THE TWIN'S DREAM (Part 11) : Di antara Hujan
11. Di
antara Hujan
(Kerinduan itu seperti hujan yang
menghujam bumi. Walaupun sakit tetapi selalu meninggalkan ketenangan dan
kesejukan)
Aku senang sekali melihat kebun tomat kami tumbuh
dengan suburnya. Buahnya mulai memerah, ada beberapa petak. Biasanya setiap
pohonnya ada 3-5 buah. Setiap panen tiba, pasti akan aku bawa ke pasar untuk
kami jual. Kebetulan tomat-tomat itu sudah dipesan oleh Koh Along. Ia adalah
seorang etnis China yang sukses sebagai penjual kios yang dekat dengan
sekolahku di pusat kecamatan. Kata Koh Along ia memesan banyak karena akan
berpesta. Aku mencoba untuk memanennya dan segera mengantarnya. Aku lantas
mengambil karung, ku rasa satu karung cukup.
“Sudah, tidak usah Ron, biar aku saja”.
Toni memberikan penawaran emas, ia terkesan sangat melarangku
untuk memanen tomat. Aku merasa akhir-akhir ini ia sangat mengkhawatirkanku.
Sejak aku pergi dari rumah dan pulang dalam keadaan sakit, ia sangat takut dan
khawatir jika aku kelelahan. Bahkan ia selalu mengingatkanku untuk selalu minum
air yang banyak dan selalu istirahat. Aku tersenyum dalam hati, Toni
benar-benar sudah berubah. Aku sempat menolaknya dan mencoba membantunya,
tetapi ia tetap melarangku.
“Tidak apa-apa Toni, aku sudah sehat.
Aku yang antar ke Koh Along saja e?”. Pintaku.
Ia sempat menolak, tetapi akhirnya ia menyetujuinya.
Ia tak mau melihatku lama-lama terpapar sinar matahari saat mencoba
mengumpulkan tomat-tomat matang. Akhirnya aku hanya melihat Toni berkeringat di
ladang. Aku kasihan melihatnya, tetapi mau bagaimana lagi ia benar-benar
melarangku.
****
Aku
mencoba menarik gas cepat-cepat. Cuaca sore itu benar-benar aneh. Beberapa
menit lalu saja cuaca sangat panas, sedangkan saat aku di perjalanan, aku
melihat awan gelap mulai memenuhi langit. Cuaca musim hujan selalu menimbulkan
kekecewan. Banyak yang berharap jangan cepat turun hujan. Tetapi saat musim
kemarau banyak yang berharap agar cepat turun hujan. Itulah manusia. Kalau aku
tak begitu mempermasalahkannya.
“Koh ini tomatnya, maaf
tak penuh sekarung”
“Tidak apa-apa Nana, ini cukup, bagus-bagus buahnya”
Sambil
memutar-mutar satu buah yang diambil dari karung ia lantas mengambil uang.
Memang tak seberapa, tetapi cukup untuk membeli beras atau telur untuk lauk
seminggu ke depan.
“Terimakasih Koh”
Aku segera berlalu karena aku sudah
merasakan gerimis mulai turun. Agak deras, tetapi tak menghentikan laju
motorku. Aku menggumam agar hujan tak deras mengguyur. Batinku, bisa kacau
kalau aku kehujanan. Bila aku kehujanan pasti aku sakit dan pasti akan membuat
Toni khawatir. Aku ingat saat sakit kemarin aku membutuhkan satu minggu untuk
benar-benar sembuh. Selama satu minggu pula aku berubah menjadi seorang bayi.
Apa-apa aku dibantu Toni. Agak sungkan memang, tepai tubuh sakitku tak mampu
berbuat apa-apa, lemas dan tak berdaya.
Aku lihat ke arah langit desaku,
gelap dan kelabu. Gawat, pasti sebelum sampai rumah aku pasti kehujan. Aku tarik
gas motor kencang-kencang, tetapi tetap waspada. Bukannya terhindar dari hujan,
malah aku bisa-bisa aku malah mencium aspal. Masih 1 km lagi, aku mulai
merasakan hujan mulai menghujam tubuhku. Aku teringat saat masih kecil, saat
hujan turun merupakan hal yang kutunggu. Bermain bola di antara hujan dengan
senangnya. Seolah tak takut dengan sakit atau apapun. Bisa berkecimpung dalam kubangan
lumpur lapangan merupakan hal yang sangat membuatku bahagia. Apa lagi saat bisa
mencetak gol, aku bisa dengan bangga bisa memutar kaos basahku dan eforia bisa
mencetak gol.
Harapanku pupus sudah, mau meneruskan
pejalanan atau mencari tempat berteduh. Aku gugup, aku segera mengehentikan
motorku pada gubug kiri jalan. Sebenarnya tinggal beberapa menit sampai rumah,
tetapi bayangan jika aku sakit karena kehujanan menghentikan langkahku.
Aku terkejut dalam gubug itu ada
manusia yang sangat ku kenal. Dia adalah Eflin. Temanku saat SMP dulu. Ia
pernah dua kali satu kelas denganku. Aku tak heran karena gubug ini berada
tepat di depan rumahnya. Seorang gadis cantik yang terkenal dengan
kepintarannya. Sejenak aku termangu menatap wajahnya, rambutnya yang hitam dan
lurus membuatku tak mampu mendengar sapaannya. Sepersekian detik aku terdiam,
saat sapaannya sekali lagi terucap dan membuatku tersadar.
“Hei Roni, dari mana kamu?”
Dengan gugup aku menjawab dan
sedikit terbata. Perasaan apa ini, aku begitu gugup dan canggung. Lantas aku
masuk ke dalam gubug. Kudapati dia sedang menggenggam buku besar. Tertulis
dengan jelas itu adalah buku IPS. Rajin sekali dia. Tidak heran ia adalah murid
yang tetap mempertahankan prestasinya. Teringat dulu saat ia di kelas dengan
lantang berharap ingin menjadi seorang dokter. Sebuah profesi yang harus
menguras otak untuk mendapatkannya, dan tentunya ia pantas untuk menjadi
seorang dokter. Aku juga masih ingat dulu ia tak pernah mendapat nilai di bawah
tujuh dan sering mendapat nilai sempurna.
“Rajin sekali kamu, aku sangat
pusing jika belajar IPS, banyak sekali hafalan di dalamnya”
“Iya Ron, aku sedang ingin belajar
di antara hujan, soalnya membuatku lebih berkonsentrasi”
Seketika aku memandang tetesan
hujan yang menuruni atap gubug seiring alunan hujan yang sangat nyaring dan
kemudian jatuh ke bumi dan menggenangi jalan. Aku juga memandang langit yang
seolah tertutup kabut, menandakan hujan ini begitu tahan lama. Seketika Eflin
merubah duduknya, yang tadinya bersila kemudian meniru duduk ku dengan kaki
yang menggantung. Ia melepaskan buku dan menegadahkan tangannya ke arah air
hujan yang turun dari atap. Matanya terlihat terpejam dengan tangan yang basah. Ia sangat
menikmati.
“Aku sangat suka hujan. Ya, aku
sangat menyukai hujan selain sejuk dan dingin, aku juga merasakan yang namanya
ketenangan, kedamaian dan kerinduan”.
Dengan spontan aku menirunya. Hanya
tangan basah yang kudapat tak ada perasaan apapun yang kudapat dari yang aku
rasakan. Aku paham, mungkin setiap orang dapat merasakan semua yang dikatakan
Eflin dengan cara yang berbeda. Sepertlihalnya aku, aku bisa merasakan ketika
merasakan deburan ombak pantai dan sentuhan langit jingga bernama senja.
“Aku tak merasakannya Flin.”
Sahutku dengan sedikit terkekeh.
“Roni, Roni, coba lah rasakan
dengan hati, kamu akan menemukannya. Aroma hujan selalu membuatku terjebak
dalam kerinduan. Aku rindu kakak-kakakku.”
“Pergi kemana mereka?”
Seketika ia menurunkan tangannya.
Wajahnya yang ceria berganti masam yang cenderung sedih. Aku tahu dia memiliki
tiga orang kakak. Yang aku tahu yang satu sudah menikah dan yang dua
kemungkinan sudah bekerja.
“Mereka tak pernah pulang”
Seketika kami terdiam aku memandang
matanya yang sayu. Seperti itulah batinku bergejolak merasakan kerinduan yang
sama dengannya. Merasakan kerinduan hadirnya keluarga.
“Kakakku yang satu telah
berkeluarga, ia telah sukses di Jawa. Walaupun ia sering mengirim uang untuk
Mama dan Papa, pekerjaanya yang sibuk mengharusnya tak pernah pulang ke
Manggarai”
“Sedangkan kedua kakakmu?”.
Sahutku.
“Mereka sudah bekerja serabutan.
Pilihan mereka dengan Pulau Jawa entah mengapa membuat mereka tertarik dan
seolah lupa dengan tanah kelahiran”
“Sudahlah Flin, kamu masih
beruntung masih ada orang tuamu yang selalu ada. Bukannya selain membuatmu
rindu, hujan juga membuatmu tenang?”.
Aku sedikit menghiburnya. Isi
hatinya seolah berbalik kembali, ia tersenyum manis. Entah mengapa saat ia
tersenyum aku sangat bahagia, seolah setiap detik yang berdenting melambat dan
terdiam seketika.
“Setelah SMA, kamu akan melanjutkan
kemana Ron?”
“Entahlah Flin, aku ingin meraih
cita-citaku dulu: Polisi”
“Wah kamu masih mempimpikan
cita-citamu itu ya?. Raihlah sampai dapat”
“Terimakasih Flin, hehe. Pasti kamu
juga akan menjadi dokter kan, mau melanjutkan di Jawa kan, di sana kan bagus
sekali kalau sekolah dokter Flin?”.
Seketika Eflin kembali terdiam.
Wajahnya mungkin lebih sedih dari pada ia menceritakan tentang kakak-kakaknya.
Aku pun merasa bersalah dan bingung, mungkinkah aku salah bertanya?’’.
“Lebih baik aku tak menjadi dokter
Ron, aku tahu untuk menjadi dokter membutuhkan uang yang tak sedikit. Sedangkan
orang tuaku hanya bekerja sebagai petani, uang yang dikirim kakakku pun tak
mampu membawaku terbang meraih cita- citaku. Aku akan melanjutkan pendidikan
guru di Ruteng. Aku akan menjadi dokter pendidikan saja Ron”
Elfin pun tertawa kecil. Aku
terdiam seketika dengan penjelasannya. Apakah aku bisa?. Aku tersenyum diiringi
hujan yang mereda. Kulihat tetesannya hanya meninggalkan gerimis yang tak
seberapa. Aku memutuskan untuk pulang. Dalam batinku, di rumah pasti Toni gusar
menanti kepulanganku. Aku pamit pada Eflin dan memandangnya lagi sepersekian
detik, kemudianaku berlalu. Senyumannya masih saja terbayang.
Comments
Post a Comment