THE TWIN'S DREAM (Part 5) : Kekecewaan


5.  Kekecewaan
(Kecewa itu harus seperti ranting yang menjatuhkan daun yang kering,  ia selalu memunculkan tunas daun baru di ranting yang sama)

Sore ini aku ke sekolah seperti biasa. Sekolahku selalu mengadakan ekstrakurikuler olahraga pada setiap senin sore. Bersemangat, itulah yang terlihat di wajah kami. Hampir semua siswa berangkat ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ini. Semua diwajibkan memilih satu dari cabang olahraga yang ada yaitu voli, takraw, atletik dan badminton. Setiap siswa memiliki keahlian masing-masing, walaupun banyak yang tidak ahli, tetapi dengan modal semangat saja cukup membuat sore itu sungguh menyenangkan. Aku sendiri memilih olahraga takraw, Toni badminton dan Alvin memilih voli, sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.
Pak Satria juga datang pada sore itu. Ia ditunjuk oleh sekolah untuk melatih cabang badminton. Pak Satria bersedia melatih karena ia sangat menyukai olahraga badminton. Terbukti saat melatih ia sangat lihai memukul bola. Apalagi saat memukul bola, tubuhnya yang jangkung tentunya dengan mudah menciptakan pukulan smash dan siswa yang ia latih tak ada yang mampu menerimanya.
 Sedangkan aku dilatih oleh Pak Klaus. Aku suka sekali dilatih oleh Pak Klaus, karena ia dulu merupakan atlet sepak takraw. Dulu ia mampu membawa timnya sampai ke provinsi. Tidak diragukan lagi timangan bola di kakinya seolah menjadi temannya.
Untuk cabang olahraga yang lain dilatih oleh Pak Jansen. Seorang guru olahraga yang tentunya sangat mahir dalam semua olahraga. Jangankan voli, dalam hal sepak bola antardesa ia selalu saja mencetak gol dengan tendangannya yang luar biasa
Kulihat Pak Jansen sedang serius melatih siswa, ia sangat tegas dan sangat bagus dalam melatih. Tubuhnya yang gagah tanpa lelah melatih secara bergantian, setelah cabang olahraga voli, ia langsung melatih atletik. Suaranya yang tegas meramaikan latihan sore itu. Melatih cara-cara dasar bermain voli, dari cara servis sampai smash.
Sore itu Pak Jansen juga akan menyeleksi siswa yang akan ditunjuk untuk mengikuti O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), kejuaraan ini merupakan seleksi beberapa cabang olahraga sampai skala nasional, tentu saja sekolahku langsung mempersiapkannya. Berharap tahun ini sekolahku memboyong beberapa juara.
Matahari sore itu masih sangat membakar kepala. Keringat tampak bercucuran dari kening kami. Terlihat Pak Klaus dan Pak Satria juga terlihat lelah membimbing tampak sekali terlihat dari kaos mereka yang basah oleh keringat. Hingga sampai pada saat pengumuman siapa-siapa yang berhak mewakili sekolah. Jantungku berdebar, karena untuk cabang voli putra dan putri telah dipilih, ada 5 anak dari kelas delapan dan sisanya kelas tujuh dan disitu tidak ada nama Alvin disebut. Aku masih terus berharap. Jantung berdetak keras berharap dapat mewakili sekolah karena, dari takraw segera diumumkan. Untuk putri takraw yaitu Seny, Mita, Fani dan Vinda. Nama-nama yang mengikuti takraw putra pun adalah Kristo, Deri, Nando dan yang terakhir adalah Rinto. Aku sempat mengambil nafas berat, aku tidak terpilih. Aku harus terima, karena pasti yang telah ditunjuk pasti lebih bagus dariku. Untuk atletik pun sudah dipilih, hanya tinggal badminton. Aku berharap Toni dapat ditunjuk karena aku tahu karena ia pernah mewakili SD dulu.
Saat yang ditunggu pun tiba, benar saja, Pak Satria memilih Toni untuk badminton putra dan putri dipilih Yavin dari kelas delapan. Pak Satria berkata bahwa, ia teringat dengan pemain badminton kidal dari China: Lin Dan. Toni memang anak kidal dan pukulannya sangat mematikan. Aku bangga sekali, tetapi kulihat tidak ada wajah bahagia yang tercetak di wajah Toni, karena aku tahu ia punya pengalaman buruk dengan badminton. Sore pun berakhir dan kami semua pulang ke rumah. Tak apa aku tak terpilih, aku bisa berolahraga dengan banyak teman seperti sore itu, cukup membuatku bahagia.
****
Dua bulan lagi pertandingan itu akan digelar, persiapan demi persiapan dilakukan. Latihan intensif harus dilakukan sampai tiga kali seminggu. Alhasil ada beberapa anak yang mulai malas datang berlatih, banyak yang beralasan karena capek. Seperti Toni, dulu ia rajin berangkat bersama Pak Satria, saat berlatih. Tetapi, akhir-akhir ini ia malas berangkat, terlebih lagi ia mendapatkan sahabat baru yaitu Rovan. Rovan merupakan anak baru di sekolah kami, ia anak orang kaya dan ia pun sering mengajak Toni ke rumahnya untuk bermain game di handphone. Selain sering bolos berlatih olahraga, prestasinya juga agak menurun. Sering nilai yang ia dapat malah lebih rendah dari nilaiku.
Melihat semua itu Pak Satria sempat bertanya pada Toni, saat kami selesai makan siang. Tetapi Toni hanya tersenyum, dan berlalu untuk membersihkan halaman rumah. Pada saat Toni sibuk, langsung saja kuceritakan semuanya pada Pak Satria, sebab mengapa ia begitu. Dari nilainya yang turun sampai ia malas mengikuti ekstra olahraga. Dulu saat SD, Toni pernah menang dalam badminton, ia dapat mengalahkan seluruh wakil SD di Kecamatan Satarmese. Saat itu ia sangat senang sekali tetapi, entah mengapa ia tidak ditunjuk untuk mewakili kecamatan, untuk bertanding ke Kabupaten. Kecewa, sedih, dan marah yang ia rasakan. Sampai-sampai ia sakit setelah pertandingan. Mendengar ceritaku, akhirnya Pak Satria pun meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Ia menepuk pundakku.
****
Hari pertandingan pun telah tiba, saatnya ketiga puluh punggawa dari sekolahku berangkat. Siap berperang merebut juara dengan kekuatan penuh. Menggunakan mobil kecil bak terbuka mereka berangkat. Tepat jam 7 pagi mereka akan ke pusat kecamatan dan harus mengikuti upacara pembukaan terlebih dahulu.
“Kamu harus menang e”. Ucapku.
“Aku pasti menang kok!”. Serunya saat ia menaiki otto[1] yang siap berangkat.
Segala kekuatan mereka meluap, mereka tampak yakin mampu membawa piala kemenangan. Teriakan yel-yel mengiringi perjalanan mereka. Mentari pagi nampak tersenyum, namun senyum mereka tampak lebih bersinar pagi itu. Tampak juga beberapa tim dari sekolah meneriakan yel-yel penambah semangat dengan mengibarkan bendera Sang Merah Putih dengan bangganya.
Tak lama kemudian mereka sampai dan langsung mengikuti upacara pembukaan. Kemudian langsung dimulai-lah pertandingan hari pertama. Pertandingan kali ini jagoan badminton putra dan putri dari SMP-ku menang melawan SMP lain yang kuat. Raket ekslusif yang diberikan untuk mereka tentunya merupakan harapan besar untuk mereka berdua dari si pemberi. Aku ingat pidato singkat Pak Victor sebelum berangkat. Ia sampai mengeluarkan uang pribadinya untuk membeli raket mahal seperti milik atlet nasional. Pertandingan pun dimulai.
Toni dan Yavin masuk semifinal mengalahkan SMP lain. Begitu pula takraw putra, voly putri, dan atletik putri, mereka berhasil ke babak selanjutnya. Saat kudengar kabar itu aku sangat senang. Ternyata Toni tak begitu terpuruk lagi, mungkin Pak Satria sempat memberikan ribuan semangat, sehingga ia bertanding dengan baik.
****
Pertandingan hari ke dua ini memang sangat menegangkan. Bagaimana tidak, setiap sekolah mengeluarkan jagoan-jagoan mereka, agar bisa memboyong juara tahun ini. Hari kedua, dari sekolahku masih ada beberapa cabang yang lanjut ke babak selanjutnya, walaupun banyak yang gugur dari babak penyisihan mereka yang gagal, tetap semangat menjadi supporter untuk teman-temannya. Kobaran semangat masih mereka tunjukkan. Semangat anak bangsa yang sungguh luar biasa. Aku hanya bisa berdoa saat di sekolah berharap mereka mendapat juara.
 Final pun tiba. Sorak-sorai keberhasilan merekah di wajah mereka. Teman-teman yang menyalami Toni seolah sebagai pembakar api semangat baginya. Walapun Yavin gagal, ia tetap menjadi kebanggaan, dan Toni masuk babak final. Final putra dimulai, agak terseok karena lawan yang besar membuat Toni sempat gentar. Smash, lop permainan net, dan dropshot telah ia lakukan. Namun ia tetap kalah. Keringat bercucuran bersama kekecewaan yang menyertai.
Dalam peraturan yang telah disetujui, peserta lomba diharuskan tidak boleh berumur lebih dari 14 tahun, dan anak yang telah mengalahkan Toni sekarang berumur 15 tahun dan secara otomatis juara dua lah yang seharusnya mewakili kecamatan.
Sempat merasa senang, tetapi kekecewaan kembali muncul menghampiri, saat ada tantangan dari SMP lain yang meminta kebijakan dari panitia untuk diadakan tanding ulang dengan Toni. Katanya, sekolah tersebut sama-sama dicurangi oleh juara satu yang menyalahi aturan dan harus bertanding lagi dengan Toni, dan panitia dengan gampangnya menyetujui.
 Skema yang dengan gampang dilanggar hanya ada sebuah permintaan dari SMP itu. Toni bertanding kembali, ini pertandingan terakhir untuk menentukan yang berhak ke Kabupaten dan ia harus kembali bertanding. Saat pertandingan penentuan, Toni dalam keadaan tertekan dan kecewa. Alhasil, permainannya begitu kacau.
 “Toni gagal ke Kabupaten, padahal kurang sedikit lagi bisa ke Kabupaten”.  
Sontak aku kaget bercampur sedih. Pasti di kecamatan ia sangat terpukul. Aku mendengar kabar dari guru-guruku yang mendengar berita kekalahan Toni.
****
 Asi[2] retang[3], Nana, kamu tetap juara, kamu hebat”.
Pak Satria tetap memberikan semangatnya kepada Toni. Dengan memeras handuk keringat pemberian Pak Satria, ia tetap tersenyum,
Neka[4] rabo[5] Pak.
“Tidak apa-apa Toni, seyumlah, kamu tetap juara”. Sambil mengusap kepala Toni, Pak Satria tersenyum.
****
Setelah pertandingan, sore itu kulihat Toni pulang dengan keadaan yang lusuh, raut mukanya nampak kacau. Setelah menanggalkan sepatunya, ia lantas tidur. Dibuangnya jauh tasnya ke arah tempat tidur. Toni terlihat lelah, ia menelungkupkan tubuhnya dan terdiam. Aku tahu ia sangat kecewa, aku harap ia mampu menerima keadaan. Ia bercerita bahwa ia merasa bersalah pada Pak Satria, karena selama ini beliau melatih dengan sungguh-sungguh dan berharap ia menjadi juara. Tetapi, kenyataan mengharuskan Toni menelan kekecewan kembali. Aku hanya bisa menggodanya, agar ia bisa tertawa.













[1]Mobil
[2] Jangan
[3] Menangis
[4] Jangan
[5] Marah

Comments

Popular posts from this blog

Wirosari Gumregah (Wirosari Bangkit)

Bledug Kuwu Si Mud Volcano dan Cerita Si Dragon Baru Klinting

THE TWIN'S DREAM (Part 16): Keberhasilan