THE TWIN'S DREAM (Part 14): Selamat Datang di Kota Semarang
14. Selamat Datang di Kota Semarang
(Ketika
kau bersungguh-sungguh maka kau akan mendapat hasilnya.)
Zainul memeluk kami. Ia berkata, dia
akan bangga ketika suatu saat menjadi seseorang yang kami inginkan. Kota
pahlawan memisahkan kami. Ia adalah seseorang yang sangat inspiratif, ia rela
jauh dari keluarganya, hanya untuk kebutuhan keluarganya. Bahkan ia rela
meninggalkan anaknya yang masih kecil, semuanya ia lakukan untuk anaknya dan
untuk masa depan anaknya. Perjalanan masih satu hari, besuk pagi kami sampai.
Tidak sabar kami segera menginjak tanah, karena selama tiga hari tiga malam
kami terapung di lautan. Untung saja aku hanya mabuk darat, kalau mabuk laut
bisa-bisa aku pingsan di kapal.
Hari mulai malam, aku menyandarkan
tubuhku di ranjang kapal, sedangkan Toni baru saja selesai menghubungi Mama.
Mama berkata tetap hati-hati dan jaga kesehatan. Toni juga menceritakan saat
aku mabuk di otto. Menyebalkan, Mama
dan Papa tertawa dan mengejekku, tetapi tak apa bagiku yang penting mereka tak
lagi bersedih.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, besuk
pagi kami sudah sampai tujuan. Aku menata bantal dan menarik selimut, diikuti
Toni yang mematikan lampu dan sesegera mungkin masuk ke alam mimpi. Seperti
mimpi kami yang akan segera terwujud.
****
Mentari masih belum muncul. Fajar
itu aku sangat kaget karena awak kapal membangunkan kami untuk segera turun
karena sudah sampai Semarang. Sontak kami kaget, segera kami raih tas ransel
kami dan tas pakaian kami. Kulayangkan pandangan kami menyusuri sudut demi
sudut kamar, barangkali ada barang kami yang tertinggal. Setelah beres, kami
segera turun kapal. Kami harus bersabar, karena ribuan penumpang antri menuruni
kapal.
Lega, aku telah menginjak tanah,
tanah pelabuhan. Kubaca dengan jelas “PELABUHAN TANJUNG EMAS, SEMARANG”. Kami
segera melangkahkan kaki kami bersama mentari yang nampak meninggi. Kami sempat
bingung, kemana kaki ini harus melangkah. Tujuan kami yaitu segera mungkin
mencari tempat tinggal. Angkot pun mengantar kami berkeliling kota. Panas, itu
yang pertama kali kami rasakan, padahal ini masih pagi. Mungkin panasnya dua
kali lipat dari kampungku. Apalagi dalam angkot sangat penuh sesak, kala itu
para penumpang memandang kami lekat-lekat. Mereka memandang kami, orang kembar
bermuka sama yang terlihat bingung.
Dari balik jendela angkot, kusebarkan
pandanganku pada pemandangan kota yang sangat padat. Kulihat jalan raya yang
terisi penuh kendaraan yang tak ada habisnya. Ramai sekali, kemudian kulihat
gedung-gedung tinggi yang menyentuh langit. Aku memang tampak udik, tak
apa, memang aku anak desa.
“Kiri pak”.
Kami putuskan untuk turun saja, karena kami
bingung harus turun di mana, karena penumpang sudah tidak ada lagi, kami pun
ikut turun saja. Kebetulan sekali angkot ini rutenya berhenti menuju kawasan
kampus yaitu Universitas Negeri Semarang, kami berhenti saja di kampus ini.
Kata Kak Indra yang harus mencari tempat tinggal yang terjangkau yang sama
dicari oleh para mahasiswa. Segera kami menyusuri gang untuk mencari tempat
tinggal.
Kami sempatkan menghampiri kios kecil
pinggir jalan. Kami memesan es teh yang sanggup melenyapkan dahaga yang dari
tadi menyiksa tenggorokan kami. Setiap tegukan seolah melegakan dan menghapus
lelah kami. Segera kami melanjutkan langkah kami. Terdapat jajaran rumah yang
bertingkat, kami tanya satu persatu rumah tersebut. Ada yang murah ada pula
yang mahal, dan sampai akhirnya kami memilih rumah yang beratap hijau itu.
Rumah itu hanya memiliki tiga kamar, harganya terjangkau dan sederhana. Pemilik
rumah itu adalah bu Sumi, seorang janda tua yang mengubah rumahnya menjadi
kos-kosan semenjak dua anaknya sudah bekerja di Jakarta. Kos ini hanya kami
berdua, sedangkan anak kos yang lain telah lama lulus.
Segera kami menempati kamar yang sama,
di dalamnya berisi dua kasur yang terhampar di lantai. Segera kuletakkan tubuh
ini menikmati empuknya kasur. Begitu juga Toni, tanpa di suruh ia langsung
melempar tubuhnya ke kasur. Kami istirahat siang itu. Lelah sekali, yang
penting kami telah sampai tujuan kami.
****
Satu minggu di sini membuat kami bosan,
tetapi tetap saja kami latihan. Menjadi jadwal rutin kami untuk mengahadapi
pendaftaran yang masih tiga bulan lebih. Aku masih ingat pesan Kak Indra. Ia
berpesan bahwa kami harus tetap latihan agar tetap menjaga fisik kami. Melihat
keuangan yang menipis, kami putuskan untuk bekerja saja. Tak mau terus menerus merepotkan
Kak Indra dan memintanya mengirimkan uang, sedangkan uang yang dibawakan
keluarga kami akan kami tabung untuk jaga-jaga, barangkali ada kebutuhan yang
mendesak. Toni berkata bahwa kita tak boleh manja terus-terusan. Aku jadi
teringat saat kami berkelahi gara-gara kenakalan Toni, dia benar-benar telah
berubah.
****
Hari ini kami putuskan untuk mencari
kerja. Dandanan necis dan rambut yang klimis, kami siap mencari kerja.
Beralaskan sepatu butut yang kami bersihkan sebersih mungkin.
“Mau pergi kemana, Nak?”.
Tanya Bu Sumi yang sedang sibuk menyapu
lantai dan halaman kos. Tubuhnya yang mulai renta dengan jibab yang menghiasi
kepalannya melihat heran dengan dandanan kami.
“Kami, mencari kerja dulu Bu”.
Jawabku sambil kami berlalu. Kami
berlalu sambil melihat Bu Sumi memberikan senyuman kepada kami. Ia adalah sosok
ibu kami di sini, ia sungguh baik dan menerima kami dengan tangan terbuka.
Sering sekali ia juga memberi kami makanan saat ia memasak makan lebih.
Kami berlalu mencari ke pelosok kampus,
mencari pekerjaan yang pas untuk kami. Sudut kampus kami lalui, kami tanya
bengkel dan restoran barangkali tempat tersebut membutuhkan tenaga kami yang
hanya memiliki ijazah SMA, tetapi kami ditolak mentah-mentah. Kami melanjutkan
perjalanan, sepanjang perjalanan mahasiswa menatap kami, pandangan yang sama
saat dulu naik angkot. Mungkin jarang sekali mereka melihat saudara kembar yang
akur dan kesana kemari selalu bersama. Kami tak menghiraukan, biar saja mereka
seperti itu.
Siang sudah begitu terang, memunculkan
peluh yang begitu deras. Setelah istirahat kami melajutkan perjalanan,
berkeliling sampai kami menemukan sebuah tempat fotocopy. Kami tautkan
pandangan kami pada brosur di depan tempat fotocopy tersebut. Pas dan kebetulan
sekali, mereka sedang membutuhkan dua pekerja, langsung saja kami menawarkan
diri untuk menjadi pekerja di tempat fotocopy tersebut.
Kulepaskan pandanganku pada tempat ini,
cukup besar dan ramai, ada lima mesin fotocopy yang tersusun rapi di sini.
Langsung saja kami menemui bossnya yang bernama Pak Anwar. Ia berkata bahwa,
bekerja di sini yang penting rajin dan ulet, untuk masalah ahli atau tak ahli
tidak masalah, nanti kami akan dibantu untuk bisa mengoperasikan mesin
fotocopy. Kami besyukur, kami langsung diterima untuk bekerja di sini.
Comments
Post a Comment