THE TWIN'S DREAM (Part 13): Perjalanan Panjang
13. Perjalanan Panjang
(Ketika
kau menyerah untuk melangkah, maka tujuan di depan mata akan terasa tak sampai
jua.)
Kami siap dengan menenteng dua tas besar
dan tas ransel yang kami gendong. Kami siap, di depan rumah, mereka siap
melepas kami berdua. Kulihat wajah Mama yang sangat lesu. Ia bersandar pada
bahu Kak Indra, lemas dan tak berdaya. Sebenarnya aku tak rela berpisah dengan
mereka lagi dan lagi. Air mata mengucur deras di wajah Mama, aku menyekanya dan
memeluknya erat. Papa memeluk Toni dan ia meminta Toni agar benar-benar menjaga
aku. Walaupun ia khawatir, ia memberi kepercayaan penuh pada kami.
“Jaga adik Nana”.
“Iya Pa”. Jawab Toni.
Kami juga memeluk Kak Indra dengan erat.
Kami sangat berterima kasih karena ia selalu memberikan semangat untuk kami.
“Ingat pesan kakak e, jangan lupa
menghubungi kami saat sampai di Jawa”.
Kakak memang telah membelikan kami HP
baru, HP yang hampir sama sebagai ganti milik kami yang telah rusak. Kakakku
ini memang sangat baik, ia juga membelikan
kami keperluan-keperluan kami untuk ke Jawa.
Kami benar-benar akan pergi, langkahku
sangat berat, kakiku seolah membeku, seolah tak mau melangkah sejengkal pun
kala itu. Dengan sisa air mata yang masih saja menetes, aku harus melangkah,
diiringi mereka yang menuntun langkah kami, memberi semangat pada kami, harapan
serta kepercayaan yang besar. Mereka seolah menjadi sang pembuka pintu, saat
pintu itu sudah terbuka-kami tinggal memasukinya dengan bebas.
Angkutan kami sudah menunggu lama di seberang
jalan. Musik dangdut seolah melekat saat kedatangannya. Kulihat Alvin berdiri
di sana. Ia tersenyum dan memberi hormat kepada kami.
“Hormat Pak Polisi, Pak TNI, sukses ya”.
Aku memukul kecil perutnya. Ia sedikit
kesakitan dan tersenyum kepada kami. Senyumannya mengiring kepergian kami. Aku
melempar tas begitu pula tubuh kami.
“Hati-hati kembar!!”.
Teriakan Alvin mengingatkanku saat dulu
ia dimarahi oleh papanya, ia mampu berbenah diri, ia selalu mendapat nilai baik
dan di SMA ia mampu menjadi juara kelas. Luar biasa, Alvin memang hebat,
sekarang ia akan mendaftar kuliah untuk menjadi guru di kota Kupang. Lambaian
tangan mereka seolah mendoakan kami agar selamat dalam perjalanan. Semakin
terdengar tipis bersamaan laju otto semakin
meninggalkan mereka. Kami akan baik-baik saja sampai tujuan kami: Semarang.
****
Rasa mual merasuki tubuhku selama
perjalanan. Pijitan Toni seolah tak mempan mengobati mabuk pejalanan yang
kualami. Apalagi kami melewati dinginnya kota Ruteng yang menusuk. Sebuah kota
kecil yang luar biasa, yang mampu membuat orang-orang menggil oleh dinginya.
Kota yang selalu diselimuti kabut dan selalu ditemani hujan. Seperti pagi
itu, hujan sudah turun, padahal mentari
belum begitu menguasai hari. Aku jadi teringat Eflin, bagaimana kabarnya?. Aku
dengar ia tengah sibuk dengan cita-cita keduanya. Aku tersenyum dibalik
jendela, merasakan gemercik air hujan yang mererpa mukaku.
Aku memang tak mampu berlama-lama di
mobil. Masih tiga jam lagi untuk menuju pelabuhan di Labuhan Bajo, ibukota
kabupaten Manggarai Barat. Aku tak sabar sampai dan sesegera mungkin menghirup
udara bebas. Suasana bemo yang penuh sesak membuatku ingin segera meluruskan
kaki dan segera menjauhi aroma mobil yang membuatku mual.
Labuhan Bajo, sebuah kota yang tersohor
sebagai pintu gerbang wisata ke kepulauan komodo yang menjadi primadona wisata
di Nusa Tenggara Timur. Aku mencoba menenangkan diriku dengan menghamburkan
pandanganku untuk beradu pada hutan sekelilingku di balik jendela bemo. Sungguh
indah pemandangan ini, nampak kepulauan itu di ujung barat, yang bercampur
kilatan cahaya yang berpendar cerah siang itu. Tak terasa sampai juga berhenti
di pelabuhan Labuhan Bajo, aku tenang.
Mengambil nafas panjang adalah hal
pertama yang aku lakukan. Kusebarkan pandangan pada ratusan manusia yang lalu
lalang yang siap melewati lautan. Kaki kami menginjak pelabuhan ini, sejenak
kuusap keringat dingin yang berjajar rapi di keningku. Setelah membayar tiket
kami siap menaiki kapal besar di depan kami. Kapal ini sangat besar, karena
dapat menampung lebih dari seribu penumpang. Tujuan mereka bermacam-macam, ada
yang ke Bali, Surabaya ada pula yang ke Jakarta, karena tujuan akhir kapal ini
adalah ke ibu kota. Kami segera menempati kamar kami. Kusebarkan pandanganku,
terlihat ada empat ranjang yang
bertingkat. Aku lelah, segera kurebahkan tubuhku.
Dua ranjang yang lain ditempati oleh dua orang
pemuda, yang satu bertujuan ke Surabaya sedangkan yang satunya lagi bertujuan
ke Mataram NTB. Dua pemuda yang sangat ramah, mereka bernama Zainul, dan Antok,
sambil menunggu keberangkatan kapal, kami berbincang.
“Asli Flores Mas?”. Tanya Zainul.
“Iya Kak, kami ingin ke Semarang”. Jawab
Toni.
Zainul ingin ke Surabaya, ia ingin
pulang kampung setelah dua tahun ia tak pulang. Sejak dua tahun lalu, ia
bekerja di Labuhan Bajo sebagai agen travel wisata di kota itu. Sesaat
kemudian, kapal pun berangkat, obrolan kamipun kami lanjutkan di luar kamar, sambil
melihat lautan nan luas.
“Adek-adek ini baru pertama merantau
ya?”.
Sambil mengiyakan, kuhempaskan
pandanganku ke lautan luas. Kulihat kepulauan komodo di samping kiriku. Sebuah
pulau yang tersohor dengan kadal raksasa yang mendunia itu, tapi aku hanya bisa
melihatnya dari kejauhan.
Sepertinya kepulauan itu sangat elit dan rasanya aku takakan mungkin menikmati
paket wisata yang sangat eksklusif itu.
“Pulau itu sangat indah”.
Saut Antok, seorang pemuda yang selama
satu minggu ini mengelilingi pulau itu dan keliling Flores. Pemuda tampan itu
seumuran dengan kami, ia memutuskan mengisi liburan kuliahnya untuk mengunjungi
si komodo. Dengan gaya necis ia memakai kaca mata hitam karena matahari yang
menyilaukan.
“Aku akan rindu pulau ini”.
Gumam Antok yang seolah sangat bahagia
dengan pulau Flores. Ia telah mengunjungi danau tiga warna: Kelimutu, bahkan ia
telah merasakan timurnya Flores: Larantuka. Katanya, pulau yang tak ada
bandingannya. Dalam benakku tak heran, karena pulau Flores menyimpan seribu
keindahan, seolah potongan-potongan surga terjatuh di pulau itu.
“Kalian mau apa ke Semarang dik?”.
Pertanyaan Zainul memecah lamunanku. Ia
kaget saat mengetahui tujuanku. Ada pandangan nyinyir bersamaan dengan kerutan
di dahinya. Ia menyatakan Jawa itu keras. Hanya orang-orang yang beruntung dan
berjuang yang bisa. Jawa banyak sekali yang kalau tidak dengan “uang” tidak
akan berjalan lancar, tetapi banyak juga yang jujur di sana. Ia menenangkan
kami, dan memberikan semangat pada kami.
Zainul adalah seorang pemuda yang sudah
beberapa kali merantau. Sebelum ke Labuhan, ia juga pernah merantau ke
Kalimantan dan Makassar. Dulu ia juga sangat berjuang, sampai akhirnya Flores
menuntunnya ke sebuah kesuksesan. Ia juga mengatakan pada kami “kalau tak mau
merantau, kita takakan merasakan kesuksesan”. Sempat ia merasa terpuruk karena
harus meninggalkan orang tuanya di Surabaya, tetapi ia selalu dikuatkan oleh
ibunya yang selalu mendukungnya. Ia sangat percaya karena selalu mendapat doa
dari ibunya. Seketika aku ingat Mama. Doa Ibu memang luar biasa katanya.
Antok mengajak kami untuk makan siang.
Dalam kapal banyak sekali yang menjual makanan. Sejenak aku melamunkan tentang
perkataan Zainul, aku berdiri dan semangatku bertambah. Ku langkahkan kakiku
untuk segeramenuju warung nasi yang
berada di ujung koridor. Perut kami sudah tak tahan,ingin segera diisi.
****
Aku menghampiri Toni yang berdiri di
ujung kapal. Ia sedang menikmati malam penuh bintang. Sudah sehari semalam kami
terombang ambing di kapal. Kami baru saja melewati NTB, Antok sudah turun, ia
berpesan “jangan menyerah” kepada kami. Mungkin tengah malam nanti kami akan
sampai di Bali dan mungkin besuknya sore kami sudah sampai pulau Jawa.
“Sebentar lagi Ton”. Aku memecah
lamunannya.
Ia tersenyum. Pandanganya penuh semangat.
Berbeda sekali saat ia sedang bandel-bandelnya. Aku menikmati angin yang
menyisir rambutku bersama sinar bulan purnama yang terlukis di lautan dan
kemudian hilang bersama buih. Mungkinkan kami bertemu dengan Pak Satria di
Jawa?.
Comments
Post a Comment