THE TWIN'S DREAM (Part 8): Tentang Pak Satria
8. Tentang
Pak Satria
(Ketika kau bersedih, cobalah
tenang, lihat sekelilingmu. Kau akan menemukan obat dari sedihmu itu)
Tidak terasa ini sudah bulan Mei. Langit
Tadonunang, desaku masih saja menangis. Gemercik hujan bercampur nyanyian katak
memecah kesenduan sore itu. Sudah satu minggu ini setiap sore pasti hujan.
Kulihat Pak Satria baru saja pulang dari kota Ruteng, katanya di sana ada
kegiatan. Setelah meneduhkan sepeda motornya dan melipat jas hujan, ia memanggil
kami yang sedang sibuk membuat tikar.
Tikar ini terbuat dari daun pandan yang
dikeringkan, kemudian dianyam menjadi tikar. Keahlian kami telah diajarkan
Mama. Tikar ini nantinya akan kami jual untuk makan kami sehari-hari. Walaupun
orang tua kami sering mengirim uang, kegiatan ini untuk mengusir sepi dan
menambah uang jajan kami dan kemudian sisanya akan kami tabung. Pak Satria
memanggil kami, dan kami harus menghampirinya walaupun kami harus melewati
hujan. Pak Satria sepertinya akan memberikan sesuatu, benar saja kami sangat
kaget, karena Pak Satria memberi kami satu pak buku dan beberapa bolpoin. Ia
sangat baik sekali, sering juga ia memberi kami jajan dan permen. Kami sangat
berterimakasih.
“Pak, terimakasih Pak”
“Ya, digunakan dengan baik ya, itu
hadiah untuk kalian karena kalian dapat nilai bagus”
Seraya masuk rumah, ia menyuruh kami
melanjutkan kembali kesibukan kami membuat tikar.
****
Pak Satria sudah seperti kakak kami
sendiri, segala kegiatan kami ia selalu ikut, dari berolahraga, pergi ke kebun
dan lain-lain. Seperti halnya saat kami berkebun ia selalu membantu kami,
mungkin karena dia kasihan dengan kami karena semuanya kami lakukan sendiri
seperti saat kami berkebun menanam sayur sore itu. Semua kegiatan kami biasa
lakukan berdua, kami malah merasa sungkan ketika Pak Satria selalu membantu
kami.
****
HP Pak Satria terdengar berdering kala
itu, saat kami meminta bantuan Pak Satria untuk mengerjakan PR IPA. Itu
merupakan telepon dari ibunya yang ada di Jawa.
“Halo, piye kabare, Le[1]?”.
Kudengar suara ibunya dari seberang telepon
“ Apik[2]
Buk”. Sahut Pak Satria sambil berlalu menuju luar rumah untuk ke tempat yang
lebih sepi.
Saat seperti itulah yang selalu Pak Satria
tunggu, yaitu telepon dari ibunya. Obrolan mereka nampak bahagia. Tak jarang
Pak Satria menghabiskan waktu lebih dari setengah jam. Waktu itu, Pak Satria
sering menanyakan kabar, dan apa saja yang terjadi di Jawa. Ia juga berbagi
kabar keadaannya di sini.
Pak Satria adalah seorang anak yang
sudah tidak memiliki ayah. Ayahnya telah meninggal lima tahun yang lalu karena
penyakit liver. Sebuah penyakit yang menyerang bagian hati. Dulu ia sangat
ketakutan saat sang ayah dengan terpakasa harus dimasukkan ke ruang ICU. Segala
macam kabel terpasang, kondisi ayahnya sudah sangat lemah.
Ibunya sangat lusuh dan sedih. Pak Satria
tertunduk di depan pintu ICU, sedangkan ibunya dituntun tantenya menuju ruang
tunggu. Saat itu ia juga sekilas adiknya menangis kencang ditenangkan oleh
pamannya di ujung lorong. Sekilas Pak Satria melihat sang dokter sibuk dengan
alat kedokteran seperi infus dan alat bantu oksigen yang menancap di hidung
ayahnya. Ia sangat ketakutan, dan air matanya tak henti-hentinya membasahi
pipinya.
Dua hari di ruang itu tak menyiratkan
kebahagiaan. Pak Satria malah mendengar tamparan berita yang menyebarkan duka
mendalam. Seketika ia terdiam, hanya tangis menggelora yang ia dengar memenuhi
lorong ruang itu.
“ Kami dari tim dokter telah semaksimal
mungkin berusaha tetapi, Bapak Purwanto tidak dapat kami selamatkan”
Ya, sosok yang selalu melindunginya itu
telah tiada. Duka menyelemutinya.
Pak Satria yang mempunyai sifat yang
sangat pemalu, pesimis dan sering putus asa. Ia juga sedikit sekali memiliki
teman baik. Banyak teman yang tidak mau menjadi temannya karena sifatnya
tersebut. Banyak juga yang mengejeknya sehingga dan ia pun sering mengalami
tekanan.
Saat menempuh pendidikan kuliah, sempat ia
tidak mau melanjutkan kuliahnya karena tekanan ekonomi keluarga. Pernah juga ia
meminta ibunya untuk berhenti kuliah dan bekerja saja tetapi, ibunya tidak
menyetujuinya karena sudah setengah jalan. Akhirnya Pak Satria tetap semangat
kuliah dan berhasil sampai mendapat gelar sarjana.
Ia juga bercerita bahwa ia dulu masih
ragu akan menjadi guru saat masih kuliah. Dengan segala sifat buruknya, ia
pesimis apakah ia dapat mengajar dengan baik atau tidak, tetapi ia terus
belajar dan menghapus sifat buruknya. Katanya untuk merubah sifat buruknya ia
selalu melihat sosok ibu dan adiknya. Sampai menjadi sosok Pak Satria yang sekarang
yang telah berubah 180 derajat.
Saat wisuda ia sempat merasa iri. Ia
melihat teman-temannya digandeng orang tua yang lengkap saat berjalan melewati
mimbar wisuda. Selesai wisuda ibunya memeluknya erat, ibunya sangat bangga. Pak
Satria sangat bahagia karena perjuangannya selama empat tahun terbayar. Ia juga
tak perduli lagi dengan keadaanya yang penting adalah ia harus membuat ibunya
bahagia.
Selesai wisuda, sempat juga ia merasa
kebingungan dalam mencari pekerjaan, alhasil Pak Satria sempat menganggur
selama enam bulan. Dalam masa itu ia mencoba mencari pekerjaan kesana-kemari.
Mendaftar guru sekolah, bimbel hingga ia nekat mencoba menjadi pegawai bank,
tetapi hasilnya nihil. Memang, di Jawa
katanya adalah tempat yang sulit dalam mencari pekerjaan, tetapi, kata Pak Satria
tidak ada yang tidak mungkin, jika kita terus berusaha. Ia mengatakan mungkin
saja belum saatnya dan belum rejeki.
Sampai ada program mengajar di daerah
terpencil. Tak mau melewatkan kesempatan, Pak Satria mencoba mendaftar,
barangkali ia dapat diterima. Rejeki memang tak kemana, benar saja ia diterima,
ia heran dapat diterima padahal yang mendaftar ribuan orang. Ia bersyukur,
walaupun ia harus terbang menuju NTT.
Sempat ia merasa sedih dan khawatir,
karena ia harus meninggalkan keluargannya. Lebih-lebih di rumah tidak ada sosok
laki-laki yang harus menjaga keluarganya. Ibunya juga sempat tidak setuju,
tetapi mau bagaimana lagi, kata ibunya semua demi kebaikan anaknya dan akhirnya
ia pun pamit dan terbang menuju Manggarai.
Sampai di sini ia sangat bahagia, ia
belajar ribuan pengalaman. Ia dapat menikmati kesederhanaan, kerja keras dan
rasa syukur. Walaupun kami berbeda suku dan agama, ia sangat bersyukur bertemu
masyarakat dan anak-anak di sini, katanya semangat belajar kami luar biasa. Dengan
itu ia sangat bahagia menjadi guru.
Sungguh luar biasa Pak Satria. Aku
sempat bersedih saat dulu mendengar cerita hidupnya. Cerita hidupnya membuatku
mengerti arti hidup ini yang mengajariku untuk selalu menghormati orang tua.
Walaupun sekarang aku ditinggal jauh oleh orang tuaku, aku harus belajar dengan
rajin dan harus bisa mandiri, karena belajar merupakan tugasku sebagai murid,
dan yang terpenting adalah suatu hari nanti aku harus menjadi polisi.
“Sudah selesai kah nomor 3?’’. Tanya Pak
Satria.
“Sudah Pak”. Jawab kami.
Aku tersenyum.
Comments
Post a Comment