THE TWIN'S DREAM (Part 15); Kami Bisa


15.  Kami Bisa
(Pantang menyerah sepertihalnya membuka pintu dan tinggal memasukinya.)

Waktu menunjukkan pukul 11. 15 malam. Lelah sekali hari ini, tetapi kami senang, karena kami mendapatkan gaji pertama kami. Uang yang cukup untuk makan kami selama satu bulan ke depan, yang penting kami tak merasa bosan dan selalu bergantung pada orang tua kami. kubuka pintu kamar, Toni mengikuti dari belakang dan langsung nyenyak dalam tidurnya. Sejenak kulihat HP, ku baca pesan singkat dari Mama.
“Jaga kesehatan, Nana, kalau uang kalian habis hubungi Mama”.
“Iya Mama, kami istirahat dulu”.
Kusempatkan membalas, walau di sana telah lewat tengah malam. Sejenak kusandarkan kepalaku. Sisa lelah kerja hari ini yang sedang ramai-ramainya dengan skripsi. Kucoba memejamkan mata, dibalut pengapnya udara kota.
****
            Seperti biasa, kami harus pagi-pagi menuju tempat kerja. Kami agak berlari pagi ini, karena kami bangun telat. Kami seolah saling berkejaran karena kami takut Pak Anwar marah. Kami lewati asap kendaraan yang mulai ramai oleh sibuknya kota. Agak jauh memang, tapi kami harus cepat.
            Sesampainya di tempat kerja, kami langsung menyentuh setumpuk kertas yang seolah menggunung. Memang di tempat ini ada empat pekerja lain, Sholikin, Ahmad, Rido dan Danang yang merupakan senior kami. Mungkin kami harus memiliki delapan tangan, tetapi tetapi tak habis-habis untuk kami karena saking banyaknya yang harus kami kerjakan. Seperti biasa, menjilid, memfotocopy adalah hal yang sudah biasa, kami sudah ahli sekali dalam mengerjakannya. Walaupun begitu, tetapi pekerrjaan ini ada lagi dan lagi.
            Siang itu kami menerima fotocopy dari seorang bapak setengah tua. Tubuhnya tegap, dan kulitnya yang hitam. Ia akan memfotocopy sebuah brosur pendaftaran untuk bekerja sebagai tim SAR. Sebuah pekerjaan yang bertugas membantu masyarakat misalanya saat terjadi sebuah bencana alam. Toni membaca brosur tersebut, sedangkan aku mendengarkan sambil menjilid skripsi mahasiswa-mahasiswa akhir yang segera akan lulus. Toni bertanya tentang tugas-tugas tim SAR dan di mana tugasnya. Bapak tersebut menjelaskan bahwa pekerjaan ini dibutuhkan banyak personil segera, karena personil yang kurang. Kata bapak itu, sekarang sedang terjadi bencana gunung meletus di Yogyakarta, bahkan TNI yang membatu, sangat kuwalahan karena kurang sekali personil. Seketika Toni kaget mendegar kata “TNI”, ia tersenyum dan meminta satu brosur tersebut dan melanjutkan tugasnya.  
****
Kali ini kami pulang agak cepat. Sesegera mungkin kami pulang, karena hari ini hari libur maka agak sepi, sehingga tutup lebih cepat. Aku masih penasaran apa yang difikirkan Toni tentang yang dilakukannya meminta brosur bapak tadi siang.
“Aku daftar menjadi tim SAR saja Ron”.
Sambil mengeluarkan brosur yang ia lipat rapi di saku kanannya. Aku memicingkan mata, aku bertanya-bertanya apa maksudnya.
“Aku akan mencari informasi tentang pendaftaran TNI dan polisi dulu Ron, barangkali aku bisa bertemu TNI di sana”.
Memang selama ini kami belum sempat mencari informasi tentang pendaftaran tersebut, termasuk alamatnya kami juga belum tahu. Aku sempat menolak, tapi Toni memaksa, ia menenangkannku, ia juga berkata bahwa aku tak perlu khawatir. Aku hanya mengangguk dan terdiam, sampai langkah kami sampai di kos kami.
****
Keputusan Toni tak bisa diganggu gugat. Ia begitu menggebu dan yakin dapat melancarkan jalan kami. Ia telah menyatakan pada Pak Anwar bahwa ia ingin keluar kerja. Toni langsung saja pergi ke alamat brosur yang tertera. Aku percaya dengan dia, dia sempat berpesan untuk melarang aku memberitahu Mama dan keluarga tentang pekerjaan yang ia lakukan. Aku sempat kebingungan, dan hanya mengiyakan saja.
“Bagaimana jika Mama mencari?”. Tanyaku.
“Kamu pura-pura saja jadi aku, suara kita kan sama, hahah”.
Ide konyolnya membuatku semakin gusar. Saat yang sama ia cengengesan dan memegang pundakku.
“Aku akan berusaha membuka jalan kita mencapai apa yang kita inginkan, tenang, dan doakan aku”.
“Hati-hati Ton, jangan lupa untuk kembali kesini ya”. Pintaku.
“Pasti”.
Sambil berlalu Toni meyakinkanku lewat senyumnya dan berlari ke ujung gang. Aku masih saja mengkhawatirkannya, keputusannya terlalu berbahaya. Saat menjadi tim SAR apakah ia tidak apa-apa?. Pikiranku semakin macam-macam, tetapi ia begitu meyakinkanku, lewat senyumannya tadi.
****
Desa Kinahrejo, Sleman, Jawa Tengah, 21 Agustus 2017
            Meletusnya gunung merapi membuat masyarakat geger. Gunung yang terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta itu telah sukses meluncurkan awan panas dan merusak desa-desa di sekitarnya selama satu minggu ini. Lahar panas juga mulai aktif menuruni gunung dengan warna merah menyalanya. Kemarin Desa Kinahrejo porak poranda akibat awan panas. Beberapa warga tak mampu menghindar dan akhirnya terjebak. Korban jiwa tak mampu terelakkan, karena letusan malam kemarin terjadi secara tiba-tiba, ditambah arah awan panas yang berubah ke arah desa tersebut.
Evakuasi pun dilakukan, tim SAR terjun, begitupula TNI yang datang menyusul. Korban jiwa berjatuhan, mereka yang meninggal, karena tak sempat lari. Pagi itu merekapun segera mengevakuasi seperti halnya Toni. Ada perasaan getir dihatinya, ditambah rasa takut yang selalu berkecamuk. Ia telah mengangkut korban yang ke-9. Menurut berita ada 16 korban yang terjebak. Sangat lelah, ia mencoba menyingkirkan keringatnya yang memenuhi dahinya, sambil menyisir desa yang berdebu.
Sambil mengangkat korban merapi, sesekali ia waspada melihat sang gunung, barangkali ia mengamuk lagi dan memuntahkan isi perutnya lagi. Toni dan tim SAR lainnya berlari untuk ke tiga kalinya karena mendengar suara letusan dan gemuruh dari puncak gunung. Jauh di seberang desa yang dipenuhi abu telah siap puluhan mobil jeep TNI yang siap berlari barangkali awan panas mengejar mereka. Sungguh perjuangan yang luar biasa, walaupun lelah Toni sangat puas bisa menolong korban.
Korban terakhir telah berhasil diangkat, walau di penuhi dengan rasa khawatir tetapi perjuangan mereka memuaskan. Toni dan yang lainnya menuju rumah sakit dan setelah itu ia ditugaskan untuk mengurus pengungsi yang berhasil dievakuasi. Sejenak ia menikmati angin di atas mobil jeep yang melewati hutan pinus. Hutan yang tidak terjamah awan panas. Sangat hijau dan asri. Ia menghirup oksigen dalam-dalam. Terpaan angin yang mengeringkan sisa-sisa peluh yang tercetah di dahinya. Matanya memandang luas pada jalan yang berliku. Mengingatkannya pada jalanan Flores yang berkelok. Ia sangat bersyukur dan berdoa agar merapi segera tenang dan tertidur kembali.
Rumah sakit terasa penuh sesak. Setelah menurunkan korban Toni segera ia menuju ke pengungsian. Tenda pengungsian terletak persis berada di belakang rumah sakit tersebut. Suasana sangat ramai, tetapi Toni sangat sigap mencoba menolong korban dengan membantu membagikan makanan dan selimut, bersama puluhan TNI.  Selepas itu, ia menghampiri seorang TNI dan mencari informasi tentang pendaftaran TNI dan polisi di Semarang. Ia menemui TNI muda yang sedang sibuk mengurus anak-anak kecil yang membutuhkan makanan. Agung nama TNI itu, parasnya yang teduh, hidung mancung dan potongan pendek TNI menjadi ciri khas.
“Sudah lama Mas jadi TNI?”. Toni bertanya.
“Baru saja mas, saya baru lulus pendidikan”.
Sambil memperkenalkan diri, Toni bertanya banyak.  Dengan basa-basi ia berbincang-bincang dari cerita dari mana Toni berasal sampai dengan keinginannya mencari informasi tentang pendaftaran.
“Kebetulan sekali mas, saya lulus dari pendidikan di sana, dan jangan khawatir, kalau pendaftaran polisi maupun TNI, seperti saya, jika lolos tes gratis kok, saya akan bantu”.
Tawa renyah Agung mengembangkan senyum Toni. Kebetulan sekali, Toni bertemu dengan Agung yang bersedia membantu untuk mencari alamat pendaftaran dan memberikan kiat-kiat agar bisa diterima. Toni sangat bersyukur, kala itu ia akan memberikan berita baik kepadaku.
****
            Aku mengambil nafas dalam, sejak kepergian Toni satu bulan yang lalu pekerjaanku semakin sibuk, kami kualahan, apalagi bulan depan kampus Unnes akan ada wisuda. Tumpukan skripsi seolah melambai-lambaiku untuk segera di selesaikan. Saat sibuk-sibuknya, lagi-lagi aku memikirkan kakakku, apa dia baik-baik saja?. Aku menjadi sering melamun saat bekerja.
            “Mas, di mana kembarannya mas, kok tidak pernah kelihatan?, Mas?”.
            Tanya Mbak Dyah, mahasiswa yang sering fotocopy di sini menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya bisa tertawa dan menjawab bahwa kembarannku pergi bekerja di lain tempat. Sejenak lagi-lagi aku mengambil nafas panjang, sampai kapan aku menghawatirkan si Toni yang berhasil membuatku khawatir terus-terusan. Kebingunganku sukses membuat Ahmad dan senior lainnya berfikir bahwa aku bersedih memikirkan Toni. Dengan kocak Ahmad mencoba menghiburku. Musik dangdut iamainkan keras-keras. Sangat konyol ia berjoget ria di depanku dan mengajakku untuk berjoget. Aku terkekeh, lucu sekali setidaknya ia sedikit mengobati rasa cemas ini.
Aku juga mulai lelah membohongi Mama jika menghubungiku. Aku harus berpura-pura jadi Toni jika Mama ingin berbicara dengan Toni. Aku tahu itu tidak baik, tetapi aku tak mau membuat Mama khawatir.
*****
            Aku mencoba menyandarkan tubuku di tembok kamar. Setelah membersihkan diri dan makan malam aku mencoba untuk memejamkan mata saja. Sekejap aku tertidur hingga ada suara ketukan di pintu kamarku. Seperti biasa, pasti Bu Sumi memberikanku makanan kecil atau sekedar mengingatkanku untuk makan dulu. Ia memang sosok ibu yang luar biasa, tidak heran ia berhasil membuat kedua anaknya sukses di Jakarta.
            “Iya bu, sebentar”. Sautku.
            Jawabku sambil mencoba mengumpulkan nyawaku. Mau tak mau membuka pintu, walaupun malas sekali aku membuka pintu dalam keadaan yang belum begitu sadar. Sambil mengucek mata aku kaget bukan main, karena bukan Bu Sumi yang berada di depan pintu kamar, tetapi Toni yang cengengesan menatapku.
            “Toni!!”.
            Aku memperhatikan tubuhnya, sepertinya tak ada yang kurang satu pun. Aku memeluknya dan menjitak kepalanya. Tak kusangka dia pulang juga. Ia telah melenyapkan kegusaranku malam itu. Tubuhnya lusuh dan tampak lebih hitam, anak ini mungkin sempat terbakar merapi.
            “Kamu terbakar awan panas kah??”. Candaku.
            Ia memukul perutku pelan.

Comments

Popular posts from this blog

Wirosari Gumregah (Wirosari Bangkit)

Bledug Kuwu Si Mud Volcano dan Cerita Si Dragon Baru Klinting

THE TWIN'S DREAM (Part 16): Keberhasilan