THE TWIN'S DREAM (Part 10): Amarah
10. Amarah
(Ketika
kau dikuasai amarah bersabarlah, maka saat itu kau seperti api yang diguyur
hujan.)
Tak terasa waktu begitu cepat. Kami
sudah hampir lulus SMA. Tinggal beberapa bulan lagi Ujian Nasional tiba. Siang
itu aku sangat bersyukur karena aku mendapat kabar kesuksesan kakak-kakaku. Kak
Astri akan lulus kuliah kebidanan di kota Manado dan kak Indra juga telah
bekerja di perkantoran elit di Jawa. Aku senang sekali mendengar kabar itu.
Pelajaran saat SMA memang semakin sulit, Toni saja yang terkenal pintar saat
SMP nilainya menurun drastis, apalagi aku, aku harus mati-matian membaca demi
kelulusan ini.
Liburan semester ini kuhabiskan
untuk belajar, belajar dan belajar. Kembali membuka buku dan mengulang kembali
pelajaran merupakan pilihan yang tepat untuk mengisi liburan. Saat sedang
belajar, Toni pulang entah dari mana, dengan menggenggam sebatang rokok, ia
menghisap rokok, dan menghempaskan asapnya ke udara.
“Kamu merokok Ton?”.
Tanyaku kaget, aku kaget melihatnya
merokok. Langsung saja ia membuangnya ke luar rumah, seolah menutupi bahwa ia
sekarang merokok.
“Memangnya kenapa Ron, jangan
terlalu ketus lah, memangnya mengapa kalau merokok?”. Jawab Toni.
Aku menutup buku lantas berdiri di
hadapannya.
“Oh, pantas ya uang yang Mama dan
Papa kirim cepat habis, kamu bilang untuk beli keperluan sehari-hari, ternyata
seperti itu?”.
“Aku tidak perduli Ron, toh Kak Indra sekarang sudah bekerja,
tinggal minta saja beres”. Toni membela diri sambil mendorong tubuhku sampai
terhempas beberapa langkah ke belakang.
“Oh, memang ya setelah kamu mengenal
Rovan kamu menjadi berubah, kamu menjadi sombong, bahkan kamu menjadi malas,
aku kecewa denganmu Ton. Ingat pesan Papa, ingat juga pesan Pak Satria untuk
meraih cita-cita kita”.
Aku sangat kecewa dengan dia.
Beberapa bulan ini ia sangat mengecewakan. Jarang sekali ia membantu pekerjaan
rumah, menjadi malas belajar
dan hasilnya nilainya menjadi turun. Aku menduga sejak ia mengenal Rovan yang
semakin brandal itu, sifat baik dalam dirinya semakin memudar.
“Ah terserah, aku tidak perduli dengan
semua itu, aku yang pegang uang, bebas kan uangnya aku pakai buat apa?!”. Jawab
Toni dengan sombongnya.
“Baik, sekarang lakukan saja semua
kesenanganmu. Kalau kamu terus begini, jangankan jadi TNI jadi kuli saja kamu
tak akan bisa,!!”.
Aku pergi dari rumah, aku berlari tak
tentu arah. Aku sangat muak dengan Toni. Sedangkan dari kejauhan Toni masih
saja memanggilku, aku tak memperdulikannya.
Sore itu aku berjalan, mungkin sudah
satu jam lamanya. Kakiku sangat lelah, tak pernah aku berjalan sampai satu jam.
Sampai kaki ini menuntunku sebuah ke pantai. Pantai ini tak begitu bagus, tak
berpasir putih atau warna air pantai yang berwarna hijau toska, hanya kerikil
dan karang yang berjejer rapi, tetapi bagaimanapun aku suka. Aku sengaja menuju
pantai, karena aku suka sekali dengan pantai, suka dengan suara deburan ombak
dan angin yang menenangkan. Aku juga sering kesini untuk membeli ikan dengan
motor papa yang ia tinggalkan untuk kami.
Mungkinkah aku dapat sedikit lebih
tenang dengan mendengar deburan ombak yang semakin dekat kudengar?. Suaranya
damai sekali, apalagi saat menghempas batu karang dan kemudian kembali lagi ke
laut, dan berulang lagi seperti itu. Aku duduk di batu karang yang besar itu,
menikmati angin semilir yang menyisir rambutku. Kulemparkan berulang kali
kerikil kecil ke tengah laut, barangkali amarahku sedikit teredam.
Saat itu kulihat kumpulan burung camar
yang berterbangan menuju hutan mangrove nan jauh di sana. Kurasa mereka pulang
menuju sarang setelah seharian mencari makan. Sejenak aku terdiam melihat
matahari yang sedikit demi sedikit tenggelam. Warna jingganya yang terpendar
seolah mempertemukan siang dan malam. Aku sempat berfikir apakah siang dan
malam bisa bertemu dan berkata “aku sudah tak rindu”. Seperti rinduku saat ini,
aku rindu keluargaku, aku juga rindu Pak Satria. Melepas rindu dengan menikmati
semua rindu ini. Saat itu sangat menyesal, aku tak mampu menjaga kakaku.
“Papa, Mama Pak Satria aku minta
maaf e”.
Biasanya saat seperti ini aku
menghubungi Papa, ataupun Pak Satria atau hanya untuk sekedar bertukar kabar
yang sering sekali menasehati kami. Tetapi, beberapa bulan ini nomor Pak Satria
tidak aktif dan HP kami rusak. Walaupun kami sudah berpisah dengan Pak Satria
selama lima tahun, kami masih sering berkomunikasi, tetapi saat ini kami
benar-benar kehilangan kontak dengannya. Bila ingat Pak Satria, aku juga ingat
dengan cita-citaku: Polisi.
Mendung di ufuk barat mulai menangis
sangat deras. Aku berlari menuju gubug tua di pinggir pantai. Cepat sekali
hujan turun, padahal beberapa menit yang lalu masih kulihat warna cerah di
langit. Terdengar suara adzan dari kampung muslim di seberang desa. Saatnya
mereka beribadah, teringat Pak Satria yang beribadah sampai lima kali sehari
untuk memenuhi kewajibannya. Suara yang sangat indah, aku menikmatinya dan
melepas lelah di gubug itu. Atap di gubug itu benar-benar hampir nihil. Atapnya
hanya terpal yang berlubang yang rusak diterbangkan sang bayu. Mau tak mau
tubuhku basah kuyup karena hujan senja kala itu sangat deras. Aku lelah, aku
tidur saja. Aku tak peduli betapa basahnya tubuhku atau dingin yang
menggerogoti tubuhku. Ya, aku tidur saja, aku lelah.
****
Saat aku terbangun tubuhku terasa
dingin dan gemetar. Aku baru ingat aku tadi malam kehujanan semalaman. Aku
sentuh dahiku dan terasa sangat panas, kepalaku sangat pusing. Ya, aku sakit.
Aku mecoba sekuat tenaga menegakkanku ke bambu gubuk yang mulai lapuk.
Kusebarkan pandanganku melihat sekeliling. Dari kejauhan kulihat para nelayan
yang sudah mulai melaut, pagi benar mereka melaut sedangkan mentari belum
sempurna tersenyum. Mungkin mereka takut hujan kembali turun, karena di bulan
desember, pukul 10 biasanya sudah turun hujan kembali.
Tubuhku sangat lemas, aku hanya bisa
terduduk di gubug itu untuk beberapa
waktu dan menikmati angin pantai lagi, lagi dan lagi. Dalam benakku aku
bertanya, apakah Toni mencariku, apakah Toni mengkhawatirkanku?. Aku mencoba
berdiri kemudian melangkahkan kaki, mencoba kuat, dan aku putuskan untuk pulang
saja. Aku yakin dia sedang bingung mencariku.
Sejak tadi malam Toni hanya mondar-mandir
mencariku. Ia bertanya ke teman-temanku barangkali aku ke rumah mereka.
Berkeliling desa juga sudah ia lakukan. Toni sangat sedih pagi itu, ia sangat
khawatir denganku. Apalagi sejak tadi siang ia mengetahui bahwa aku belum
makan. Ia menunggu gusar di depan rumah. Sesekali ia berdiri dan duduk kembali.
Ia bertanya-tanya kemana aku pergi.
Sementara aku berjalan lemah,
jalanku terseok dan menyeret. Aku tak mengerti dengan surya yang meninggi yang
membuatku semakin berpeluh. Tak biasanya aku selemah ini, aku tetap berjalan
dengan sekuat tenaga karena masih ada empat desa yang harus kulalui, di tengah
perjalanan hujan pun kembali menyapaku. Aku mempercepat langkahku, berharap aku
bisa cepat sampai rumah dan istirahat. Dengan
sisa tenaga akupun hampir sampai rumah. Benar saja, kulihat Toni menghampiriku
di tengah hujan. Ia terlihat sangat menghawatirkanku, apalagi ia melihat
wajahku yang pucat dan ia sempat mengucapakan kata maaf padaku. Aku tak peduli
dengannya, sisa amarahku pun masih membelenggu. Aku menolak bantuannya dan
berjalan sendiri masuk ke rumah. Belum sampai pintu rumah, pandanganku gelap,
dan aku pingsan. Ku dengar sayup Toni meneriakiku, lalu aku tak ingat lagi.
****
Aku membuka mata, berat sekali rasanya.
Aku sadari tubuhku sudah berada di tempat tidur dan bertengger kompres di
dahiku. Kamarku gelap sekali, terdapat pelita di meja, pasti desaku sedang mati
lampu. Di meja itu juga terhidang sepiring nasi, segelas air minum dan obat.
“ Cepat makan Roni”.
Suara Toni yang mengagetkanku. Ia
sangat menyesal dengan selama ini yang ia lakukan. Ia berjanji tidak akan
mengulanginya dan akan berbuat lebih baik dan tidak akan nakal lagi. Ia juga
menceritakan bahwa ia mencariku kemana-mana.
Aku mencoba menegakkan tubuhku, sambil
makan aku mendengar semua cerita tentang kekhawatirannya. Saat itu yakin bahwa
ia akan benar berubah. Aku melihat sosoknya yang dulu kembali lagi. Sosok kakak
yang dulu aku kenal. Aku sangat bersyukur dan yakin ia telah kembali.
“Aku pukul kamu e, kalau kamu begitu
lagi”.
Aku
menjitak kepala Toni. Ia mengangguk.
“Aku berjanji”.
Comments
Post a Comment