THE TWIN'S DREAM (Part 9) : Sebuah Perpisahan
9. Sebuah
Perpisahan
(Perpisahan
memang merupakan ujung dari pertemuan, tetapi di antaranya terdapat kisah yang
akan dipersiapkan untuk pertemuan selanjutnya.)
22
Agustus 2012.
Hari ini ruang kelas 9 A disulap
dan ditata sedemikian rupa. Sebuah microphone telah dipasang untuk pembawa
acara. Meja bertaplak, serta kursi yang ditata rapi. Pot-pot bunga juga
diletakkan di pojok kanan dan kiri meja. Aku tahu benar mengapa para guru
menata ruang kelas seperti itu. Hari itu mungkin adalah hari yang tidak kami
inginkan.
Pak Satria duduk di antara Pak
Victor dan Pak Dami. Pagi ini adalah hari perpisahan Pak Satria. Ia duduk di
tengah seolah tersidang, dan menjadi pusat perhatian. Dalam acara itu, ia
memberikan pesan dan kesan selama mengajar di sini. Pesan tulus ia berikan
kepada kami agar tidak nakal dan terus belajar rajin. Teringat suatu masa saat
ia pertama kali menginjakan kakinya di SMP ini. Saat itu ia tampak masih
canggung melihat kami. Teringat juga saat ia setiap hari senin dan rabu masuk
di kelasku. Tak sengaja air mata kami menetes. Terlihat Vitri, Lian dan Ica
yang sesengukan menahan sedih yang teramat sangat. Rio, Rian dan Candra yang
selalu kena marah Pak Satria pun juga tampak berkaca-kaca dengan air mata yang
tampak sulit terbendung.
“Perpisahan bukan berarti berhenti
menyatukan hati, karena saat satu orang mengenal orang lain pada saat itu juga
hati mereka terikat, jadi bapak tidak akan melupakan kalian”.
Sebuah kata-kata yang sangat
menyentuh hati kami. Aku tenang, itu berarti antara kami tidak akan saling
melupakan. Bagaimana kami bisa melupakannya, ia adalah sosok guru yang selalu
membimbing dan mengajarkan kami semua kebaikan.
Aku masih tidak percaya, akankah
aku melihatnya kembali di sekolah ini, mengajar bahasa Indonesia lagi?.
Ia sekarang bersama semua muridnya
di lapangan. Panasnya matahari tak kami hiraukan. Kami berdiri mendengar pesan
terakhirnya dan berdoa agar kami baik dan sehat-sehat saja. Ia juga pamit bahwa
ia akan pergi meninggalkan tanah ini besok pagi.
Satu persatu ia memberikan salam
terakhir untuk kami, peluk terakhir dan mungkin ini tak akan lagi kami
melihatnya menenteng buku dan masuk kelas kami. Mungkinkan kami akan bertemu
dengannya lagi suatu saat nanti?. Mungkin itu yang dipikirkan juga oleh
teman-temanku. Mereka begitu erat memeluknya seolah tak ada lagi pelukan hangat
tentang ilmu yang ia berikan, tentang candaanya, tentang kemarahannya dan semua
tentang dia: Pak Satria.
“Pak, terimakasih atas semuanya,
sehat-sehat ya Pak”
Sekarang ia berdiri di lorong
sekolah. Lambaian kami di sambutnya dengan senyuman. Kami semua sudah harus
pulang, sambil mengusap air matanya, bayangannya tampak semakin mengecil dan
hilang.
****
Kami benar-benar memeluknya erat.
Belum sempat ia masuk ke rumah, aku dan Toni benar-benar tak mau melepaskan
pelukan kami. Lima ekor ayam yang ia bawa lantas ia lepaskan.
“Pak, jangan pulang ke Jawa ya Pak”.
Pinta kami.
Sambil melepas pelukan kami, ia
memegang pundak kami. Melihat mata kami dalam-dalam sambil berkata.
“Sudah-sudah, senyum dong. Bantu
bapak bunuh ayam yuk. Kita makan ayam malam ini”.
Sambil mengiyakan kami hanya diam.
Dalam batin kami, tidak akan ada lagi sosok Pak Satria lagi besuk.
Sempat-sempatnya ia masih bercanda, agar kami tidak diam dan terus bersedih.
****
Para tetangga dekat sudah berkumpul malam.
Tak seperti biasanya, rumah Om Agus sangat sesak. Di sini juga datang Om Paul
serta Om Kristo yang rela datang dari kota. Kopi sudah berjajar rapi di depan
para tamu. Sekarang giliran nasi tiga bakul dan lauk ayam buatan Pak Satria
sendiri, datang menyusul. Kami pun santap malam, santap malam yang terakhir
dengannya.
Walaupun kami makan ayam, makanan ini terasa tidak
enak. Om agus terdiam, begitu juga isterinya. Aku dan Toni pun tak selera
seperti biasa. Serta teman-temanku yang datang hanya duduk termenung diam
seribu bahasa. Sebenarnya masakan Pak Satria malam ini sangat enak, dengan
bumbu kecap yang terasa pas, tidak terlalu manis ataupun asin. Tetapi bagaimana
pun juga ini merupakan makan malam yang terakhir dengannya. Sangat, sangat
tidak enak, makan ayam tetapi dalam keadaan sedih. Tangis pecah malam itu, Om
Agus memeluknya erat, kata Pak Satria, ia tidak akan melihat sosok ayah lagi
saat ia pulang nanti. Ia mengucapkan ribuan terimakasih telah menjadi orang
tuanya saat berada di sini. Tante Erin duduk lemas dan hanya mampu menyeka air
mata yang tak kunjung berhenti menetes. Pak Satria sudah mereka anggap anak
sendiri.
****
Satu tahun sangat cepat berlalu.
Jika aku mampu menghentikan waktu, aku akan menghalanginya untuk berputar.
Tangis minggu pagi itu terdengar kencang dari keluarga Om Agus. Memecah pagi
yang masih tampak gelap oleh kabut karena mentari masih sembunyi di balik
lembah, hanya terlihat semburat cahaya kuning. Begitu banyak yang telah ia
berikan, tawa, duka, pengalaman, semangat, dan tentunya senyuman. Koper besar
itu telah ia tarik. Otto Cahaya Surya
sudah menunggu dengan iringan musik dari band Sheila on 7 yang berlirik “Aku
pulang, tanpa dendam, kuterima kekalahanku”. Seolah lagu itu menyiratkan bahwa
Pak Satria telah dikalahkan telak oleh waktu, dan ia pulang tanpa dendam.
Terdengar nikmat untuk dibawakan oleh suara sang vokalis yang sendu itu.
Sekeliling otto
kayu[1]
sudah tersebar warga desa yang sangat sedih melepasnya. Pelukan terakhir
darinya, ia merengkuh kami berdua.
“Hei Polisi, TNI, kalian harus
membela negara kita e”
“Pasti Pak”. Aku meyakinkan.
“Pak, jangan lupakan kami, Bapak adalah
kakak kami” Toni memeluk erat sambil tersedu.
Sambil menyeka air mata kami, ia hanya
mengangguk sambil membawa koper dan tas besarnya.
Ia benar- benar pergi. Lambaian tangan
dari kami melepas kepergiannya.
“Di’a-di’a
lako[2]
Pak”. Teriak Toni.
“Kalian juga baik-baik e, jaga kesehatan
kalian”
Ia sudah hilang di telan kabut. Hanya
tertinggal memori-memori kenangan yang tak mungkin kami lupakan. Aku hanya bisa
menangis. Begitu banyak kenangan bersamanya. Pesannya agar selalu belajar untuk
meraih cita-cita, yang pasti akan kami wujudkan.
Terimakasih Pak.
Comments
Post a Comment