THE TWIN'S DREAM (Part 4) : Semangat
4. Semangat
(Semangat
sepertihalnya lentera dalam gelap.
Ketika lentera itu menyala kau akan dapat memandang lebih jelas)
Setelah ujian semester pertama, kami
semua menerima rapot. Aku sangat beryukur saat kulihat rapotku lumayan bagus,
walaupun semua nilai pelajaran rata-rata hanya mendapat nilai 7, hanya bahasa
Indonesia dan agama Katolik yang mendapat nilai 85. Berbeda dengan Toni, hanya
matematika yang tertulis angka 76 sedangkan yang lain di atas 80. Berapa pun
nilai yang aku dapat, kata wali kelasku: Bu Imelda, kami harus bisa menambah
nilai kami di semester berikutnya, karena menentukan naik atau tidaknya kami.
Tidak puas dengan nilai yang aku dapatkan, aku harus mempertahankan dan harus meningkatkannya
****
Liburan selama dua minggu di semester
ini akan kami habiskan untuk membantu Papa dan Mama. Bulan ini sawah kami sudah
saatnya panen. Saat panen, selalu mengharuskan kami berkutat dengan padi,
menggilingnya dan menjualnya. Sabit, karung dan termos telah kami siapkan untuk
dibawa ke sawah.
Tidak ada kesibukan membuat Pak Satria
berinisiatif untuk membantu kami ke sawah untuk ikut memanen. Katanya, di Jawa ia tidak
pernah menyentuh sawah, apalagi untuk menyentuh padi dan menggilingnya seperti
saat itu. Ia benar-benar anak kota.
Pagi yang hangat mengantar kami menuju sawah.
Sawah kami berada jauh di belakang rumah kami. Sawah kami memang sawah bersama
milik keluargaku dan Om Agus, sehingga semua hasil panen selalu kami bagi dua.
Perjalanan ke sawah yang naik turun tak menyurutkan semangat kami. Dengan
telanjang kaki, kami melewati sungai dan bukit.
“Masih jauh kah Om?”. Pak Satria
bertanya.
Jari Om Agus menunjuk tepat pada pohon kemiri
besar itu, menunjukkan bahwa sawah kami berada di dekat pohon kemiri yang Om
Agus tunjuk. Sampai perjalanan kami berujung di pohon kemiri itu. Kulihat
padi-padi kami yang nampak menguning. Kubelai padi-padi, sambil kurasakan angin
yang mengempas wajahku. Kami semua pun langsung menyiapkan senjata kami: sabit
dan siap memanen padi. Batang padi tampak menguning dengan bulirnya yang
menggantung. Suara gesekan padi terdengar nyaring karena angin, membuat hati
tentram. Suasana seperti ini-lah yang aku suka.
Sambil memegang punggungnya, Pak Satria
terlihat sangat lucu. Baru sebentar saja memanen padi saja katanya punggungnya
cepat pegal. Sontak keluargaku dan keluarga Om Agus tertawa lepas. Sambil
bercanda, mereka bilang bahwa Pak Satria tak pernah menyentuh sawah. Memang
benar, karena ia hidup di antara hiruk pikuk jalanan kota.
Tante Erin, isteri Om Agus lantas
menyuruh Pak Satria untuk istirahat saja dan minum kopi panas yang sedang Tante
Erina buat, katanya untuk penghilang rasa capek. Setelah hampir lebih dari dua
petak sawah, kami semua memutuskan untuk beristirahat. Kopi khas Manggarai
merupakan kopi yang luar biasa, rasanya yang asli dan sangat dirindukan. Dituangnya
air panas, dan dicampurkan kopi dan gula. Dari kejauhan, tercium aroma kopi
yang nikmat. Seolah hidungku tak lelah menhirup wanginya. Banyak yang berkata,
jika sekali merasakan kopi ini akan merasakan jatuh cinta. Mamaku pun
menyiapkan ketela goreng yang enak, teman kopi siang itu. Kuambil ketela goreng
panas, kumakan dan kunikmati. Rasanya gurih dan empuk.. Sungguh suasana siang
panas ini membuat kami semakin akrab. Masih ada tiga petak sawah lagi yang
harus kami segera selesaikan.
Setelah panen selesai sejenak kuseka keringat
dan langsung kami membawa tumpukan-tumpukan batang padi ke mesin giling yang
berada dekat dengan sawah. Mesin giling ini selalu kami pinjam dari Om Deus
yang selalu menjadi langganan keluargaku saat panen tiba. Terdengar suara mesin
giling yang memekakkan telinga, memunculkan harapan kami, agar panen kali ini
banyak hasilnya. Biasanya sawah kami bisa menghasilkan 12 karung padi. Hasilnya
nanti. Biasanya kami menjualnya di kios ataupun ke pasar.
Sungguh luar biasa Pak Satria, ia rela
berpanas-panasan seperti ini. Kata Pak Satria, ia ingin merasakan kehidupan
yang sama seperti kami, berjuang keras untuk sesuap nasi. Walaupun keringat
yang mengucur keras di dahinya tak ada kata lelah saat itu. Bahkan di sela-sela
mengangkat karung padi, ia masih saja memberikan semangat untuk kami. Kadang
aku merasa kasian, karena kulitnya yang dulu bersih, nampak mulai menghitam
karena sengatan matahari yang sangat panas.
Setelah panen selesai kami semua
bergotong-royong memanggul karung beras yang memiliki berat 10 kg ke rumah.
Untuk sampai ke rumah, kami harus melewati sungai dan persawahan yang naik
turun. Kira-kira kami harus kembali lagi tiga kali. Sangat lelah yang kami rasakan,
sambil mengusap keringat, Mamaku telah mempersiapkan hidangan. Inilah yang aku
tunggu. Sayur nangka muda yang bersantan dan sambal terasi menjadi santap siang
ini. Melepas lelah, mengembalikan tenaga kami. Biasanya untuk panen kami
menghabiskan waktu tiga hari sampai semuanya beres.
****
Masuk sekolah masih seminggu lagi. Untuk
melepas kebosanan, kami habiskan sore dengan pemuda-pemuda desa untuk bermain
takraw di lapangan. Lapangan desa tak cukup luas, karena berada di antara
rindangnya pohon kemiri yang menjulang tinggi. Sore itu Bang Marsel dan Ando
bermain sangat maksimal. Aku beruntung satu tim dengan mereka. Kami dapat memukul
telak tim Toni. Toni bermain cukup menyulitkan. Sempat aku tersungkur ke tanah
demi mengejar bola yang sepertinya keluar, tetapi masuk di ujung garis. Bola
itu berhasil ku tendang ke dalam dan dapat diatasi oleh Bang Marsel.
Setelah bosan dengan voli dan takraw, kami
membunuh waktu dengan bermain kemiri. Sebuah permainan seperti kelereng. Kelereng
merupakan barang mewah yang sulit ditemukan di kios-kios desa. Ia hanya dapat
ditemukan di kota dan tentunya harganya sangat mahal, sehingga kemiri-lah
penggantinya. Kami sangat mudah mendapatkan buah kemiri. Pohon kemiri banyak
tumbuh liar di sekitar lapangan, sehingga kami tinggal memungutnya di tanah,
karena buah kemiri yang matang akan jatuh dengan sendirinya. Saat bermain
kemiri Alvin-lah ahlinya. Ia selalu dapat mengambil kemiri dari kami. Syarat
permainan ini adalah jika yang dapat mengenai sasaran dengan tepat, ia dapat
meminta kemiri yang tidak dapat mengenai sasaran. Alhasil aku kehabisan kemiri
karena dibantai oleh Alvin dan Toni. Tembakanku yang selalu meleset-lah
sebabnya.
Kami juga sering mencari ikan. Musim hujan
seperti ini ikan di belakang sungai kami sangat banyak. Sungai belakang rumahku
tak cukup dalam. Untuk mencapainya kami harus melewati sawah dan tebing. Kami
juga harus melewati hutan bambu kuning untuk mencapainya.
Dengan membawa pancing sederhana dan
parang ke sungai untuk memburu ikan dan belut. Kami sangat bahagia, karena bisa
makan ikan hari ini. Kadangkala kami juga mendapat belut yang besar. Hasilnya tidak
seberapa, seperti sore ini. Aku, Toni dan Alvin membakar sedikit tangkapan kami
di pinggir sungai dan
menikmatinya. Sungguh suasana yang teduh sore itu, kami melihat sekelompok
burung yang terbang menghiasi langit senja kala itu diiringi gemercik sungai
dengan latar belakang lukisan langit Manggarai yang mulai berganti senja.
Kami mendapat belut dan ikan yang sangat
banyak sehingga kami putuskan untuk membawa sisa tangkapan kami ke rumah. Mama
sangat senang dan menutuskan untuk menggoreng tangkapan kami. Saat memasak ikan
merupakan sesuatu yang aku tunggu, karena masakan Mama selalu menjadi idola
keluarga. Kami pun memutuskan untuk makan bersama dengan keluarga Om Agus.
Makan malam kali ini kami lakukan sebagai wujud rasa syukur kami atas panen
yang melimpah. Nasi hangat dan segelas kopi menjadi teman santap malam. Sungguh
malam yang damai yang ditutup dengan hujan yang mengguyur deras.
Comments
Post a Comment