  Rovan ingin jadi pemain bola, Toni ingin jadi TNI pak, kalau saya Polisi Pak”.
Sambil menunggu ikan matang, Pak Satria dengan lucunya mempraktekkan semua cita-cita kami semua. Saat yang paling lucu adalah saat ia mempraktekkan menjadi bidan dan guru bahasa Inggris. Apalagi saat ia mempraktekkan menjadi bidan, terlihat sangat konyol dan membuat kita tak henti-hentinya tertawa. Tawa pun pecah malam itu.
            “Pak, kalau TNI seperti ini ya pak, TNI seperti ini dongki[4] ya Pak?” sambil mencoret pipiku sendiri dengan arang.
            Aku memang sedang mengejek Toni. Sontak kami semua tertawa. Toni yang tersinggung langsung menambah coretan di mukakku, sambil berkata.
            “Dasar polisi dongki, hahahaha”
            “hahaha, TNI dongki
            Aku membalasnya, sekarang muka Toni juga penuh dengan coretan arang dengan jariku. Kami tertawa puas malam itu begitu juga dengan Pak Satria. Sungguh malam itu sanggat bahagia. Ia seolah mengalihkan kesedihan kami berdua semenjak kepergian keluarga kami. Sejenak aku masih membayangkan kelucuan Pak Satria mempraktekkan cita-cita kami yang menumbuhkan senyum di ujung bibirku. Ikan yang kami bakar terlihat sudah matang, dan kami siap untuk makan. Nasi putih dan sambal buatan Pak Satria membuat kami semangat menyantap hidangan malam ini. Keringat di dahi kami menegaskan sambal buatan Pak Satria pedas sekali. Sela-sela makan tak dilewatkan Pak Satria untuk memberi wejangan kepada kami, bahwa cita-cita kami harus kami wujudkan, katanya ia sangat bahagia dan bangga jika cita-cita kami semua terwujud.
            “Pak, boleh tidak kami mengejar cita-cita kami ke Jawa” Tanyaku.
“Boleh saja Nana, bahkan kalian boleh mengejar tidak hanya di Jawa. Boleh juga kalian mengejar cita-cita sampai ke luar negeri misalnya. Asalkan… kalian harus sungguh-sungguh mengejarnya sampai kalian benar-benar meraihnya. Jika nanti bisa, kalian harus melaksanakan tugas kalian dengan penuh tanggung jawab”.
Sejenak kami terdiam, kemudian kami meng-iyakan bak paduan suara.
            Perut yang terisi penuh membuat kami kenyang. Setelah membereskan semua, terasa rintik hujan jatuh dari langit. Waktu yang pas, saat kami selesai makan hujan pun turun. Hujan kali datang tiba-tiba, padahal tadi langit tampak cerah. Tak begitu deras memang, tetapi tetap saja memaksa teman-teman kami untuk pulang.



[1] Mobil kayu (transportasi khas manggarai, seperti truk yang telah dimodifikasi sehingga bisa untuk mengangkut manusia)
[2] Jangan
[3] Nakal
[4] Jelek

Comments

Popular posts from this blog

Wirosari Gumregah (Wirosari Bangkit)

Bledug Kuwu Si Mud Volcano dan Cerita Si Dragon Baru Klinting

THE TWIN'S DREAM (Part 16): Keberhasilan