THE TWIN'S DREAM (Part 1) : Inilah Aku


1.      Inilah Aku
(Yang mampu merubahmu adalah dirimu sendiri)

Udara pagi ini begitu menggigit tulangku. Kurapikan kerah seragamku, dan kupakai sepatuku untuk bersiap bersekolah. Setelah beres, kusempatkan untuk sarapan. Jika Mama tak sempat memasak lauk seperti pagi itu, kami hanya makan nasi kosong, di dalam piring hanya ada nasi putih saja. Untuk kebanyakan orang tua, adalah sesuatu yang dilarang, tetapi bagi kami ini merupakan hal yang biasa, namun apapun itu harus ku syukuri. Bahkan jika musim paceklik, sarapan sering kami lewatkan hingga makan siang tiba.
Aku telah siap pergi ke sekolah. Setelah lulus SD, kini kami harus melanjutkan pendidikan ke SMP. Hanya ada satu sekolah paling dekat dengan desaku, tetapi cukup jauh. Waktu itu aku sedang duduk termangu, menunggu kakakku di depan rumahku.
Kenalkan kakakku yang satu ini namanya Toni, ia selalu saja bangun telat, jadinya selalu kesiangan seperti pagi itu. Dengan sedikit mendengus, ingin segera berangkat sekolah sambil menunggu Toni yang masih saja repot dengan seragamnya.
“Hei Toni, Ayo ke sekolah, gelang[1]”. Ajakku.
Gereng[2] cekoe[3] Nana[4]”. Saut Toni.
Toni adalah kakakku, lebih tepatnya saudara kembarku. Dia lahir hanya lima menit lebih cepat dariku. Saat kami lahir, keluarga sangat bahagia karena keluarga kami langsung diberi rejeki dua anak sekaligus. Saat itu keluagaku sangat bahagia, sampai diadakan pesta besar-besaran untuk merayakan kelahiran kami. Aku Roni, kami sebenarnya tidak benar-benar mirip, bedanya hanya terletak di wajah dan tinggi badan kami. Wajah Toni agak lonjong sedangkan aku agak bulat tetapi, untuk masalah tinggi badan Toni lebih tinggi, tetapi saja banyak yang keliru memanggil. Bahkan kakak perempuan kami sering memanggil dengan sapaan “kembar”, tanpa repot-repot memperhatikan wajah kami.
Sejenak kutarik nafas berat. Sampai akhirnya pandanganku beradu pada pak guru yang baru saja keluar dari rumah Om Agus, tetanggaku. Hari ini ku dengar dia akan menjadi guru baru di sekolahku. Dia merupakan guru dari Jawa, lebih tepatnya dari Semarang, Jawa Tengah. Aku sudah tahu, karena ia memutuskan menginap dekat dengan rumah kami, tepatnya hanya terpisah rumah om Kristo, guru itu memutuskan untuk menginap di rumah Om Agus.
Om Agus menerimanya dengan tangan terbuka karena anaknya jauh merantau ke Kalimantan untuk kuliah. Mereka bersedia menjadi orang tua angkat untuk pak guru itu selama di sini. Katanya ia rindu anaknya yang sudah dua tahun ini tidak pulang.
Kulihat pak guru itu juga sudah bersiap untuk ke sekolah, dengan pakaian necis, sepatu fantofel dan tas besar yang bersarang di punggungnya. Ia pamit pada Om Agus dan isterinya kemudian ia menuju sekolah. Pak guru itu pemuda yang berperawakan tinggi, kulitnya bersih sawo matang, dengan kacamata yang mengiasi matanya. Kami mencoba menyapanya saat kami lewat.
“Selamat Pagi Pak”.
Saut ramah dan senyumnya sembari menjawab sapaan kami. Kami masih merasa malu, dan segera berlalu untuk bergegas ke sekolah.
Jalan kaki merupakan pilihan, walaupun jauh, tak pernah muncul rasa lelah. Setengah jam kami lalui sambil menikmati bukit-bukit yang berbaris rapi menemani perjalan ke sekolah. Aku juga melihat sekawanan burung gereja yang melintas di hadapan kami. Mereka terbang dari pohon kemiri menuju pohon mangga yang mulai berbuah. Aku merasa sangat bahagia ketika menikmati indahnya dunia ini, seolah saling melengkapi dan memberikan aroma damai. Sepanjang perjalanan kami juga ditemani anjing kecil kala itu, anjing itu sangat  lucu dengan sedikit corak totol hitam yang menghiasi tubuhnya yang mengibas-ngibaskan ekornya, tanda ia bahagia seolah mengajak bermain. Ia menemani perjalanan kami, sampai kaki ini sampai ke tujuan dan ia berhenti kemudian pergi.
Sekolah kami berada di desa tetangga yaitu desa Paka. Pertama masuk SMP aku sangat bingung dan gusar, dalam pikirannku pasti pelajaran yang kami terima pasti menjadi lebih sulit. Kata kakak perempuanku yang bernama Astri, ia sangat pusing karena ia akan merasakan Ujian Naisional tahun depan, karena kini ia telah duduk di kelas 9. Sebenarnya aku masih punya kakak lagi, namanya Indra. Ia sekarang sedang menempuh pendidikan kuliah di Malang, entah itu Jawa bagian mana, aku tidak tahu.
“SMP Negeri 12 Satarmese”. Sejenak kubaca tulisan yang tertulis gagah di gerbang sekolahku, yang terbuat dari cat sederhana yang ditulis rapi di papan kayu yang tertempel rapi. Sekali kuhela nafas pelan, seraya mengusap peluh yang menetes. Walaupun berkeringat aku tidak pernah merasa lelah, karena menurutku sekolah itu sangat penting. Papaku sempat berkata padaku bahwa aku harus lebih sukses dari beliau, yang hanya bisa menggarap sawah dan kadang menjadi kuli panggul di pasar yang buka hanya setiap hari jumat dan sabtu di pusat kecamatan. Kata beliau “walaupun aku anak bungsu aku tidak boleh manja”.  Ia juga berkata, ia tak mau melihat anak-anaknya terjerumus dalam jurang kebodohan. Aku hanya bisa tersenyum dan memegang kata Papaku, karena inilah aku.
Sekolahku sangat bagus. Sekolah ini sudah hampir tiga tahun berdiri. Dengan atap seng berwarna merah dan cat tembok berwarna hijau tua dipadu dengan warna hijau muda yang membuatku semakin semangat belajar. Sungguh asri sekolahku ini, dengan taman bunga yang tertanam rapi memenuhi sudut sekolah. Aku suka sekali dengan arsitekturnya yang unik. Ada sebagian kelas yang di bawah ada juga yang di atas, jadi terlihat seperti bangunan mewah. Pantas saja sekolahku sangat bagus, katanya sekolahku ini mendapat bantuan dari negara tetangga yaitu Australia, terbukti ada prasasti yang menunjukan ada bantuan dari negara kanguru tersebut. Prasasti itu tertulis nominal miliaran rupiah, karena ada sepuluh angka yang tercetak tebal. Sungguh baik sekali negara itu, sehingga aku bisa merasakan sekolah yang bagus ini.
Aku melihat banyak sekali muridnya, berjajar rapi satu persatu memasuki sekolah dan segera masuk ke kelas. Teman-temanku banyak yang baru, mereka bukan hanya dari desa dekat sekolah, kebanyakan dari mereka berasal dari berbagai macam desa yang jauh dari sekolah. Bukan masalah jauhnya, karena SMP ini merupakan sekolah satu-satunya yang paling mudah di akses yang menjadi pilihan terakhir. Banyak temanku juga harus rela melewati sungai untuk berangkat ke sekolah. Kata teman-temanku itu mereka tak mau berjalan satu jam ke sekolah yang lain, mereka lebih memilih melewati sungai, walaupun taruhannya adalah nyawa. Apalagi jika musim hujan tiba, perasaan khawatir selalu menghinggapi, jika air sungai meluap, mereka harus menunggu sampai air surut.
Guruku juga banyak yang baru, tetapi kelihatannya banyak yang menakutkan, seperti ibu guru itu yang telah berdiri tegap dengan rotan di tangan dan siap memukul untuk memberi hukuman bagi anak yang terlambat. Melihat itu semua aku harus berangkat tepat waktu. Aku tak mau jika rotan mendarat di betisku.
Setelah memasuki gerbang, aku dan Toni mencoba mencari ruangan kami. Aku besyukur, aku satu kelas dengan Toni di kelas 7 C. Kelas 7 di sekolah ini terdapat tiga kelas, begitu pula kelas 8 dan 9 yang muridnya sangat banyak. Satu kelas bisa terisi oleh 42 siswa. Aku duduk dengan Alvin, sahabat kami yang selalu menemaniku. Dia anak yang baik dan tidak pernah membuatku marah. Walaupun dia pendiam, dia selalu mengajakku bermain takraw maupun voli di lapangan dekat desa dan aku sangat bahagia memiliki sahabat seperti dia.
Lonceng pun berbunyi, suaranya berdenting sangat keras, sampai-sampai dari kelasku yang berada paling ujung pun terdengar sangat jelas. Itu tandanya kami harus berkumpul di lapangan karena upacara akan segera dimulai. Bapak kepala sekolah kami: Pak Victor, sangat berpenampilan rapi, dengan kumis tebal yang bertengger di atas bibirnya, ditambah kacamata necis, menambah tegas saat memimpin upacara pagi itu. Dengan menggunakan toak pengeras suara, ia menyampaikan amanat yang mengharuskan kami untuk belajar lebih rajin lagi, dan menjelaskan kepada kami untuk tidak seperti anak-anak lagi.
Suaranya yang lantang membuat kami semua harus mendengarkan baik-baik. Mentari kala itu masih nampak malu di balik bukit. Udara pagi yang dingin khas musim kemarau juga menemani pagi itu. Seolah keduanya membuat semangat dalam tubuhku meluap mendengar amanat yang disampaikan.
Ia juga tak lupa memperkenalkan guru baru itu. Nama guru itu  adalah Pak Satria, nama lengkapnya Satria Ahmad Prasetyo. Ia berasal dari Jawa dan ia mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Selama satu tahun ke depan ia akan mengajar kelas 7 di sekolahku.
“Pak Satria nampaknya baik, semoga ia dapat memberikan pelajaran dengan baik pula”. Pikirku.
Pelajaran pagi itu adalah bahasa Indonesia. Dengan wajah-wajah malu teman-temanku memberi salam pada Pak Satria. Ia nampak berjalan dari ruang guru dengan menenteng setumpuk buku. Kami yang saat itu masih bermain kesana- kemari, lantas menuju ke tempat duduk kami dan menyapanya.
“Selamat pagi Pak”.
Ia menyaut dan memperkenalkan diri. Setelah ia memperkenalkan diri, kami pun diminta juga untuk melakukan hal yang sama. Ia sangat baik, dari caranya berbicara tegas tetapi santai. Kadang juga, ia menyelipkan selera humornya agar suasana tak canggung. Saat itu ia tampak bingung, karena banyak teman-temanku yang memiliki nama yang berbeda dengan nama panjangnya. Contohnya saja temanku yang bernama Emerensiana Banul, entah mengapa ia dipanggil Rati. Ia juga baru sadar kalau aku dan Toni adalah saudara kembar yang tinggal di dekat rumahnya. Tawa dan canda pecah pagi itu menciptakan riah-riuh tawa. Mencairkan suasana perkenalan pertama.
****
Sesampainya di rumah, kami berdua harus mencari kayu bakar untuk memasak seperti biasa. Ranting kayu pohon mahoni kering yang sering kami cari. Tidak usah jauh-jauh, karena banyak pohon mahoni tumbuh menjulang di belakang rumah, tinggal kami cari ranting kering yang berjatuhan atau jika tak ada kami harus memanjatnya. Selepas itu kami menunggu makan siang yang disiapkan oleh Mama. Terlihat beliau sedang memotong daun singkong yang merupakan sayur favoritku.
“Mama, teneng[5] apa Mama?”
“Masak sayur, Nana. Bantu Mama sini”
Masakan mamaku sangat enak, apalagi dengan lauk ikan tongkol dan sambal yang menemani, membuat santap siang itu begitu lahap. Sambal khas dari Manggarai yang terdiri dari potongan tomat segar, dipadu dengan irisan bawang merah dan tentunya lombok Manggarai yang sangat pedas. Banyak yang tidak tahan dengan pedasnya, walaupun ukuran sangat kecil, tapi dapat meledakkan mulut. Bagaimanapun juga aku sangat suka, karena dapat menambah selera makan. Kami mencoba membantunya walau hanya menguleg bumbu, atau sekedar menyiapkan bumbu apa saja yang dimasukkan ke dalam kuali.
 Mamaku sangat hebat, tubuhnya yang mulai menua, tak menyurutkan semangatnya. Setelah pergi ke sawah dan kebun sayur, sorenya ia juga memberi makan hewan-hewan ternak. Keluarga kami memiliki sawah yang cukup luas, kebun berbagai macam sayur dan beberapa hewan ternak yaitu 2 sapi dan 3 babi yang masih kecil-kecil. Rasa syukur selalu kami panjatkan, bagaimanapun keadaan kami.
****
Sore hari itu begitu menyita waktu kami dengan membantu Mama untuk memberi makan ternak. Jika Alvin tak disuruh orang tuanya untuk mencari kayu, kadang aku juga mengajaknya, seperti sore itu. Mencari rumput yang meninggi di lapangan desa, kemudian memotong batang pisang untuk makan babi. Saat malam tiba, kami habiskan untuk mengerjakan PR bersama-sama. Kebetulan, malam itu Pak Satria berkunjung ke rumahku, ia tampak sudah mulai mengenal warga desa, menurutnya orang Manggarai sangat ramah. Katanya ia heran ketika selalu ada senyum setiap bertemu ataupun sedang bercengkrama. Ia heran karena, tak ia temukan suasana seperti itu di kota.
Bukan Manggarai kalau masyarakatnya tidak senyum, karena menurut kami, hanya sedikit senyum saja dapat mencairkan suasana. Setelah beberapa minggu di sini Pak Satria juga terlihat akrab dengan masyarakat dan murid-muridnya yang ada di desa ini. Di desa ini ada delapan anak yang menjadi muridnya. Kami berdua, Alvin, Eldis, Angel, Riano, Aldo dan Kak Astri yang merupakan kakak perempuanku tetapi, kami berdualah yang paling dekat. Kami yang paling akrab, karena kami sering bermain ke rumahnya ataupun sebaliknya walau hanya sekedar minum kopi, kadang juga kami habiskan waktu untuk belajar bersama.
Pelajaran bahasa Indonesia nampaknya sangat sulit, banyak hafalan dengan banyak materi membuatku harus menguras otak. Apalagi, dua hari lagi Pak Satria memberikan ujian harian. Dalam hal menghafal, aku mengalami kesulitan. Dulu saat SD aku pernah mendapat nilai 5 dalam menghafal sebuah dongeng. Beda sekali dengan Toni, dalam pelajaran matematika saja ia libas apalagi bahasa Indonesia, ia selalu mendapat nilai bagus, sedangkan aku pasti hanya mendapat nilai pas-pasan. Kadang aku merasa minder dengannya, sering dulu ia mendapat rangking 3 besar, sedangkan aku untuk mendapat posisi sepuluh besar sangat kesulitan. Namun, dalam keiri-anku aku harus berusaha mati-matian mendongkrak nilaiku.
****
Hari yang ditunggu pun tiba. Sebelumnya, kami sibuk untuk mempelajari pelajaran yang pernah diberikan, yaitu tentang puisi, syair dan pantun. Kami pun harus mengahafal ciri-ciri dan cara membuatnya. Sebenarnya, Pak Satria sukses dalam mengajar kami, tetapi banyak temanku yang tidak memperhatikan saat pelajaran. Apalagi saat pelajaran banyak temanku yang ribut dan bicara sendiri. Alhasil banyak temanku yang tidak mengerti. Kadang Pak Satria sering marah, tetapi ia mencoba sabar dan bisa mengatur suasana yang ramai, sehingga teman-teman bisa memperhatikan kembali. Semalam saja aku menghafal dengan serius, sampai-sampai Mama menyuruhku untuk istirahat karena sudah terlalu larut malam.
Suasana kelas sangat serius, seraya Pak Satria memberikan soal yang membuat kelas langsung sunyi sepi. Tak ada keributan sedikit pun, yang ada hanya wajah-wajah serius teman-temanku yang mencari jawaban yang tepat untuk soal yang telah diberikan.
“Karena waktu sudah habis, sekarang dikumpulkan semua jawaban kalian ke depan”
Sampai waktu yang telah diberikan habis, mereka masih menunjukan wajah bingung. Perintah Pak Satria sangat mengagetkan. Mau tak mau, selesai ataupun belum selesai harus kami kumpulkan segera. Sekarang kami tinggal menunggu nilai untuk kami. Seraya menunggu, aku membuka kembali buku catatanku. Kubuka materi demi materi, tetapi sayangnya kutemukan banyak sekali kesalahanku, ada yang salah, ada pula yang kurang lengkap. Perasaan pesimis seketika berkecamuk di pikiranku.
Benar saja, aku memang selalu kalah dengan Toni, ujian Bahasa Indonesia kami sudah dibagikan, ia mendapat nilai 95 dan aku hanya mendapat nilai 78. Aku memandang kertas ujianku yang kuremas kusut dan mencari di mana kesalahanku dan mencoba memperbaikinya. Saat seperti ini kadang aku juga tak suka dengan Toni karena ia sering mengejekku kalau nilaiku lebih rendah dari nilainya seperti saat ini.
“Kalau ada ujian lagi pasti lebih baik kok”.
Sambil menepuk pundakku, Alvin memberikan semangatnya. Alvin selalu baik, ia selalu tahu suasana hati ku, padahal ia sendiri mendapatkan nilai yang kurang, bahkan harus mengikuti ujian remidial. Ia seolah menjelma menjadi motivator untukku, padahal nilainya selalu di bawahku dan hanya mendapat nilai 70. Yang membuatku terkesan adalah bukan hanya sekedar kata-kata penyemangatnya, tetapi ia selalu mengajakku belajar bersama.
Saat membagikan ujian Pak Satria memberikan semangatnya. Bahwa berapa pun nilai yang didapat kali ini, pada ujian selanjutnya harus lebih baik daripada yang saat ini, karena setiap kesalahan tak boleh terulang kembali. Semangatku meluap seketika. Aku harus lebih baik lagi dan bisa mengejar nilai Toni.


[1] Cepat
[2] Tunggu
[3] Sebentar
[4] Panggilan untuk anak laki-laki
[5] Memasak

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Wirosari Gumregah (Wirosari Bangkit)

Bledug Kuwu Si Mud Volcano dan Cerita Si Dragon Baru Klinting

THE TWIN'S DREAM (Part 16): Keberhasilan