THE TWIN'S DREAM (Part 12): Pulang dan Pergi


12.  Pulang dan Pergi
(Sesuatu yang terbaik pasti datang untuk mereka yang pantang menyerah.)

Kedatangan Mama dan Papa dari Manado merupakan waktu yang sangat tepat. Lusa besuk kami menerima kelulusan SMA, kami optimis karena kami berdua berjuang mati-matian agar kami mendapat nilai yang memuaskan. Saat itu  kami mendengar kabar dari Om Agus bahwa semua keluargaku akan pulang. Bukan hanya Mama dan Papa, kak Astri dan Kak Indra rela mengambil cuti beberapa minggu untuk pulang kampung bertemu kami.
            Setelah pulang dari gereja, kami siap untuk sibuk. Toni mulai sibuk memotong sayur dan siap untuk memasak. Ia memang jago dalam memasak. Aku pun tak kalah sibuk aku merapikan seluruh sudut rumahku. Menyapu rumah dan halaman, membersihkan tembok, kursi, tempat tidur, dapur dan tak lupa kamar mandi. Setelah beres, aku menghempaskan tubuhku ke kursi, keringatku mengucur deras dari kening dan memenuhi mukaku.
            Aroma semur ikan buatan Toni memang luar biasa. Aromanya sungguh membuat siapa saja yang menghirupnya pasti akan terasa lapar. Minggu itu memang membuatku sangat lelah, setelah semua beres kami lekas mandi lagi dan siap menyambut tamu agung, keluarga kami.
            Toni masih saja gusar, duduk, berdiri kemudian duduk lagi, sesekali ia menengok jalan depan rumah. Sedangkan aku, duduk di depan pintu sambil sesekali menyeruput kopi dan selalu mengharap kedatangan otto siang itu. Satu jam berlalu, dua jam pun telah lewat. Akhirnya yang kami tunggu tiba, ada otto yang berhenti agak jauh dari rumah. Mereka sudah datang, keluargaku pulang. Seberang jalan, terlihat kak Astri tampak lebih dewasa, begitu pula kak Indra penampilannya berubah, ia sekarang berkumis tipis. Ia sudah lebih rapi, tak seperti pertama kali kuliah yang super acak-acakan.
            Kami berlari cepat menghampiri mereka. Aku langsung memeluk mama. Aku memeluk erat mama dengan air mata yang tak mampu terbendung.
“Aku nuk[1] ite[2], Mama”.
            Kulihat Toni memeluk Papa, dan kami semua berpelukan. Tak belama-lama, kami segera masuk rumah dan mempersilahkan mereka untuk istirahat. Kopi hangat segera aku putar, kak Astri juga membantu.
            “Hei, ase[3] daku[4] poli[5] mese[6] e”.
            Di sela ia menuang air panas Kak Asih berkata padaku bahwa kami sudah tumbuh besar. Aku hanya mengiyakan sambil memasukan gula dan kopi ke enam gelas di depanku. Toni yang telah selesai memasukkan barang-barang, kemudian ia membantuku untuk mengeluarkan nasi dan sayur yang telah Toni buat tadi. Suasana yang sungguh kami rindukan saat ini. Makan bersama dengan keluarga tercinta. Aku sudah tak rindu. Aku bahagia. Kehadiran mereka inilah yang aku rindukan, ketika Kak Indra dengan bangganya menceritakan kesuksesannya. Suasana langka, rasanya seperti ribuan tahun tak bertemu mereka.
****
            “Mama, kami lulus!!”.
            Kami berdua berlarian menghampiri keluarga kami. Mereka tampak bangga dan memeluk kami. Kak Indra yang paling bahagia mendengar kabar dari kami. Ia mengangkat kami dengan bangganya padahal, tubuh kami telah tumbuh besar. Aku mencoba melepaskan pelukan Kak Indra, karena kami merasa sangat malu karena perbuatannya.
            “Mau jadi apa kalian nanti?”. Tanya kak Indra sesaat memeluk Toni.
            “TNI dan Polisi kakak”. Jawab Toni.
            Sesaat semua diam. Tampak semua diam, hanya sunggingan senyuman kecil di wajah Papa. Papa entah mengapa langsung masuk rumah diikuti oleh Kak Astri yang sedang mempersiapkan makan siang.
            Decak aneh tersorot jelas dari mimik muka Papa saat mendengar apa yang kami inginkan setelah lulus. Kak Indra menghentikan lamunanku. Tangannya berhenti di pundak kami, ia tersenyum seolah menenangkan hati kami.
            “Kalian tenang saja, apa pun impian kalian, kalian harus mewujudkannya”.
            Senyumannya melegakan kami, ia mengusap kepala kami begitu pula Mama, namun Mama hanya diam dan mempersilahkan kami untuk masuk ke rumah dan mengganti pakaian.
****
            Sore itu kami sedang santai sedangkan langit menangis deras, aku menunggu kak Indra yang tak kunjung pulang dari Ruteng, katanya ia akan membelikan sesuatu untuk kami. Sesaat kemudian kak Indra pulang karena terdengar suara butut motor kami. Sosok yang kami tunggu datang.
“ Kakak datang!!!”. Sorak kami.
            Banyak sekali yang ia bawa, selain membawa banyak sayur ia juga membawa barang bawaan, seperti tas dan buku, ia juga membelikan kami semua pakaian baru. Tak sabar kami memilih-milih baju yang pas untuk kami sekeluarga, begitu pula Toni dan Kak Astri. Wajah senang tercetak jelas di wajah kami. Sangat deras hujan sore itu, tetapi seolah tak kami hiraukan. Sudah lama kami tak memiliki baju baru. Terakhir membeli baju yaitu saat kami masuk SMA, itupun dengan uang tabungan kami hasil kami menjadi kuli di pasar. Tak apalah itu pun hasil kerja keras kami yang tak merugikan orang lain.
Aku ingat saat itu, dengan Toni kami selalu cepat-cepat menuju pasar jika hari jumat dan sabtu tiba segera mungkin kami berubah menjadi kuli panggul pasar, kemudian menerima uang kecil, hanya sekedar uang terimakasih. Uang itu kami tabung, sekedar mengurangi beban orang tua.
Puas memilih, Kak Indra duduk di kursi melepas lelah setelah mengendarai motor dari Ruteng ke Tadonunang yang berkelok-kelok. Mama segera memberi kak Indra kopi panas untuk mengusir lelah yang teramat sangat. Sesaat kemudian ia mengajak kami berbicara tentang keinginanku menjadi TNI dan polisi.
            “Apa kalian serius ingin menjadi TNI dan polisi, Nana?”.
            “Iya kak kami sangat serius. Nanti Kak, jika kami bisa, kami akan menumpas penjahat-penjahat, dan nanti Kak kami akan melindungi negara kita”. Jawab Toni.
            Dengan bangganya Toni bercerita sambil memperagakan seolah-olah memegang pistol dan menembak dengan semangat memperagakan saat nanti ia menjadi TNI.
            “Tidak usah saja e Nana, sekolah yang lain saja”.
            Suara Papa menyaut pembicaraan kami, Papa seolah sangat tidak setuju dengan keinginan kami. Seketika semua diam. Aku langsung ingat tempo hari setelah pulang menerima kelulusan, saat itu wajah Papa berubah drastis dan seolah menolak cita-cita kami.
            “Kenapa Pa?” suaraku lirih.
            Ia berdiri di ambang pintu sambil menyalakan rokok dan menghisapnya kuat-kuat. Sesaat kemudian ia duduk dan menjelaskan semua alasan penolakannya.
            “Untuk menjadi Polisi atau pun TNI tidak membutuhkan uang yang sedikit Nana, Papa tidak menolak, tetapi keadaan ekonomi keluarga sangat kurang. Kak Astri juga membutuhkan banyak uang untuk semester terakhir”.
            Seketika aku terdiam, begitu juga kak Indra hanya tertunduk, begitu pula Toni. Ia yang tadinya bersemangat, berbalik termangu. Nampaknya ia lebih tertarik melihat tetesan hujan di luar rumah yang saat itu terdengar sangat keras menghujam kaleng bekas. Papa beranjak masuk kamar diikuti Mama dan kak Indra.
            Aku dan Toni saling melihat, tak ada sepatah katapun saat itu. Kecewa? mungkin iya atau pesimis lebih tepatnya. Papa sudah bilang seperti itu membuat kami sangat ragu dengan cita-cita kami. Beberapa menit kami terdiam, sampai Kak Indra keluar dari kamar dan menghampiri kami, ia mengambil sesuatu dari tasnya. Rupanya ia mengambil sebuah koran.
            “Hei, jangan melamun”. Kak Indra mencoba mencairkan suasana.
            Aku masih saja terdiam, ia membuka halaman ke-10 koran itu. Dalam halaman itu menjelasakan tentang pendaftaran TNI dan Polisi pada bulan oktober nanti. Mataku sempat terbelalak, tapi saat teringat kata Papa, aku masih saja malas untuk ikut membaca. Kak Indra mengeja berita itu bahwa ada pendaftaran di Jawa, tepatnya di Semarang. Aku sontak kaget, aku juga mendengar bahwa untuk mendaftar menjadi TNI dan Polisi semuanya tidak dipungut biaya dan semua tes yang diinginkan harus lulus. Berita tersebut juga menjabarkan kriteria dan syarat untuk tes-tes apa yang diinginkan untuk bisa lulus. Tes fisik dan tes kesehatan juga di jelaskan, berita itu juga menjelaskan tentang himbauan agar jangan percaya bahwa dalam menjadi TNI atau polisi itu membutuhkan biaya yang sangat mahal.
            “Jika memang kalian membutuhkan biaya untuk meraih cita-cita kalian, kakak siap membatu kok, tenang saja Papa sudah mengerti kok”.
            Kak Indra merengkuh kami yang berada di kanan dan kirinya. Ia mengusap kepala kami sambil berlalu menuju kamar. Sungguh lega hati kami sore itu, Kak Indra sungguh kakak yang baik, sejak kecil ia memang seperti itu selalu membuat kami tenang dengan masalah yang kami hadapi. Kami tersenyum.
****
            “Ayo lebih cepat Toni!!”. Teriakan Kak Indra memberi semangat.
            Esok itu kak Indra mengajak lagi kami berdua untuk berlatih fisik untuk persiapan kami untuk mendaftar sebagai TNI dan Polisi. Sudah seminggu kami berlatih. Kami berlari mengelilingi halaman yang cukup luas di depan rumah kami, yang kami gunakan untuk berlatih dengan sungguh-sungguh. Push up, sit up dan sekot jump juga kami lakukan beratus kali sampai bisa memenuhi syarat pendaftaran. Kami istirahat dan memulainya lagi sampai kami bisa. Dalam berlari aku sudah lebih cepat dari Toni, tetapi dalam push up aku kalah. Papa memandang kami dan tersenyum kepada kami. Sejak seminggu yang lalu, Papa memang jarang sekali berbicara dengan kami, tetapi sekarang memberikan senyum lebar kepada kami dari kejauhan. Aku bersyukur ia terlah mendukung kami.
“TNI agu[7] Polisi dongki, semangat e, ayo terus!!”.
            Teriakan Alvin menghampiri kami saat kami masih serius berlatih. Tepuk tangannya seolah memberikan kobaran semangat yang sangat membara. Aku semakin bersemangat dengan impianku. Siapa bilang mimpi itu hanya bunga tidur?, mimpi adalah kenyataan yang harus aku raih. Kami menyeka keringat sambil sekedar melepas dahaga. Matahari sudah tampak tinggi, kami putuskan, besok kami lanjutkan lagi.
****
Orang tua kami tak kembali lagi ke Sulawesi, mereka sudah mendapatkan pekerjaan di sini. Papa bekerja di kantor kecamatan sedangkan Mama bekerja di PAM. Aku bersyukur setidaknya mereka tak harus jauh-jauh lagi bekerja, sedangkan kak Astri bulan lalu sudah kembali ke Sulawesi untuk menyelesaikan kuliah. Kak Indra sendiri akan dipindahtugaskan ke perusahaan yang berada Ruteng katanya agar bisa menjaga Mama dan Papa.
Malam itu kami duduk di depan rumah. Mama duduk di sampingku dan tak henti-hentinya memeluk kami. Papa terduduk di depanku seraya memberikan kami wejangan yang panjang dan lebar. Ia benar-benar khawatir dengan kami. sedangkan Kak Indra berdiri di depan pintu dan memandang bangga kami, ia tersenyum lebar. Sudah dua bulan kami siap untuk berjuang. Berjuang untuk impian yang mungkin hanya impian anak kecil lima tahun yang lalu. Impian yang mungkin hanya sebagai impian yang hanya diimpikan. Aku harus percaya, mimpiku harus terwujud. Kami benar-benar akan pergi ke Jawa, walaupun pendaftaran masih empat bulan lagi kami putuskan untuk mencari pengalaman dahulu. Besuk kami akan pergi jauh. Maaf, hanya itu yang bisa malam itu kami ucapakan karena membuat papa sempat tidak setuju. Kami juga meminta restu dan doa agar kami sukses.


[1] Rindu
[2] Kamu (Sopan)
[3] Adik
[4] Aku
[5] Sudah
[6] Besar
[7] Dan/ dengan

Comments

Popular posts from this blog

Wirosari Gumregah (Wirosari Bangkit)

Bledug Kuwu Si Mud Volcano dan Cerita Si Dragon Baru Klinting

THE TWIN'S DREAM (Part 16): Keberhasilan